Suara Burung di Saat Nyepi

Suara Burung di Saat Nyepi

Suasana di Jalan Gatot Subroto, Kota Denpasar, Sabtu pagi lengang saat umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1933. (FOTO ANTARA/Masuki M. Astro )

Denpasar (ANTARA News) - Suasana Nyepi di Kota Denpasar, Sabtu pagi terasa hening karena tidak ada aktivitas warga dan kendaraan sehingga hanya suara burung yang terdengar jelas.

Suara burung, antara lain jenis tekukur dan jenis satwa lain di atas pohon sudah terdengar sejak sebelum matahari terbit, bersautan dengan suara burung-burung jenis lainnya, seperti yang terdengar di kawasan wilayah Lumintang.

Suasana di lapangan yang saat libur biasanya ramai dengan orang yang lari pagi, kali ini benar-benar sepi. Bahkan hingga pukul 08.00 Wita tidak terlihat satu orang pun pecalang atau tenaga pengamanan adat maupun polisi.

Demikian juga di Jl Gatot Subroto yang biasanya ramai kendaraan, sangat sepi dan tidak ada satu pun polisi yang berjaga. Pada pagi hari Kota Denpasar turun hujan dua kali.

Selain tidak ada kendaraan, sejumlah fasilitas umum, seperti pertokoan dan mesin ATM tidak dijalankan saat Nyepi.

Di jalan WR Supratman, hanya terlihat beberapa pecalang yang tengah melintas untuk menjaga keamanan dan tidak ada satupun warga yang beraktivitas.

Dalam tapa brata penyepian ini, seluruh penghuni pulau Bali tidak diperkenankan untuk menyalakan lampu, dan berbagai alat elektronik apapun.

Saat Nyepi, umat Hindu tidak melakukan empat hal, yakni amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak keluar rumah), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Meski sehari semalam harus berada di rumah, warga Bali maupun wisatawan yang menginap di hotel tetap tidak dapat menikmati hiburan televisi, karena untuk tahun ini Komisi Penyaran Indonesia telah mengeluarkan edaran agar siaran di daerah, maupun siaran nasional yang masuk ke Bali berhenti sementara, termasuk televisi kabel.
(*)


Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar