PON Papua

Aceh dan Jabar mendominasi empat nomor seni gerak tarung derajat

Aceh dan Jabar mendominasi empat nomor seni gerak tarung derajat

Atlet tarung derajat putra Aceh M Iqbal (kanan) dan Juanda (kiri) beraksi pada final tarung derajat putra kelas seni gerani tarung PON Papua di GSG Eme Neme Yauware, Kabupaten Mimika, Papua, Selasa (12/10/2021). Aceh berhasil meraih medali emas, sementara medali perak diraih Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan meraih medali perunggu. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/tom.

Kabupaten Mimika (ANTARA) - Tim tarung derajat Aceh dan Jawa Barat mendominasi empat nomor seni gerak yang dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua.

Sang Guru Badai Meganagara Dradjat mengatakan kontingen Aceh menyabet tiga medali emas dari nomor seni gerak tarung putra, gerak tarung campuran, dan gerak bertahan menyerang dua arah (gharang), sedangkan Jawa Barat meraih satu medali emas dari nomor rangkaian gerak (ranger) tarung putri.

"Aceh mendapatkan tiga emas, dari seni gerak jurus bertahan menyerang dua arah tiga orang itu Aceh, gerak tarung putra dan campuran berpasangan juga Aceh, sedangkan rangkaian gerak tarung putri berpasangan itu Jawa Barat," kata Badai saat ditemui di Gedung Serba Guna Eme Neme Yauware Mimika, Papua, Selasa.

Khusus pertandingan seni gerak tersebut, penilaian langsung dilakukan oleh Sang Guru Badai Meganagara Dradjat dan Sang Guru Rimba Dirgantara Dradjat. Adapun tiga besar hasilnya dipertandingkan lagi pada babak final.

Aceh menempati peringkat satu lewat penampilan atletnya Muhammad Iqbal Ismail dan Juanda di nomor gerak tarung putra.

Iqbal dan Juanda juga kembali menjadi yang terbaik saat tampil bersama Teta Arum Darandi dan Rika Handayani di nomor gerak tarung campuran, serta bersama Imran di nomor gharang putra.

Sementara Jawa Barat menjadi yang terbaik lewat penampilan Putri Desiyanti, Ridha Fauziah, dan Eriska Agustina.

Badai menjelaskan bahwa penilaian seni gerak itu ada tiga, yakni penilaian gerakan pembuka, gerakan inti, dan gerakan penutup.

Penilaian gerakan pembuka dan penutup itu dilakukan langsung, sementara penilaian gerakan inti tidak bisa langsung dilakukan dalam satu kali penglihatan.

Sebab, pada saat penilaian gerakan inti, Sang Guru Badai dan Sang Guru Rimba harus melihat sejauh mana kesempurnaan gerakan tangan (pukulan), gerakan kaki (tendangan), dan kekompakan gerak masing-masing anggota tim.

Sehingga untuk menilainya, mereka harus melihat lagi gerakan inti dalam tayangan ulang yang direkam oleh kamera.

"Jadi, dua kali penilaian. Penilaian pada saat melihat penampilan dan penilaian pada saat melihat rekaman dari kamera," kata Badai.

Ia mengatakan Aceh unggul dari finalis-finalis lain kalau dilihat dari segi teknik beladiri. Karena sewaktu mereka tampil, gerakannya lebih mengalir dan sedikit dalam membuat jeda antar-gerakan.

Selain itu, Aceh juga menggunakan pisau asli yang bisa menusuk dan menimbulkan cedera. Tapi, risiko cedera itu justru tidak terjadi ketika mereka tampil di atas matras sehingga menambah keunggulan nilai mereka.

"Berarti nilai beladiri mereka itu tinggi. Terpikir enggak kalau pisau itu menjadi suatu tragedi di pertandingan. Tapi mereka mampu menghindari, wah nilai besar itu. Ini yang dimaksud dengan beladiri," kata Badai.

Kontingen Aceh yang bertanding pada nomor ranger putri saat melakukan gerak tarung campuran dianggap mampu mengimbangi kecepatan dan kelincahan gerakan yang dilakukan petarung seni gerak putra.

Adapun tim rangkaian gerak (ranger) tarung putri Jawa Barat, menurut Badai, mampu unggul dari segi variasi jurus dalam satu kali tahapan pergerakan.

Berikut hasil perolehan nilai seni gerak:

Getar Putra:
1. Aceh = 772
2. Jateng = 766
3. Sulsel = 759

Ranger Putri:
1. Jabar = 921
2. Jateng = 863
3. Aceh = 855

Gharang Putra:
1. Aceh = 871
2. Sulsel = 801
3. Jateng = 662

Getar Campuran:
1. Aceh = 881
2. Sulsel = 729
3. Jabar = 640

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Dampak ekonomi PON & Peparnas capai Rp1,6 triliun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar