Saham China ditutup anjlok, terseret batu bara dan pembangkit listrik

Saham China ditutup anjlok, terseret batu bara dan pembangkit listrik

Ilustrasi: Sejumlah investor memantau pergerakan indeks harga saham melalui rumah pialang, di Shanghai, China. ANTARA/REUTERS/Aly Song/aa.

Kami percaya risiko gagal bayar dan kelemahan pasar properti sebagian besar telah diperhitungkan ke dalam saham properti
Shanghai (ANTARA) - Saham-saham China ditutup lebih rendah pada perdagangan Selasa, terseret oleh sektor batu bara dan pembangkit listrik, sementara perusahaan properti naik setelah analis menunjuk kemungkinan pelonggaran kebijakan untuk mendukung sektor yang bermasalah itu.

Indikator utama Bursa Efek Shanghai, Indeks Komposit Shanghai terpangkas 1,25 persen atau 44,77 poin menjadi menetap di 3.546,94 poin, sedangkan indeks saham unggulan CSI300 turun 1,06 persen atau 52,35 poin menjadi berakhir di 4.883,84 poin.

Sub-indeks batu bara jatuh 2,2 persen karena China meningkatkan upaya-upaya untuk meningkatkan produksi batu bara di tengah kekurangan pasokan, yang telah menyebabkan krisis listrik terburuk di China dalam beberapa tahun.

China akan menetapkan jadwal dan peta jalan untuk memenuhi target emisi karbonnya, dan memperbaiki praktik pemadaman listrik dan batas produksi “satu ukuran untuk semua” di beberapa area, TV pemerintah mengutip Perdana Menteri China Li Keqiang pada Senin (11/10/2021).

Baca juga: Saham Asia jatuh, tertekan krisis energi global dan khawatir inflasi

Perencana negara China mengatakan pada Selasa bahwa mereka akan sepenuhnya meliberalisasi harga listrik yang dihasilkan dari batu bara dan bahwa pengguna industri dan komersial semua harus membeli dari pasar.

Saham pembangkit listrik turun, menyeret sub-indeks utilitas merosot 2,4 persen. Saham logam non-besi, kimia dan perusahaan baja turun antara 2,8 persen dan 3,8 persen.

Sektor semikonduktor, infrastruktur, media, dan broker masing-masing turun lebih dari 2,5 persen.

Melawan tren, perusahaan real estat terangkat 1,5 persen.

"Kami percaya risiko gagal bayar dan kelemahan pasar properti sebagian besar telah diperhitungkan ke dalam saham properti," kata Morgan Stanley dalam sebuah catatan. “Mengingat melalui penilaian dan kemungkinan pelonggaran kebijakan, kami percaya risiko-imbalan menguntungkan pada level saat ini.”

Baca juga: Saham Korsel ditutup jatuh tertekan inflasi, KOSPI susut 1,35 persen
 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar