Panti asuhan di Kabul berjuang memberi makan anak yatim piatu

Panti asuhan di Kabul berjuang memberi makan anak yatim piatu

Samira, 9 tahun, berpose di ruang tamu panti asuhannya di Kabul, Afghanistan, 10 Oktober 2021. Dia ingin menjadi dokter saat besar nanti. Dia menyadari bahwa untuk mencapai cita-citanya, dia mungkin harus pergi ke luar negeri. "Saya tidak diizinkan belajar di sini". ANTARA/Reuters/as.

Kabul (ANTARA) - Direktur program sebuah panti asuhan besar di Kabul, Ahmad Khalil Mayan, mengatakan bahwa dia terpaksa mengurangi jatah buah dan daging untuk anak-anak asuhnya.

Hal itu dilakukan Ahmad karena panti asuhan yang dikelolanya itu kehabisan uang.

Selama dua bulan terakhir, sejak Taliban menguasai Afghanistan dan bantuan jutaan dolar tiba-tiba dihentikan, Ahmad menelepon dan mengirim surat elektronik berulang kali kepada para donatur, baik asing maupun lokal, yang sebelumnya membantu dia.

"Sayangnya, kebanyakan dari mereka telah meninggalkan Afghanistan. Donatur dari dalam negeri, pihak asing, maupun kedutaan telah meninggalkan negara ini. Ketika saya menelepon atau mengirim email kepada mereka, tidak ada yang menjawab saya," kata Ahmad.

"Kami sekarang mencoba menjalankan panti asuhan dengan sedikit uang dan dengan sedikit makanan," tambahnya.

Sekitar 130 anak berusia tiga tahun ke atas tinggal di Shamsa Children's Village, panti asuhan yang telah beroperasi lebih dari satu dekade dan menyediakan tempat berlindung bagi anak-anak yang kehilangan orang tua.

Baca juga: Taliban berencana buka kembali SMA buat perempuan

Di antara mereka adalah Samira, anak perempuan berusia sembilan tahun asal provinsi Badakhshan di timur laut Afghanistan. Dia telah berada di panti asuhan itu selama hampir dua tahun sejak ayahnya meninggal dan ibunya tidak punya penghasilan untuk menghidupi anak-anaknya.

Pada suatu hari yang sejuk di Kabul, Samira berada di tempat bermain bersama teman-temannya. Senyumnya lebar saat bermain ayunan.

Meskipun usianya masih muda, Samira yang bercita-cita menjadi dokter sudah mengambil kelas tambahan di sekolah.

"Saya ingin mengabdi pada Tanah Air saya dan menyelamatkan orang lain dari penyakit, dan saya juga ingin anak-anak perempuan lain belajar sehingga mereka menjadi dokter seperti saya di masa depan," katanya sambil tersipu.

Panti asuhan seperti Shamsa memainkan peran besar di Afghanistan, di mana puluhan ribu warga sipil tewas dalam perang selama lebih dari 40 tahun.

Kekurangan dana membuat Ahmad Khalil menghadapi pilihan yang sulit.

Baca juga: Qatar desak Taliban hormati hak perempuan

Panti asuhan mencoba mengirim beberapa anak kembali ke kerabat mereka yang relatif mampu, tetapi satu per satu mereka telah kembali.

Ahmad mengatakan panti asuhan harus mengurangi porsi makanan dan membatasi jenis makanan yang dimakan anak-anak.

"Sebelumnya kami memberi mereka buah dua kali seminggu dan daging dua kali seminggu, tetapi kami menguranginya hanya sekali seminggu," kata dia.

Ahmad Khalil juga mengatakan batas penarikan uang tunai mingguan dari bank sebesar 200 dolar AS menambah masalah bagi panti asuhan.

Dana sebesar itu tidak cukup untuk operasional panti asuhan, kata dia.

Dia khawatir jika situasi seperti ini terus berlanjut, panti asuhan itu tidak akan mampu bertahan lebih lama.

Samira, si calon dokter, masih bisa bersekolah di luar panti asuhan dan mengikuti kelas tambahan di sore hari agar pendidikannya terus maju.

Kesulitan tidak meruntuhkan tekadnya, namun dia juga menyadari bahwa untuk mencapai cita-citanya itu, dia mungkin harus pergi ke luar negeri.

"Saya tidak boleh belajar di sini."

Sumber: Reuters

Baca juga: Taliban izinkan perempuan Afghanistan belajar, tapi kelasnya dipisah
Baca juga: "Suara kesunyian" orkestra perempuan Afghanistan

UNHCR berjibaku bantu pengungsi Afghanistan di musim dingin


 

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Anton Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar