Pasar saham Asia mengikuti Wall Street lebih tinggi, China "rebound"

Pasar saham Asia mengikuti Wall Street lebih tinggi, China "rebound"

Pejalan kaki melintas di depan layar elektronik pergerakan Indeks Nikkei di Bursa Efek Tokyo, Jepang. ANTARA/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/am.

Pasar Asia secara umum mengikuti Wall Street dan melanjutkan rebound - kecuali kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi China yang mengganggu kinerja pasar
Hong Kong (ANTARA) - Saham-saham Asia menguat pada perdagangan Selasa pagi, didukung reli di sebagian besar Wall Street yang didorong oleh saham teknologi, dan rebound di pasar China sehari setelah data yang lemah meningkatkan kekhawatiran investor tentang ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Dolar berada di bawah tekanan karena data pabrik AS yang lemah meredam ekspektasi tentang kenaikan suku bunga jangka pendek.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,76 persen pada Selasa pagi. Indek telah naik sekitar 5,0 persen sejak level terendah 12-bulan pada 5 Oktober, sebagian besar sejalan dengan reli serupa di saham dunia menyusul pembukaan yang kuat untuk musim laporan laba AS.

Namun, indeks-indeks acuan Asia masih jauh dari levelnya pada akhir Juli, ketika serangkaian perubahan peraturan di China mengguncang pasar. Indeks acuan Nikkei Jepang naik 0,56 persen.

"Pasar Asia secara umum mengikuti Wall Street dan melanjutkan rebound - kecuali kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi China yang mengganggu kinerja pasar," kata Edison Pun, Analis Pasar Senior di Saxo Markets.

Saham-saham unggulan China membalikkan kerugian sebelumnya menjadi naik 0,62 persen pada Selasa, setelah jatuh 1,1 persen pada Senin (18/10) ketika China melaporkan pertumbuhan produk domestik bruto melambat pada kuartal ketiga.

Ada juga kenaikan di Hong Kong yang terangkat 1,21 persen, Australia menguat 0,2 persen, dan Korea Selatan 0,63 persen lebih tinggi. Indeks berjangka saham AS, e-mini S&P 500 juga menguat tipis 0,08 persen.

Semalam, indeks S&P 500 terangkat 0,34 persen dan Nasdaq berakhir naik 0,84 persen, sementara Dow turun 0,1 persen, dirugikan oleh data pabrik yang lebih lemah.

Saham Apple, Facebook, dan Microsoft termasuk di antara dorongan terbesar untuk S&P 500.

Di pasar mata uang, dolar melemah di dekat bagian bawah kisaran baru-baru ini terhadap mata uang utama pada Selasa, terpukul mundur oleh data pabrik AS yang lemah semalam dan taruhan pasar atas normalisasi kebijakan moneter yang lebih cepat di negara lain.

Analis Westpac mengatakan "setiap penurunan akan terbukti moderat" dengan pejabat Federal Reserve AS terus memberi sinyal preferensi yang kuat untuk bergerak maju dengan pengumuman pengurangan stimulus November.

Indeks dolar tergelincir 0,13 persen dan terakhir di 93,83 dekat level terendah bulan ini, kehilangan kekuatan pada sterling dan euro, meskipun mempertahankan posisinya terhadap yen.

Obligasi pemerintah AS mengambil jeda di awal perdagangan Asia. Semalam, imbal hasil lima tahun naik ke level tertinggi sejak awal 2020 karena para pedagang memposisikan diri memperkirakan kenaikan suku bunga bank sentral.

Harga minyak turun dari tertinggi multi-tahun yang disentuh pada Senin (18/10), juga karena penurunan data pabrik, mengurangi ekspektasi permintaan, tetapi harga tinggi tetap menjadi perhatian negara-negara pengimpor energi.

Minyak mentah Brent kehilangan 0,42 persen menjadi diperdagangkan di 83,97 dolar AS per barel dan minyak mentah AS kehilangan 0,24 persen menjadi 82,24 dolar AS per barel.

Emas sedikit naik dengan harga spot terkerek 0,2 persen menjadi 1.767,9 dolar AS per ounce, meskipun logam tetap berada dalam kisaran baru-baru ini.

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ada stimulus bagi investor untuk gairahkan pasar modal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar