Artikel

Refleksi penerimaan diri Yura Yunita dalam "Tutur Batin"

Oleh Livia Kristianti

Refleksi penerimaan diri Yura Yunita dalam "Tutur Batin"

Sampul depan untuk album "Tutur Batin" yang menggambarkan penerimaan diri seutuhnya dari seorang Yura Yunita. (ANTARA/HO/Creathink Publicist)

Jakarta (ANTARA) - Yura Yunita merilis album penuh terbaru bertajuk “Tutur Batin” yang merefleksikan penerimaan diri secara seutuhnya, dan hal itu terlihat melalui desain cover album yang terlihat apa adanya.

Pada sampul album itu, Yura menunjukkan dirinya yang tanpa riasan, memiliki bintang kecil yaitu jerawat di wajah, dan baginya itu menggambarkan penerimaan diri yang maksimal.

"Tutur batin dalam fase perjalananku sebagai manusia yang melewati pertemuan, kehilangan, penyangkalan, amarah, berandai, depresi, hingga proses healing, menerima semua yang terjadi dan merayakan semua proses kehidupan. Sampul album, wajah tanpa riasan, jerawat, inilah aku apa adanya, yang mungkin jarang banyak orang lihat,” kata Yura dalam konferensi pers virtual menyambut perilisan album “Tutur Batin”, Kamis.

Baca juga: Yura Yunita rilis film pendek dibintangi Ringgo & Nirina

Baca juga: Yura Yunita ungkap percakapan batinnya lewat "Tenang"


Nantinya di dalam album itu akan ada 11 lagu yang bisa didengarkan oleh para penggemarnya mulai Jumat, 22 Oktober 2021 pukul 00.00 WIB.

Tujuh lagu baru diperkenalkan dalam album ini, sementara 4 lagu lainnya yaitu “Duhai Sayang”, “Hoolala”, “Mulai Langkahmu”, dan “Tenang”merupakan lagu yang sudah dirilis sebelumnya.

Mulai dari “Dunia Tipu- Tipu”, “Bandung”, dan “Hobi - Ghosting”, anda akan mendengarkan nada- nada yang terdengar ceria dan bisa menghibur telinga anda. Untuk “Dunia Tipu- Tipu”dan “Hobi - Ghosting” lagu itu seakan menggambarkan kondisi dunia saat ini, namun dengan demikian kita belajar untuk menerima kenyataan.

Sementara “Bandung” menjadi ajang bagi Yura menggambarkan perasaan cinta yang mendalam pada kampung halamannya dan tempatnya untuk pulang. Dengan menggunakan Bahasa Sunda, lagu ini bisa menjadi pilihan lagu berbahasa daerah yang menyenangkan untuk didengar.

Ini pun menjadi lagu kedua Yura yang dibawakan menggunakan Bahasa Sunda setelah sebelumnya ia membawakan lagu "Kataji" pada 2014.

Lagu selanjutnya yaitu “Sudut Memori” serta “Mau Kemana” menjadi lagu yang menggambarkan kekecewaan yang dialami Yura sebagai seorang insan yang mengalami pukulan hidup. Ada lantunan yang menggambarkan emosi mendalam, memberikan kesan bahwa kekecewaan adalah hal yang wajar dialami oleh setiap orang.

Meski demikian, lewat rasa kecewa itu pendengar bisa belajar bahwa dari masa terpuruk seseorang harus bangkit.

Selanjutnya ada lagu keenam yang membawa kita memahami fase pendewasaan diri berjudul “Andai Saja”.

Pada lagu ini anda akan diajak berandai- andai dengan harapan waktu- waktu bisa diulang untuk memperbaiki dan menikmati momen yang terlewat.

Lewat pengandaian- pengandaian itu manusia akhirnya bisa mendapatkan jawaban yang selama ini dicarinya.

“Tutur Batin” yang bertajuk sama dengan albumnya menjadi lagu utama dan menutup masa pencarian dan penerimaan diri.

Diibaratkan sebagai 5 fase memproses kesedihan yang dikenal dalam dunia psikologi, lagu "Tutur Batin" mewakili momen saat diri kita sudah bisa menerima, mengakui kondisi yang terjadi, dan kembali dengan versi diri yang lebih kuat dari sebelumnya.

Dalam “Tutur Batin” akhirnya Yura berhasil menggambarkan proses penyembuhan diri dan berakhir pada tahap mencintai diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.

“Aku ingin mencoba menyampaikan lewat lagu ini bahwa kita dengan apa adanya kita, dengan apa yang sudah Tuhan kasih sama kita. Kita tak perlu bergantung pada orang lain, kita bisa berjalan dengan diri kita sendiri. Dan itu membuat kita belajar bahwa dengan diri kita sendiri juga kita sudah cukup,” ujar penyanyi yang kini genap menginjak usia 30 tahun itu.

Ari Renaldi dan Iwan Popo kembali dalam daftar produser yang membantu Yura menciptakan keindahan di setiap karyanya.

Selain itu ada juga produser- produser lainnya seperti Marthin Siahaan, Adhe Ario, Dipha Barus dan JUKÉ Music Works untuk membantu Yura mengeksplorasi kemampuannya di industri musik Tanah Air.

“Secara keseluruhan, proses penggarapan album ‘Tutur Batin’ menggambarkan proses pendewasaan Yura baik secara konsep, tema, musik dan lirik. Ketika album kedua terdengar personal, maka album ketiga ini makin terasa personal," kata Ari.

"Tema yang diangkat sangat relate bagi kebanyakan orang dan berani mengungkap hal-hal yang sebelumnya tidak banyak dibicarakan. Secara musikal juga banyak bereksperimen dan mencoba hal baru, mulai dari kolaborasi dengan beberapa produser lain sehingga menambah kaya musikalitas album ini," ujar Ari yang dengan setia mendampingi Yura menjalani karirnya sebagai penyanyi profesional.

Kerjasama ciamik juga dilakukan Yura dengan orkestra kelas dunia yaitu Budapest Scoring Orchestra, untuk menyempurnakan lagu “Mau Kemana” dan “Tutur Batin”.

Aransemen string orkestra yang dibuat oleh Ari Renaldi di kedua lagu tersebut, menambahkan unsur kemegahan dalam album ini.

Untuk penciptaan lirik, Yura Yunita bersama dengan Donne Maula menulis untuk 7 nomor lagu, sedangkan lagu “Duhai Sayang” ia tulis dengan Muhammad Tulus, “Hoolala” bersama Dipha Baru dan Matter Mos, serta lagu “Bandung” ditulis bersama dengan Fariz Alwan, Ari Renaldi dan Ibunda Yura tercinta Mama Yani.

Lagu- lagu dalam album “Tutur Batin” akan dibawakan dalam pertunjukan virtual di YouTube Yura Yunita untuk semakin memanjakan para penggemarnya yang rindu akan penampilan sang dara muda itu pada 29 Oktober 2021.

Dengan penuh doa dan harapan baik, semoga album “Tutur Batin” ini dapat mewakili banyak suara dan diterima oleh para pecinta musik Indonesia.

“Aku tak sempurna, namun memang tak perlu sempurna. Akan kurayakan apa adanya bersama album ketiga ku. Mari mulai. Ini ceritaku. Tutur Batinku,” tutup Yura Yunita.

Baca juga: Menulis lagu bisa hilangkan stres, kata Yura Yunita

Baca juga: Pulang ke "rumah" jadi cara Yura Yunita temukan inspirasi karya

Baca juga: Yura Yunita isi lagu tema film "Nussa"


Oleh Livia Kristianti
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar