Dolar pangkas kerugian, Powell indikasikan pengurangan beli obligasi

Dolar pangkas kerugian, Powell indikasikan pengurangan beli obligasi

Ilustrasi - Petugas menghitung pecahan dolar Amerika di salah satu gerai penukaran mata uang di Kwitang, Jakarta Pusat. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww.

ada sedikit pelonggaran posisi, kami jelas telah melihat dolar menguat sejak (pertemuan) Fed September.
New York (ANTARA) - Dolar memangkas kerugiannya terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bank sentral AS harus segera mulai mengurangi pembelian asetnya, tetapi seharusnya belum menaikkan suku bunga.

Powell mengatakan lapangan kerja masih terlalu rendah dan inflasi yang tinggi kemungkinan akan berkurang tahun depan karena tekanan dari pandemi COVID-19 memudar, bahkan ketika banyak pelaku pasar khawatir bahwa kenaikan tekanan harga akan bertahan lebih lama daripada yang diyakini para pembuat kebijakan.

Investor telah mengambil keuntungan sejak indeks dolar mencapai level tertinggi satu tahun pekan lalu, ketika kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama membuat investor mengedepankan ekspektasi kapan Fed pertama kali akan menaikkan suku bunga hingga pertengahan 2022.

Baca juga: Dolar AS "rebound" setelah data pekerjaan dan perumahan membaik

Sekarang, "ada sedikit pelonggaran posisi, kami jelas telah melihat dolar menguat sejak (pertemuan) Fed September," kata Mazen Issa, ahli strategi valuta asing senior di TD Securities di New York. "Itu juga sesuai dengan kecenderungan musiman dolar melemah hingga akhir bulan."

The Fed mengatakan pada pertemuan September bahwa kemungkinan akan mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan segera setelah November, dan mengisyaratkan kenaikan suku bunga mungkin mengikuti lebih cepat dari yang diperkirakan.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya turun 0,10 persen menjadi 93,64, dan jatuh dari tertinggi satu tahun di 94,56 minggu lalu. Euro menguat 0,09 persen menjadi 1,1636 dolar AS.

Baca juga: Yuan berbalik melemah 142 basis poin menjadi 6,4032 terhadap dolar AS

Data pada Jumat (22/10/2021) menunjukkan bahwa aktivitas bisnis AS meningkat kuat pada Oktober, menunjukkan pertumbuhan ekonomi meningkat pada awal kuartal keempat karena infeksi COVID-19 mereda, meskipun kekurangan tenaga kerja dan bahan baku menahan manufaktur.

Reli dolar juga telah memudar karena investor membangun ekspektasi untuk kenaikan suku bunga lebih cepat dalam mata uang lainnya.

Namun, Issa memperkirakan dolar akan mendapatkan kembali traksi ketika bank-bank sentral global mendorong kembali kenaikan suku bunga yang agresif, sementara The Fed kemungkinan akan tetap relatif hawkish dan bergerak maju dengan pengurangan program pembelian obligasi.

"Begitu kita mendapat dorongan dari bank-bank sentral lain dan The Fed berkomitmen untuk melakukan tapering, kita akan melihat penurunan dolar benar-benar dangkal," kata Issa. Dolar Aussie, yang merupakan proksi untuk selera risiko, menyerahkan kenaikan sebelumnya dan terakhir melemah 0,05 persen pada 0,7462 dolar AS.

Mata uang safe-haven yen naik, meskipun tetap menjadi pemain terlemah, setelah turun hampir 10 persen tahun ini. Dolar terakhir turun 0,50 persen terhadap mata uang Jepang di 113,42 yen.

Bitcoin turun 2,98 persen menjadi 60.367 dolar AS. Uang kripto ini mencapai rekor tertinggi 67.017 dolar AS pada Rabu (20/10/2021), setelah ETF (exchange traded fund) Bitcoin berjangka pertama AS mulai diperdagangkan.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menguatnya kurs dolar tak pengaruhi daya beli masyarakat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar