Serangan di Norwegia gunakan senjata tikam, bukan busur panah

Serangan di Norwegia gunakan senjata tikam, bukan busur panah

Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Stoere (Partai Buruh) meletakkan bunga dan menyalakan lilin saat melakukan lawatan ke Kongsberg, Norwegia, pada Jumat (15/10/2021) pascaserangan maut. ANTARA/Terje Bendiksby/NTB/via REUTERS/tm

Lima orang tewas akibat senjata tikam,
Oslo (ANTARA) - Lima orang yang tewas di sebuah kota kecil di Norwegia pekan lalu semuanya ditikam dan bukan ditembak dengan busur dan anak panah seperti yang diduga sebelumnya, ungkap polisi pada Senin (18/10).

Empat perempuan dan satu pria berusia 52-78 tahun tewas dalam serangan 13 Oktober di Kota Kongsberg, yang berjarak sekitar 70 km dari Ibu Kota Oslo.

Tiga orang lainnya mengalami luka, termasuk seorang polisi yang sedang bertugas. Polisi tersebut ditembak dengan busur dan panah pada awal serangan yang berlangsung selama 35 menit itu. 

Namun, pelaku tampaknya membuang senjata itu, kata penyelidik.

"Lima orang tewas akibat senjata tikam," ungkap inspektur polisi Per Thomas Omholt saat konferensi pers.

Ia menolak menyebutkan jenis-jenis senjata yang digunakan pelaku, apakah pisau atau senjata lebih besar.

"Sejumlah orang dibunuh di dalam rumahnya sendiri, yang lainnya di tempat umum," kata Omholt.

Baca juga: Pria bersenjatakan panah tewaskan lima orang di Norwegia

Pada Rabu pekan sebelumnya, polisi mengatakan seorang pria "bersenjatakan" busur dan anak panah melakukan pembunuhan. Mereka lantas menambahkan bahwa senjata-senjata lain juga digunakan dalam kejadian itu.

Omholt tidak menjelaskan alasan dirinya membutuhkan enam hari untuk mengklarifikasi senjata yang digunakan.

Para saksi mata menceritakan kepada Reuters bagaimana mereka menyelamatkan diri saat serangan terjadi.

Tersangka tunggal dalam kasus tersebut, yang disebut polisi bernama Espen Andersen Braathen, 37 tahun, diyakini oleh penyelidik mengalami gangguan mental dan saat ini ditahan di rumah sakit jiwa. 

Jumlah korban tewas itu menjadi yang terbanyak dalam sejarah Norwegia sejak 2011, ketika ekstremis sayap kanan Anders Behring Breivik membantai 77 orang, yang mayoritas adalah adalah kaum remaja di sebuah perkemahan pemuda.

Sumber: Reuters

Baca juga: Inggris tingkatkan pelindungan anggota parlemen pascapenusukan

Baca juga: Penusuk di kereta Tokyo mengaku ingin bunuh "wanita bahagia"


 

Presiden Joko Widodo kecam aksi teror

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar