PHRI ibaratkan mobilitas masyarakat sebagai "DNA" pariwisata

PHRI ibaratkan mobilitas masyarakat sebagai "DNA" pariwisata

Warga negara asing (WNA) menaiki sekoci saat akan menyeberang ke Labuan Bajo, NTT dengan menggunakan kapal pinisi di Pelabuhan Serangan, Denpasar, Bali, Kamis (28/10/2021). Penyeberangan menuju ke Pulau Nusa Penida, Pulau Gili Lombok, NTB dan Labuan Bajo, NTT melalui pelabuhan tersebut mulai ramai sejak awal bulan Oktober 2021 dengan rata-rata 50-100 wisatawan per hari. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/hp.

Jakarta (ANTARA) - Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengibaratkan mobilitas masyarakat merupakan "DNA" bagi sektor pariwisata untuk dapat tumbuh dan berkembang, sehingga ketika pergerakan masyarakat dibatasi, maka akan memengaruhi sektor tersebut.

"DNA daripada sektor pariwisata adalah pergerakan. Sementara terjadi hambatan pergerakan akibat pandemi COVID-19. Hambatan tersebut membawa dampak yang luar biasa," kata Yusran dihubungi di Jakarta, Kamis.

Yusran memaparkan, pandemi COVID-19 membawa dampak ekonomi yang meluas bagi sektor pariwisata dalam negeri, baik terhadap usaha itu sendiri, tenaga kerja, destinasi, hingga hotel dan restoran.

Belum lagi, lanjut Yusran, dampak ekonomi yang dirasakan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang perekonomiannya bergantung pada aktivitas pariwisata di berbagai daerah.

Selain itu, sektor pariwisata bersifat musiman, di mana pergerakannya dimulai pada kuartal II di tahun tersebut, berlanjut di kuartal III, dan melonjak pada kuartal IV, di mana terdapat momen natal dan tahun baru.

"Pada 2020 kita sudah kehilangan momen lebaran, yang tadinya mau diganti libur panjang pada akhir tahun, tapi ternyata tidak jadi," ungkap Yusran.

Ia menambahkan, seiring menurunnya level PPKM, muncul harapan tentang adanya pemulihan di sektor tersebut, terlebih pemerintah menyatakan dukungannya untuk mendorong kebangkitan pariwisata dalam negeri.

Sayangnya, Yusran mengatakan, seiring meningkatnya aktivitas masyarakat terutama di tempat wisata, maka muncul pula kekhawatiran akan penyebaran kembali COVID-19.

Sehingga hal tersebut juga menimbulkan kekhawatiran dari pelaku bisnis pariwisata di Indonesia untuk membangun kembali usahanya.

Yusran menyadari bahwa situasi tersebut tidak mudah untuk dihadapi. Untuk itu, dengan dibatalkannya cuti bersama pada perayaan natal dan tahun baru 2022, Yusran menyampaikan bahwa saat ini belum menjadi waktu yang tepat untuk bicara soal pemulihan sektor pariwisata.

"Belum saatnya bicara soal pemulihan pariwisata selama pembatasan aktivitas masig terjadi," pungkas Yusran.

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Luhut: Ada platform pantau 5 destinasi pariwisata superprioritas

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar