Indeks risiko bencana di Sulbar capai 166,49 persen

Indeks risiko bencana di Sulbar capai 166,49 persen

Sekretaris Provinsi Sulbar Muhammad Idris. (ANTARA/HO/Diskominfo Sulbar)

Artinya yang paling rentan terhadap risiko
Mamuju (ANTARA) - Indeks risiko bencana di Provinsi Sulawesi Barat mencapai 166,49 persen atau tertinggi dari 34 provinsi di Indonesia, kata Sekretaris Provinsi Sulawesi Barat Muhammad Idris.

"Sulbar menduduki poin tertinggi, artinya yang paling rentan terhadap risiko dan literasi soal kebencanaan kita juga yang sangat rendah," kata Muhammad Idris, di Mamuju, Kamis.

Penegasan itu disampaikan Muhammad Idris saat workshop diseminasi pengkajian kebutuhan pascabencana (Jitupasna) dan penyusunan Rencana Rehabilitasi Rekonstruksi Pascabencana (R3P) gempa bumi Sulbar.

Sekprov menjelaskan, ada tiga hal yang harus menjadi kesadaran bersama tentang persentase angka indeks tersebut, yakni pertama hazard dari alam, kedua melihat dari kejadian kebencanaan yang selalu berulang seperti gempa bumi, banjir bandang, longsor dan lain sebagainya serta ketiga kapasitas masyarakat.

"Menjelaskan kapasitas tersebut cakupannya juga terbilang luas, karena berbicara soal siapa yang ikut berperan di dalamnya untuk menangani kebencanaan dengan baik, seperti kapasitas aparaturnya, kapasitas masyarakatnya dan kapasitas usaha-usahanya," terang Muhammad Idris.

Karena Sulbar daerah rawan bencana, sehingga ke depannya pemerintah setempat lanjut Muhammad Idris, akan memastikan perusahaan yang ingin bermitra dan mengembangkan investasinya di Sulbar harus menyediakan unit-unit khusus, yang menangani secara khusus sadar kebencanaannya.

"Makanya, ini juga yang saya ingin titipkan kepada perusahaan-perusahaan sawit untuk ke depannya. Jangan hanya mengambil minyak dari sini, tetapi ada perhatian yang harus mereka kembangkan bahwa mereka itu adalah para pemodal yang melakukan bisnis, yang juga peduli dengan posisi Sulbar sebagai daerah yang sangat beresiko tinggi terhadap kebencanaan," papar Muhammad Idris.

Terkait literasi dan penanganan bencana, Sekprov menekankan, harus banyak belajar dari luar negeri seperti Jepang.

Sehingga ia berharap kepada peserta workshop untuk mengikuti materi dengan serius.

"Saya percaya bahwa kalau kita bicara mengenai Jitupasna khususnya untuk mendorong kesempurnaan R3P kita itu," ucapnya.

"Inshaa Allah kita akan mendapatkan manfaat yang baik dari workshop ini dan saya yakin kehadiran anda di sini tidak akan sia-sia, karena kita selalu berbicara mengenai perspektif ke depan yang belum pernah kita alami, secara sistematik menjadi dialami," jelas Muhammad Idris.

Baca juga: Sulbar integrasikan kampung tangguh bencana-kawasan ramah lingkungan

Baca juga: Perencanaan pembangunan Sulbar diminta perhitungkan dampak bencana

Baca juga: Mitigasi bencana, pembangunan 6 sumur bor di Sulawesi Barat rampung

 

Pewarta: Amirullah
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Antisipasi risiko bencana, BNPB minta kenali ancaman hidrometeorologi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar