Trigeminal neuralgia bisa disembuhkan dengan tindakan PRFR

Trigeminal neuralgia bisa disembuhkan dengan tindakan PRFR

Ilustrasi - Seorang pasien. RODNAE Productions dari Pexels.

Di saat itulah dapat dilakukan radio frekuensi dengan risiko komplikasi yang lebih rendah
Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis bedah saraf dr. Mustaqim Prasetya, Sp.BS FINPS mengatakan trigeminal neuralgia--kondisi nyeri wajah sebelah akibat kelainan pada saraf trigeminal--dapat disembuhkan dengan tindakan non-pembedahan, salah satunya dengan teknik Percutaneous Radio-Frequency Rhizotomy (PRFR).

“PRFR merupakan salah satu alternatif yang terbaik. Teknik ini mengurangi sensitivitas saraf trigeminal dengan cara pemanasan menggunakan radio frekuensi. Ini tindakan pengobatan nyeri tanpa pembedahan,” kata Mustaqim dalam webinar yang diadakan oleh Klinik Utama dr. Indrajana pada Rabu.

Ia menjelaskan melalui tindakan PRFR, cabang saraf trigeminal akan dirusak secara terkontrol atau hanya sebagian kecil saja dengan suhu tinggi yang bisa menghalangi hantaran nyeri dari kulit ke otak. Tingkat suhu tersebut, kata Mustaqim, menurut penelitian dikatakan aman dan tidak menyebabkan kerusakan saraf berat.

Dengan panduan sinar X, tenaga medis akan mencari lokasi di dasar tengkorak atau tempat keluarnya saraf dengan menggunakan jarum khusus.

Baca juga: Mengenal trigeminal neuralgia, nyeri wajah yang picu pasien bunuh diri

Mustaqim mengatakan tindakan PRFR memiliki beberapa keuntungan, mulai dari proses cepat, dapat segera dilakukan, biaya lebih terjangkau, sarana lebih sederhana, risiko minimal, tanpa rawat inap, dan tanpa pembedahan.

Tindakan PRFR dapat dilakukan untuk pasien trigeminal neuralgia dalam beberapa kasus, seperti tidak memungkinkan untuk dilakukan pembedahan karena usia tua, belum siap atau menolak operasi, pembedahan gagal atau nyeri muncul kembali, serta kasus serangan nyeri akut yang berat.

“Untuk beberapa kasus yang kemudian dioperasi tapi muncul lagi, operasi pengulangan secara terus menerus itu akan sangat berbahaya karena ada perlengketan. Tingkat komplikasi risikonya meningkat. Di saat itulah dapat dilakukan radio frekuensi dengan risiko komplikasi yang lebih rendah,” kata dokter yang juga berpraktik di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional itu.

Bahkan, dalam beberapa kasus pasien perempuan hamil yang menderita trigeminal neuralgia juga dapat melakukan tindakan dan pengobatan dengan PRFR.

“Tindakan ini pernah kami lakukan pada pasien perempuan hamil. Kami mengetahui bahwa obat-obat anti-epilepsi itu kalau dikonsumsi lama pada perempuan hamil bisa menyebabkan risiko gangguan pada janin. Waktu itu kami diskusikan, apa yang mungkin dilakukan, akhirnya yang paling mungkin adalah tindakan PRFR dengan melindungi bagian perutnya dengan lapisan anti-radiasi,” terang Mustaqim.

Baca juga: Kenali trigeminal neuralgia, nyeri wajah yang bisa picu depresi

Ia menyebutkan efektivitas keberhasilan tindakan PRFR sekitar 86 persen meski hal tersebut juga bergantung pada standar setiap pusat pengobatan yang memiliki angka bervariasi.

Mustaqim mengatakan pada dasarnya setiap jenis pengobatan tidak menjamin seratus persen permanen dan bisa saja pasien mengalami kekambuhan. Oleh sebab itu, ia menyarankan setiap pasien trigeminal neuralgia perlu kontrol rutin dan berkonsultasi kepada dokter.

“Untuk menjawab permanen atau tidak, kami butuh statement besar dengan penelitian yang besar, data semua pasien PRFR harus dikumpulkan dan dievaluasi,” ujarnya.

Ia menyebutkan penyakit trigeminal neuralgia seperti puncak gunung es atau masih sedikit orang yang menyadari dan melakukan pengobatan hingga kontrol jangka panjang.

Selain itu, ia juga mengatakan faktor regenerasi saraf serta faktor lainnya juga dapat memicu pasien kembali merasakan nyeri trigeminal neuralgia.

“Setiap manusia punya kemampuan untuk menyembuhkan diri termasuk saraf, meski berbeda-beda kecepatannya. Pada beberapa orang ketika sarafnya mengalami regenerasi maka muncullah nyeri ulang, saat itu mungkin kita butuh tindakan berulang. Variasinya ada yang dari 6 bulan sampai 3 tahun hilang nyerinya. Tapi ada juga yang sesudah kembali ternyata nyerinya tidak muncul,” katanya.

Ia menggaris bawahi bahwa faktor seperti stres, keletihan, banyak pikiran, bahkan euforia, juga bisa memicu impuls nyeri dengan lebih kuat meski telah menjalani tindakan dan pengobatan.

“Pada kondisi itu, tekanan darah dan denyut nadinya ikut meningkat, hal ini juga menyebabkan pembuluh darah seperti menggedor saraf lebih kuat. Kalau seperti itu biasanya harus relaksasi untuk lebih tenang supaya nyerinya bisa hilang sendiri,” ujarnya.

Baca juga: Begini cara mengobati nyeri wajah trigeminal neuralgia

Baca juga: Hipertensi bisa picu munculnya trigeminal neuralgia

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar