KKP ajak santri berbudi daya sistem bioflok berkonsep ekonomi biru

KKP ajak santri berbudi daya sistem bioflok berkonsep ekonomi biru

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Tb Haeru Rahayu. ANTARA/HO-KKP/aa.

Budi daya dengan sistem bioflok merupakan pilihan bagi masyarakat yang dapat diterapkan di berbagai daerah di Tanah Air
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan mengajak kalangan santri, yang baru merayakan Hari Santri pada 22 Oktober, untuk berbudi daya sistem bioflok sebagai alternatif teknologi yang adaptif dan aplikatif serta berkonsep ekonomi biru yang berkelanjutan.

"Budi daya ikan sistem bioflok ini berbasis ekonomi biru. Kita lihat coba, semua teknologinya itu berbasis kepada pendekatan keilmuan. Seperti, limbahnya diatur hingga kasih pakannya juga terukur. Ingat jangan sampai kegiatan budi daya itu tidak sustainable atau tidak berkelanjutan," kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP Tb Haeru Rahayu dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Ia mengemukakan bahwa budi daya dengan sistem bioflok merupakan pilihan bagi masyarakat yang dapat diterapkan di berbagai daerah di Tanah Air untuk berusaha di bidang pembudidayaan ikan.

Apalagi, lanjutnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan harus dilakukan secara terukur dengan pendekatan ekonomi biru agar tercapainya keberlanjutan dengan keseimbangan pertumbuhan ekonomi, sosial dan ekologi.

"Konsep ekonomi biru itu, berkaitan dengan keseimbangan, jadi kalau ekologi saja, ekonominya tidak pernah disentuh maka tidak akan mencapai keseimbangan. Jadi KKP mengusung pendekatan ekonomi biru. Pendekatannya harus ilmiah berbasis scientific. Salah satunya sistem bioflok," jelas Tb Haeru Rahayu, yang akrab disapa Tebe.

Menurut dia, budi daya sistem bioflok merupakan inovasi yang dirancang sebagai solusi untuk penyediaan pakan berkelanjutan.

Sedangkan keunggulannya, produktivitas tinggi dibandingkan teknologi konvensional, selain itu lebih efisien dari sisi penggunaan lahan dan air.

Untuk itu, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP terus mendorong budi daya sistem bioflok menjadi program bantuan sarana dan prasarana budi daya, khususnya untuk peningkatan produksi komoditas ikan lele dan ikan nila.

Sebagai informasi, satu paket bantuan bioflok bantuan KKP terdiri dari benih ikan, pakan ikan starter, pakan ikan grower, pakan ikan finisher, obat ikan dan vitamin, prasarana dan sarana, peralatan sarana dan peralatan operasional, peralatan perikanan serta pendampingan teknologi bioflok.

"Saya ajak para santri-santri di sini untuk belajar budidaya ikan sistem bioflok. Sistem budidaya ramah lingkungan ini dapat dikembangkan untuk ekonomi dan penyediaan pangan secara mandiri. Selain itu, pengembangan budidaya ikan bioflok di ponpes dapat meningkatkan konsumsi ikan di kalangan santri dan memicu wirausahawan baru," tambah Tebe.

Senada dengan Tebe, Ketua Komisi IV DPR RI Sudin menuturkan bahwa dukungan budidaya sistem bioflok ini dapat menjadi suplai sumber gizi bagi para santri, selain itu sebagai media pembelajaran untuk menumbuhkembangkan jiwa wirausaha.

"Kita harapkan dengan usaha budidaya bioflok ini, ponpes-ponpes bisa jadi pesantren modern karena bisa belajar perikanan. Nanti kita bantu juga untuk bidang pertaniannya," kata politisi PDI Perjuangan tersebut.

Baca juga: KKP terus dorong penyebaran teknologi bioflok di masyarakat
Baca juga: Pemprov DKI dorong warga kembangkan perikanan sistem bioflok
Baca juga: KKP: Sistem bioflok tumbuhkan jiwa kewirausahaan santri

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pemkab Donggala kembangkan budidaya ikan sistem bioflok

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar