Chollet: Indonesia mitra penting dalam KTT Iklim COP26

Chollet: Indonesia mitra penting dalam KTT Iklim COP26

Presiden Joko Widodo mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim atau Leaders Summit on Climate secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Kamis, (22/4/2021). ANTARA/Humas Kemensetneg/pri. (ANTARA/Humas Kemensetneg)

Krisis iklim yang parah mengancam kemajuan pembangunan, kesehatan, dan ekonomi kita, dan melalui strategi lima tahun yang baru, kami berharap dapat bekerja sama lebih lanjut dengan Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim
Jakarta (ANTARA) - Indonesia merupakan salah satu mitra penting dalam perhelatan Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa COP26 yang tahun ini digelar di Glasgow, Inggris, mulai 31 Oktober hingga 12 November 2021.

Hal tersebut disampaikan Penasihat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Derek Chollet, dalam konferensi pers melalui telepon di Jakarta, Kamis.

"Amerika Serikat siap meningkatkan kerja sama dengan Indonesia dalam berbagai isu-isu perubahan iklim," ujar Derek Chollet.

Indonesia akan memainkan perang penting sebagai ketua bersama dengan Inggris dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang berfokus pada perubahan iklim.

Ia mengatakan Amerika Serikat melakukan berbagai persiapan menjelang perhelatan KTT iklim COP26.

Baca juga: AIPI: Antarsektor perlu berjuang bersama di COP26

Pada 20 Januari 2021, Presiden Joe Biden menandatangani sejumlah perintah eksekutif termasuk bergabung kembali dalam Perjanjian Paris.

Berdasarkan keterangan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Pada 28 April, Pemerintah Amerika Serikat dan Pemerintah Indonesia merayakan pencapaian bersama dalam mengatasi perubahan iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati yang telah dicapai melalui program Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat Build Indonesia to Take Care of Nature for Sustainability (USAID BIJAK).

USAID melalui BIJAK memperkuat upaya Pemerintah Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dan melindungi satwa liar di darat dan di laut.

Direktur USAID Indonesia Ryan Washburn mengatakan USAID gembira dapat merayakan keberhasilan konservasi dan perlindungan satwa liar yang telah dicapai bersama melalui kerja sama erat dengan Pemerintah Indonesia melalui BIJAK.

"Krisis iklim yang parah mengancam kemajuan pembangunan, kesehatan, dan ekonomi kita, dan melalui strategi lima tahun yang baru, kami berharap dapat bekerja sama lebih lanjut dengan Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim dan memajukan tujuan pembangunan Indonesia," kata dia.

Sementara itu Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, KLHK, Wiratno mengatakan Indonesia tidak bisa bekerja sendiri dalam mengelola Kawasan konservasi, isu-isu lingkungan.

Baca juga: KLHK siapkan kegiatan paralel paviliun Glasgow dan Jakarta pada COP26

"Kita harus mendorong terus kolaborasi pentahelix, menggandeng pemerintah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, media massa, dan kepemimpinan yang kuat semua lapisan  di pusat dan daerah,” ujarnya.

Sejak tahun 2016, program USAID BIJAK dengan dana 19,6 juta dolar (Rp 284,2 miliar) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan mitra utama lainnya dalam merevisi kebijakan, pedoman, dan prosedur untuk memperkuat pelestarian lingkungan hidup.

Kemitraan ini telah membantu Indonesia melindungi ekosistem yang berisiko, menurunkan perambahan dan sengketa lahan, serta memanfaatkan data untuk mengelola sumber daya alam secara lebih efektif dan transparan. Program ini juga meningkatkan permintaan aksi konservasi taman nasional dan satwa liar, terutama di kalangan orang muda.

Baca juga: PM Australia pastikan hadiri KTT iklim COP26
Baca juga: Presiden China tidak akan hadiri COP26 secara fisik

Pewarta: Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Jokowi fokus berdayakan UMKM dan penanganan iklim di KTT APEC-ABAC

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar