Artikel

Angan-angan Jokowi tentang BUMN yang lebih maju

Oleh Hanni Sofia

Angan-angan Jokowi tentang BUMN yang lebih maju

Presiden RI Jokowi didampingi Menteri BUMN Erick Tohir saat memberikan arahan kepada para direktur utama BUMN di Ballroom Hotel Meruorah Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (14/10/2021). ANTARA/HO-Biro Pers Setpres.

BUMN yang sakit-sakitan tidak perlu disuntik PMN, tetapiĀ langsung ditutup saja.
Jakarta (ANTARA) - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) punya banyak angan-angan untuk mewujudkan keinginannya terkait dengan perusahaan pelat merah agar lebih maju dan kompetitif tidak saja di level domestik, tetapi juga global.

Di mata Presiden, BUMN punya potensi yang tak main-main untuk bisa jadi besar, bahkan merajai sektor-sektor esensial di kawasan pada tahap awal, lalu bermain di level global pada tahap selanjutnya.

BUMN di Tanah Air hanya perlu penanganan dan pengelolaan yang lebih profesional untuk mendorongnya berlari lebih kencang. Pasalnya, perusahaan yang salah asuhan dan salah kelola sehebat apa pun nantinya akan sulit berkembang bahkan rentan ambruk.

Hal yang pasti kini Presiden Joko Widodo menginginkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk dapat bersaing di kancah internasional. Oleh karena itu, perlu adanya kemampuan merespons dan mengadaptasi secepat-cepatnya terhadap era Revolusi Industri 4.0, disrupsi teknologi, dan pandemi COVID-19.

Keinginan untuk membawanya go global dan bersaing di tingkat internasional harus dimulai dengan upaya menata, mengadaptasi pada model bisnis, menyesuaikan dengan teknologi yang berkembang termasuk dengan Revolusi Industri 4.0, disrupsi teknologi, hingga kondisi pandemi.

Kepala Negara meminta seluruh perusahaan BUMN untuk dapat beradaptasi pada model bisnis baru seiring dengan perkembangan teknologi, salah satunya dengan bekerja sama dan berkolaborasi dengan perusahaan global lainnya.

Kalau mau cepat, BUMN mau tak mau memang harus beradaptasi. Maka dari itu, cara yang paling cepat adalah bermitra dengan perusahaan global yang paling baik sekaligus untuk menyerap dan mentransfer teknologi.

Di samping itu, Presiden pun mengingatkan perusahaan BUMN untuk memperhatikan aspek perekonomian dan indikator tingkat efisiensi dari investasinya atau internal rate of return (IRR).

Faktanya memang untuk dapat bertahan pada era Revolusi Industri 4.0, suatu perusahaan perlu menyiapkan SDM dan ekosistem dengan baik agar dapat beradaptasi pada perkembangan teknologi tersebut.

Semua menyadari bahwa transformasi bisnis disertai adaptasi teknologi sudah menjadi keniscayaan, tidak bisa tidak.

Terus Berjalan

Transformasi dalam tubuh BUMN diketahui sedang terus berjalan. Sebagaimana disebutkan Menteri BUMN Erick Tohir bahwa BUMN saat ini sedang melakukan transformasi dan efisiensi besar-besaran.

Dari situ, Erick mengatakan bahwa BUMN sudah mulai terlihat hasilnya dengan meraup pendapatan sebesar Rp96 triliun sampai Semester I 2021. Kemudian, untuk laba bersih tercatat Rp26 triliun hingga Juni 2021.

Menteri BUMN Erick Tohir juga mengatakan bahwa saat ini program restrukturisasi BUMN telah sukses membawa hasil yang baik.

Upaya restrukturisasi dari 108 menjadi 41, dari 27 klaster menjadi 12 terdiri atas energi dan migas, klaster minerba, klaster industri perkebunan dan perhutanan, klaster industri pangan, klaster kesehatan, klaster industri keuangan (perbankan), klaster dana asuransi pensiun, klaster telekomunikasi, klaster infrastruktur, klaster logistik, dan lain-lain rupanya sukses mengantarkan BUMN semakin efisien dan efektif dalam menjalankan bisnisnya.

Sejauh ini kementerian yang dipimpinnya telah mendorong dan menjalankan transformasi BUMN melalui perampingan perusahaan yang dinilai terlalu banyak jumlahnya dan memfokuskan bidang usaha yang sebelumnya tidak efisien.

Di bawah komandonya, transformasi berfokus pada sisi human capital melalui penggantian jajaran direksi yang berkinerja buruk dengan yang lebih baik. Hal itu bertujuan agar sejumlah perusahaan BUMN bisa menghasilkan keuntungan bagi negara.

Bisnis model pun dipetakan mengingat BUMN selama ini dinilai terlalu besar sehingga sulit untuk diawasi, termasuk pula yang terlalu banyak bisnisnya, sehingga tidak ada punya fokus khusus.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Martin Manurung menilai pembenahan di Kementerian BUMN terlihat terus berjalan. Meski beberapa masalah masih ada, secara umum dapat dikatakan cukup baik.

Memang harus diakui masih ada beberapa permasalahan lama yang masih tertinggal. Namun, dalam rapat-rapat kerja yang digelar, Komisi VI DPR bersama pemerintah sudah bertekad untuk terus melakukan pembenahan.

Ketua DPP Partai NasDem ini menjelaskan bahwa harapan Presiden Jokowi untuk masa depan BUMN juga sudah dalam pemantapan yang nantinya akan dimasukkan ke dalam revisi Undang-Undang BUMN yang saat ini sedang disusun di Komisi VI DPR RI. Ia juga menyambut baik semangat Jokowi dalam membuka peluang investasi.

Aturan PMN

Pada intinya bahwa Komisi VI DPR bersama Kementerian BUMN telah menyepakati beberapa pembenahan untuk perbaikan BUMN, mulai restrukturisasi, holdingisasi, klasterisasi, dan juga aturan percepatan investasi.

Selain kebijakan tersebut, Komisi VI DPR juga telah menyepakati usulan perusahaan-perusahaan BUMN penerima Penyertaan Modal Negara (PMN) yang memang menerima penugasan dan melakukan aksi korporasi.

Dalam beberapa kasus, PMN menjadi tidak terelakan. Sementara itu, untuk aksi korporasi, PMN tersebut harus dipastikan akan dimanfaatkan secara tepat guna agar mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi negara dalam bentuk dividen, pajak, dan lain sebagainya.

Selain itu, PMN juga ditekankan agar tidak digunakan untuk tambal sulam menutup kerugian akibat kesalahan manajemen.

Apalagi sebelumnya Presiden Joko Widodo sempat menyebutkan ada banyak BUMN yang terlalu sering diberi proteksi berupa PMN. Padahal, perseroan-perseroan itu sudah tidak memiliki kontribusi bagi negara.

Jokowi benar-benar tidak menginginkan ada proteksi, bahkan Presiden mendorong ketegasan agar BUMN yang sakit-sakitan tidak perlu disuntik PMN, tetapi langsung ditutup saja.

Sepertinya bukan sinisme atau kebencian yang diutarakan Jokowi, melainkan justru sebuah dorongan yang diharapkan mampu mengantarkan BUMN pada cita-cita kemajuan bersama.

Sebuah harapan yang semoga bukan semata menjadi angan-angan ketika BUMN mampu bertransformasi menjadi perusahaan kelas global yang menjadi penopang sektor-sektor esensial hingga pada akhirnya membawa kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

Maka, angan-angan Jokowi tak pernah salah bila menginginkan BUMN makin maju melalui transformasi menuju perusahaan pelat merah yang lebih sehat dan profesional.

Baca juga: Anggota DPR nilai Kementerian BUMN masih diperlukan kelola banyak BUMN

Baca juga: Erick Thohir: Transformasi BUMN hasilkan laba bersih naik 356 persen

Oleh Hanni Sofia
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Jokowi tekankan pembangunan IKN baru sebagai bagian dari transformasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar