Saham China berakhir lebih rendah, properti jatuh karena rencana pajak

Saham China berakhir lebih rendah, properti jatuh karena rencana pajak

Ilustrasi - Para investor sedang memantau pergerakan saham di Bursa Saham China. ANTARA/REUTERS/Aly Song/am.

Kami memperkirakan lebih banyak penyesuaian kebijakan properti untuk mengimbangi dampak negatif dari penurunan pasar properti dan prospek ekonomi yang lemah
Shanghai (ANTARA) - Saham-saham China berakhir lebih rendah pada perdagangan Selasa, terseret oleh saham sektor properti karena kekhawatiran berkelanjutan atas rencana skema percontohan pajak real estat mengurangi sentimen pembeli rumah dan selera risiko.

Indikator utama Bursa Efek Shanghai, Indeks Komposit Shanghai tergelincir 0,34 persen atau 12,22 poin menjadi menetap di 3.597,64 poin, sementara indeks saham unggulan CSI300 turun merosot 0,33 persen atau 16,42 poin menjadi berakhir di 4.963,10 poin.

Perusahaan-perusahaan properti memperpanjang kerugian dan berakhir 2,8 persen lebih rendah, didorong oleh kekhawatiran atas rencana skema percontohan pajak real estat.

Pajak properti, kemungkinan akan diuji pada awalnya di kota-kota lapis pertama dan kedua, "akan merugikan sentimen pembeli rumah dan menghambat permintaan investasi, dan dengan demikian, memperdalam penurunan pasar properti fisik," tulis broker CLSA dalam sebuah catatan.

“Kami memperkirakan lebih banyak penyesuaian kebijakan properti untuk mengimbangi dampak negatif dari penurunan pasar properti dan prospek ekonomi yang lemah,” tambah CLSA.

Sub-indeks perawatan kesehatan dan sub-indeks pertanian masing-masing kehilangan lebih dari 1,0 persen. Sementara itu, saham dalam teknologi informasi dan teknik konstruksi masing-masing bertambah lebih dari 1,0 persen.

China Galaxy Securities mengatakan saat ini tidak ada peluang struktural di pasar, tetapi perusahaan dengan hasil pendapatan yang baik di kuartal ketiga direkomendasikan.

Secara terpisah, Wakil Perdana Menteri China Liu He berbicara dengan Menteri Keuangan AS Janet Yellen pada 26 Oktober melalui panggilan video dan berbicara tentang situasi makroekonomi dan hubungan bilateral, menurut kementerian perdagangan China.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar