Peneliti: Wajah sawit yang kontradiktif hambat perluasan pasar

Peneliti: Wajah sawit yang kontradiktif hambat perluasan pasar

Tangkapan layar peneliti Institute of Ecosoc Rights Sri Palupi. ANTARA/ Sella Panduarsa Gareta.

Desa-desa sawit adalah desa yang relatif tertinggal dan miskin, ada kesenjangan antara pusat dan daerah, dan pajak yang didapat dari sektor ini juga terlalu kecil, tidak sesuai dengan pertumbuhan sektor itu sendiri
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Institute of Ecosoc Rights Sri Palupi menyampaikan bahwa wajah produk sawit Indonesia yang kerap dinilai kontradiktif menjadi hambatan untuk memperluas pasar bagi produk sawit RI, khususnya crude palm oil (CPO).

"Kondisi yang kontradiksi menciptakan wajah sawit yang buruk yang menghambat sektor ini sendiri untuk memperluas pasar," kata Sri Palupi dalam seminar web yang digelar bertema The TSD Chapter: What will be the real sustainability for our planet yang dipantau dari Jakarta, Rabu.

Sri memaparkan fakta bahwa ekspor CPO Indonesia mencapai 34 juta ton per tahun, yang membuat sektor tersebut dianggap sebagai sektor yang penting untuk penyediaan lapangan pekerjaan dan sumber ekonomi bagi para petani sawit.

Di sisi lain, lanjut Sri, banyak persoalan yang dihadapi sektor sawit, terutama yang dialami para petani sawit itu sendiri.

"Desa-desa sawit adalah desa yang relatif tertinggal dan miskin, ada kesenjangan antara pusat dan daerah, dan pajak yang didapat dari sektor ini juga terlalu kecil, tidak sesuai dengan pertumbuhan sektor itu sendiri," ujar Sri.

Menurut Sri, kontradiktif tersebut yang membuat produk CPO Indonesia mengalami kendala dalam memperluas pasar ekspor.

Diketahui, industri kelapa sawit di Indonesia tercatat memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia mulai dari pembukaan 16,2 juta lapangan kerja di seluruh Indonesia hingga ekspor produk nonmigas terbesar.

Keterlibatan tenaga kerja di industri kelapa sawit yang mencapai 16,2 juta, terdiri dari 4,2 juta pekerja langsung dan 12 juta pekerja tidak langsung.

Berdasarkan data yang diolah dari Kementerian Dalam Negeri dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), total ekspor kelapa sawit tumbuh sejak 2015 mencapai 18,6 miliar dollar AS hingga pada 2020 sebesar 24,2 miliar dollar AS.

Indonesia juga merupakan negara dengan pangsa pasar kelapa sawit terbesar di dunia yaitu hingga 58 persen.

Baca juga: Kemendag: Kampanye negatif untuk tekan daya saing produk sawit RI
Baca juga: Menkeu sesuaikan tarif pungutan ekspor produk kelapa sawit
Baca juga: Industri sawit didorong buat produk ramah lingkungan dengan ekolabel


Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Musim trek sawit, pasokan TBS Aceh turun 25 persen

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar