Catatan dari "Crisis Centre" KBRI Tokyo

Catatan dari "Crisis Centre" KBRI  Tokyo

Bandara Sendai Tergenang Tsunami(FOTO ANTARA/REUTERS/NHK via Reuters TV/)

Tokyo (ANTARA News) - Sudah dua hari ini saya mengikuti secara dekat proses penyelamatan WNI dari posko di KBRI Tokyo yang dibuat sesaat setelah gempa dan tsunami melanda wilayah Jepang, Jumat, ruangan ruangan perpustakaan di Kedutaan disulap menjadi "crisis centre".

Ruangan yang penuh buku ini tampak sesak dengan staf dan mahasiswa dengan laptop, makanan kecil dan minuman ringan.

Seluruh staf di KBRI bekerja siang malam dibantu oleh para mahasiswa Indonesia untuk memantau dan menghubungi warga negara kita di wilayah yang terkena gempa.

Duta Besar Indonesia untuk Jepang M Lutfi memimpin langsung operasi penyelamatan warga negara kita di Jepang.

Ia membagi detil setiap tim yang bekerja juga terus menerus berhubungan dengan tim pusat informasi yang dipimpin Mayor Zaenal ke Sendai, lokasi gempa.

Sabtu malam, kepastian bahwa Mayor Zaenal telah tiba di Sendai amat melegakan seisi ruangan.

Tidak kurang Wakil dubes (DCM) Ardi dan staf, para mahasiswa tampak lega mendengar kabar ini.

Maklum Mayor Zaenal, Atase Pertahanan telah berangkat sejak Sabtu dini hari. Jarak dari Tokyo ke Sendai sekitar 330 km.

Beberapa kali tim ini harus meliwati rintangan termasuk jalan longsor, penutupan akses di sejumlah wilayah yang terkena bencana.

Wajah Jane, salah satu staf KBRI yang paling sibuk menghubungi WNI di beberapa wilayah tampak sumringah saat mengetahuinya.

"Nggak sia-sia deh biar sudah lecek begini". Para mahasiswa di ruangan pun turut lega, "Alhamdulillah" ujar Bahar, seorang mahasiswa.

Termasuk ketua PPI Fitra, yang telah menerjunkan para relawan mahasiswa untuk membantu proses pendataan, juga pengumpulan informasi ini.

Sepanjang hari mereka bekerja untuk memantau berita dari TV, internet, juga untuk mengupload informasi melalui website, twitter dan Face Book untuk KBRI Tokyo.

Termasuk perkembangan terakhir dari ledakan di PLTN Fukushima beserta dampaknya.

Keberadaan 82 WNI Indonesia di sana menjadi perhatian, untuk memastikan mereka berada di zona aman.

Termasuk rencana pemadaman bergilir di Tokyo Senin mendatang akibat terganggunya pasokan listrik dari Fukushima.

Papan tulis "white board" penuh dengan data kondisi terkini korban juga informasi tentang keberadaan WNI kita di wilayah tersebut dan informasi terkini yang perlu diketahui WNI di Jepang.

Beberapa staf juga sudah menyiapkan untuk membeli barang kebutuhan bagi para pengungsi ke wilayah Ibaraki, karena ada informasi 100 WNI kita saat ini di sana ikut mengungsi.

Saya sempat menemani staf yang akan belanja untuk mencari logistik, mie instant, air mineral, biskuit, roti, omigiri, juga pembalut wanita.

Sejumlah supermarket tampak kosong dari makanan ringan, air mineral, juga roti, bento atau ramen diserbu warga pada akhir pekan ini.

Nun jauh di Tokyo saya bersyukur bisa berbagi pengalaman dengan mereka untuk berbagi informasi dan menggunakan sumber berita.

Jauh dari hiruk pikuk politik di Jakarta, di sini saya merasakan solidaritas yang kuat diantara para warga Indonesia untuk tujuan yang sama memastikan warga Indonesia lainnya dalam kondisi selamat.

*) Asisten Staf khusus Presiden Bidang Informasi dan PR
(A017*BAC/A025)

Oleh
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar