Surabaya (ANTARA News) - Masyarakat di sekitar Gunung Bromo diminta mewaspadai terjadinya tanah longsor sebagai dampak dari bertumbangannya pepohonan akibat terbebani material vulkanik selama aktivitas gunung api berketinggian 2.392 meter dari permukaan laut itu meningkat sejak November 2010.

"Masyarakat diharapkan waspada terhadap pohon tumbang karena beban abu dapat memicu terjadinya tanah longsor," kata Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur, Dewi J Putriatni, di Surabaya, Rabu.

Mengingat hujan abu yang masih berlangsung, dia juga menyarankan masyarakat menyiapkan masker penutup hidung dan pelindung mata.

"Untuk atap rumah yang terkena dampak hujan abu segera dibersihkan saja agar jangan sampai roboh," kata mantan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim itu.

Kepada warga yang tinggal di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Jurang Perahu, DAS Jurang Nganten, dan DAS Sukapura diingatkan untuk tetap waspada kemungkinan terjadinya aliran lahar dingin bila terjadi hujan lebat di sekitar Cemorolawang, Ngadisari, dan Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Sampai saat ini Gunung Bromo berstatus Siaga (level III) dan masih terus mengeluarkan abu vulkanik dari dalam kawah. Abu tersebut mengarah ke wilayah timur atau ke Desa Ngadirejo Kecamatan Sukapura, dan Desa Wonokerto, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.

Dewi mengemukakan abu vulkanik tersebut berdampak pada aktivitas masyarakat dalam jangka panjang sekaligus juga mengakibatkan terganggunya kesehatan warga dan lingkungan sekitar.

Sejak November 2010 Bromo mengeluarkan asap solfatara putih tipis hingga tebal dengan tekanan sedang hingga kuat. Ketinggian asap mencapai 300-1.200 meter dari kawah.

Selama erupsi, Bromo mengeluarkan gemuruh dan dentuman disertai lontaran material pijar setinggi 200 meter dan terlempar sejauh 500 meter dari kawah.

Erupsi Bromo mengeluarkan material abu vulkanik mulai jenis "lapili" (abu vulkanik berukuran 2-64 mm) hingga jenis bom vulkanik (ukuran lebih dari 64 mm).

Di dalam kawah juga telah terjadi gempa letusan sebanyak 26 kali dan gempa vulkanik tipe B sebanyak 406 kali.

Oleh sebab itu, sampai saat ini masyarakat dan para wisatawan dilarang mendekat ke kawah dalam radius dua kilometer.(*)

(T.M038/Z002)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011