Anggota DPR: COP-26 momentum Indonesia tagih komitmen anggota G20

Anggota DPR: COP-26 momentum Indonesia tagih komitmen anggota G20

Tangkapan layar - Wakil Ketua Komisi IV DPR Anggia Ermarini memberikan sambutan secara virtual dari Glaslow dalam diskusi bertajuk Aksi Nyata untuk Perubahan Iklim yang digelar Climate Institute bersama Radesa Institute, DPP PKB, dan DPR RI di Jakarta, Rabu (3-10-2021).  ANTARA/HO-Humas DPR.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi IV DPR Anggia Ermarini mengatakan Forum COP-26 atau konferensi tingkat tinggi yang membahas perubahan iklim menjadi momentum bagi Indonesia untuk menagih komitmen dari negara-negara anggota G20 terkait isu perubahan iklim.

"Indonesia punya kepentingan dalam Forum COP-26, yakni melindungi bumi dan ekosistem Indonesia," ujar Anggia saat memberikan sambutan secara virtual dari Glaslow dalam diskusi bertajuk Aksi Nyata untuk Perubahan Iklim yang digelar Climate Institute bersama Radesa Institute, DPP PKB, dan DPR RI di Jakarta, Rabu.

Anggia mengatakan dalam forum tersebut, tim negosiator Indonesia terus bekerja untuk menjadikan isu perubahan iklim sebagai persoalan sensitif yang perlu mendapatkan perhatian serius oleh dunia.

Baca juga: Menteri LHK: Indonesia tegaskan kerja nyata atasi perubahan iklim

Di sisi lain, ia mengapresiasi perhatian kalangan muda dalam isu-isu mengenai perubahan iklim. Anggia mengatakan bahwa berdasarkan penelitian UNDP, di dalam negara G20, 70 persen anak muda punya perhatian lebih dengan isu perubahan iklim. Sementara penelitian Alvara Research Center dan Indikator, isu lingkungan merupakan salah satu yang diminati anak muda.

"Anak muda antusias dalam isu menyelamatkan bumi," kata anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini dikutip dari siaran pers.

Menurut dia, 59 persen anak muda ingin melestarikan hutan dan lahan, 57 persen ingin energi terbarukan, dan 57 persen ingin pertanian ramah lingkungan.

"Pemerintah harus berinvestasi pada energi ramah lingkungan. Saya percaya melestarikan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi bisa berjalan seimbang melalui konservasi ekonomi," ujarnya.

Anggia mengatakan peran negara sangat penting dalam persoalan ini. Apalagi, data menunjukkan bahwa negara maju menyumbang 80 persen ekonomi global, tapi juga menyumbang 75 persen emisi global.

Sementara itu, Direktur INFID Sugeng Bahagijo mengatakan sumber masalah dari isu perubahan iklim adalah negara dengan aktivitas produksi yang sangat tinggi.

"Bisakah kita membuat keseimbangan antara mengurangi emisi, tetapi aktivitas ekonomi dan produksi tetap maju dan berkembang," katanya.

Dikatakan Sugeng, saat ini kondisi bumi sudah superpanas. KTT Perubahan Iklim bahkan telah mengakui ada yang salah dari ekonomi dan industri sehingga negara-negara mendorong adanya pengurangan emisi.

"Harus ada tindakan nyata bagi negara maupun perusahaan untuk mengerem emisi. Dampak perubahan iklim tidak hanya panas bumi, tapi cuaca ekstrem, banjir di mana mana, dan kerusakan lingkungan," katanya.

Mahawan Karuniasa dari Asosiasi Peneliti Perubahan Iklim Indonesia (APIKI) menyambut positif antusiasme parlemen terkait isu perubahan iklim yang dinilai luar biasa. Presiden Jokowi juga memberi pandangan bahwa perubahan iklim ancaman besar bagi pembangunan dan kemakmuran.

Mahawan mengatakan anak muda harus menyuarakan perubahan iklim untuk generasi mendatang. Menurut dia, gaya hidup yang ramah lingkungan menjadi penting.

"Kita harus berkolaborasi dengan seluruh masyarakat dunia. Semua harus andil, jangan sampai negara lain yang berbuat, kita yang ikut memecahkan persoalan. Jadi, harus ada keadilan. Kita harus mendorong negara maju membantu negara berkembang," ujarnya.

Baca juga: RI pertegas peran diplomasi lingkungan jadi tuan rumah COP Minamata
Baca juga: Indonesia dorong tercapainya kesepakatan inklusif dalam COP-4 Minamata


 

Pewarta: Sigit Pinardi
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Presiden: Indonesia harus transisi ke energi listrik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar