Afrika Selatan hanya beri satu dosis vaksin Pfizer pada remaja

Afrika Selatan hanya beri satu dosis vaksin Pfizer pada remaja

Petugas kesehatan mendampingi pasien di dalam tenda yang dipasang di lapangan parkir Rumah Sakit Akademi Steve Biko, ditengah penguncian nasional akibat wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Pretoria, Afrika Selatan, Senin (11/1/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Siphiwe Sibeko/HP/djo

Layanan ini akan dimulai pada 20 Oktober untuk memungkinkan persiapan sistem pendaftaran berbasis sistem data vaksinasi elektronik (EVDS) dan juga persiapan logistik lainnya
Cape Town (ANTARA) - Afrika Selatan akan memulai memvaksinasi anak-anak dengan rentang usia 12 hingga 17 tahun pada pekan depan menggunakan vaksin Pfizer, kata Menteri Kesehatan Afsel Joe Phaahla, Jumat.

Langkah tersebut merupakan upaya pemerintah Afsel untuk meningkatkan penyuntikan vaksin menjelang ujian akhir.

Pada Agustus, antrean ratusan warga Afsel mengular demi mendapatkan suntikan vaksin saat pemerintah menyediakan vaksinasi untuk orang dewasa.

Pemerintah Afsel telah menargetkan memvaksinasi 70 persen dari populasi orang dewasa pada Desember mendatang.

“Layanan ini akan dimulai pada 20 Oktober untuk memungkinkan persiapan sistem pendaftaran berbasis sistem data vaksinasi elektronik (EVDS) dan juga persiapan logistik lainnya,” kata Menkes Phaahla.

Pada September, regulator kesehatan Afsel telah menyetujui vaksin Pfizer untuk digunakan pada anak-anak berusia 12 tahun atau lebih. 

Baca juga: Presiden: Johnson & Johnson akan kirim 2 juta dosis vaksin ke Afsel

Izin itu keluar saat Afsel menjadi negara paling terdampak di benua Afrika dari segi kematian dan infeksi secara umum yang muncul dari gelombang ketiga pandemi.

Namun, Phaahla mengatakan bahwa atas saran dari komite penasihat vaksin, pemerintah memberikan vaksin pada remaja hanya satu dosis dari yang normalnya dua dosis lantaran kekhawatiran akan pengaruhnya terhadap jantung.

“Jadwal pemberian dosis kedua akan diinformasikan lebih lanjut terkait efek samping yang jarang diamati ini yang tidak memiliki risiko permanen,” ujar Phaahla menyoal kasus miokarditis sementara.

Ia menambahkan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan untuk memberikan suntikan booster pada tenaga medis yang berisiko tinggi.

Mereka sebelumnya telah menerima dosis pertama vaksin J&J delapan bulan yang lalu.

Dewan Penelitian Medis Afsel sudah mengajukan kepada regulator untuk mempertimbangkan menyetujui penggunaan suntikan booster J&J karena vaksin itu dinilai berpotensi menguatkan imunitas para pekerja medis.

“Kami akan menunggu hasil dari pengajuan ini,” kata Phaahla.


Sumber: Reuters

Baca juga: EU: Impor vaksin J&J dari Afsel adalah untuk sementara

Baca juga: Afsel kurangi pembatasan, miras dijual lebih bebas

​​​​​​​
​​​​​​​

RI terima 1,19 Juta dosis Vaksin Pfizer kedua

Penerjemah: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar