Duka Seorang Ibu di Selandia Baru

Duka Seorang Ibu di Selandia Baru

Dua wanita saling berpelukan di depan bangunan runtuh di pusat kota Christchurch (NTARA/REUTERS/Christchurch Press/John Kirk-Anderson/djo/11)

Mereka berusaha melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan tapi tak ada yang berhasil. Saya kira ia sangat mungkin meninggal akibat kejadian itu,
Christchurch (ANTARA News) - Bayinya meninggal karena tertimpa TV yang jatuh akibat gempa yang memporak-porandakan pekan terakhir Februari, dan kini perempuan Selandia Baru itu merasa berat untuk memandang anak-anaknya yang lain, demikian isi satu laporan Sabtu (26/2).

Tracy Harris sedang mencuci piring di rumahnya di Christchurch, sementara bayinya, yang berusia delapan bulan --Jayden, sedang tidur di ruang keluarga, ketika ia jatuh ke lantai oleh guncangan dengan kekuatan 6,3 pada skala Richter pada Selasa (22/2).

Ia mengatakan kepada media Fairfax bahwa ia menemukan Jayden dalam keadaan lemas tapi dengan nafas berat di bawah pesawat televisi, yang telah jatuh menimpanya.

Harris, yang tak bisa menghubungi layanan darurat, meminjam mobil tetangganya untuk membawa bayinya ke rumah sakit. Tapi para dokter tak bisa menyelamatkan bayinya. Perempuan itu mengatakan ia memeluk bayinya, yang sudah tak bernyawa, selama delapan jam.

"Mereka berusaha melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan tapi tak ada yang berhasil. Saya kira ia sangat mungkin meninggal akibat kejadian itu," kata Harris sebagaimana dilaporkan kantor AFP, yang dipantau ANTARA di Jakarta.

Tragedi perorangan tersebut hanya lah satu dari sejumlah peristiwa tragis yang melanda seluruh Christchurch setelah gempa mengguncang. Sedikitnya 123 orang menemuji ajal dan lebih dari 200 orang lagi hilang, termasuk sejumlah mahasiswa Asia.

Pencarian para penyintas di Christchurch cuma bisa menemukan beberapa mayat pada Sabtu, sementara para teknisi mengatakan sepertiga pusat kota yang dihancurkan gempa itu menghadapi kehancuran.

Polisi mengatakan jumlah korban jiwa akibat gempa Selasa telah mencapai 123 dan memperingatkan jumlah tersebut bisa bertambah, sementara lebih dari 200 orang belum ditemukan. Banyak dari mereka dikhawatirkan terjebak di bawah reruntuhan di kota terbesar kedua di Selandia Baru itu.

Ratusan ahli pencarian dan pertolongan dari seluruh dunia terus membongkar-bongkar puing setelah penyintas terakhir dikeluarkan dari bawah puing pada Rabu sore.

"Kami belum mendapat berita baik yang kami harapkan," kata walikota Christchurch Bob Parker kepada wartawan.

Beberapa blok perkantoran terlipat seperti tumpukan kartu, seluruh jalan kehilangan bagian depan toko dan katedral bersejarah kehilangan puncak menaranya, akibat guncangan --yang mengikuti gempa yang menghancurkan pada September lalu.

Insinyur teknik sipil Auckland University Jason Ingham mengungkapkan besarnya tugas pembangunan kembali yang dihadapi warga Christchurch, dan mengatakan angket resmi menunjukkan sepertiga bangunan di pusat kota akan dibantah.

"Kami telah mengumpulkan data selama dua hari belakangan dan itu kelihatan seperti sepertiga bangunan," kata Ingham kepada TVNZ.

Polis mengatakan harapan akan keajaiban sempat meningkat pada Sabtu, ketika seorang petugas paramedis melaporkan ia mendengar suara dari bawah reruntuhan, tapi pupus ketika diketahui bahwa itu adalah suara petugas pertolongan.

Para petugas pertolongan telah mengesampingkan kemungkinan untuk menemukan penyintas di katedral bersejarah Christchurch, tempat sebanyak 22 orang diduga tertimbun.

Mereka juga tak percaya ada orang yang masih hidup di bawah gedung CTV, yang ambruk. Bangunan tersebut berisi satu stasiun TV dan sekolah bahasa yang ramai buat pelajar asing, dan tempat sebanyak 120 orang mungkin telah tewas.

Sementara itu Tracy Harris, yang kehilangan bayinya, mengatakan, "Hampir sepanjang waktu, saya cuma berusaha memikirkan yang lain. Setelah saya kehilangan dia di rumah sakit, saya memutuskan bahwa kehilangan dia akan membawa dia kembali."

"Setiap detik yang telah saya lewati bersama dia, sekalipun itu cuma delapan bulan, telah memberi saya kebahagiaan," tambah perempuan tersebut.

Ibu itu mengatakan ia sekarang menghadapi kesulitan untuk memandang dua putrinya, yang masih kecil, karena mereka sangat mirip dengan Jayden.

"Karena anak-anakku kelihatan sangat mirip, sungguh berat untuk berada di dekat kedua anak perempuanku," kata Harris. Ditambahkannya, ia berencana mendirikan satu yayasan buat bayi yang menderita luka di kepala.
(*)

Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Indonesia bisa belajar toleransi beragama dari New Zealand

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar