BMKG: Angin kencang picu potensi gelombang tinggi di Indonesia

BMKG: Angin kencang picu potensi gelombang tinggi di Indonesia

Ombak menerjang batu grip di Pantai Muara Lasak, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (11/9/2021). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Sabtu (11/9/2021) mengimbau masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir pantai agar mewaspadai gelombang tinggi lebih dari 4 hingga 6 meter terutama di samudera hindia. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/hp

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut angin kencang yang terjadi akhir-akhir ini telah memicu timbulnya potensi gelombang tinggi di beberapa perairan Indonesia.

“Terkait dengan gelombang tinggi ini, saat ini ada embusan angin kencang. Yang terpantau gelombang dengan angin kencang ada di beberapa wilayah,” kata Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Eko mengatakan potensi gelombang yang tinggi itu disebabkan oleh adanya pola angin di wilayah Indonesia bagian utara bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan angin berkisar antara lima sampai 24 knot.

Baca juga: BMKG: Gelombang tinggi capai 4 meter di perairan Sumut-Aceh

Akibatnya, ada beberapa area perairan yang diprediksi mulai dari 6 sampai 7 November 2021, memiliki potensi gelombang tinggi dengan ketinggian yang diprakirakan mencapai 2,5 hingga 4,0 meter.

Beberapa wilayah yang diprediksi memiliki potensi gelombang tinggi 2,5 sampai 4,0 meter adalah Selat Sunda bagian selatan, Selat Bali bagian selatan dan Selat Lombok bagian selatan.

Eko menyebutkan terdapat sejumlah area yang berpotensi memiliki gelombang dengan ketinggian sedang, yakni 1,25 sampai 2,5 meter. Beberapa area itu adalah Selat Sape bagian selatan, Perairan Kupang sampai Pulau Rote, Laut Arafuru, Laut Maluku, perairan utara Papua Barat dan Perairan Biak sampai Jayapura.

“Wilayah-wilayah itu saja dulu yang perlu kita perhatikan bersama,” tegas Eko.

Menurut Eko, dengan adanya potensi gelombang tinggi itu, masyarakat perlu mengetahui fase pasang maksimum air laut, khususnya masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai untuk mengantisipasi apabila terjadinya hujan deras.

Dengan memahami fase pasang maksimum air laut, masyarakat mampu melakukan antisipasi pada air hujan yang dapat menghambat aliran air masuk ke wilayah laut akibat terhambatnya drainase, sehingga menyebabkan genangan hingga air sungai meluap.

Baca juga: BMKG: Waspadai tinggi gelombang laut di Pulau Halmahera

Baca juga: BMKG imbau waspadai gelombang tinggi di perairan selatan NTT


Bagi masyarakat pesisir pantai, Eko meminta agar memeriksa dan menyesuaikan kapal yang dimiliki dengan kondisi cuaca yang akan terjadi.

Perlu dipastikan bahwa kapal yang dimiliki aman dan nyaman dengan situasi gelombang di daerah masing-masing. Apabila tidak dapat beradaptasi, masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas pergi ke laut (melaut).

“Yang kedua, rencanakan aktivitas berlayar sebelum melaut dengan memantau informasi dari BMKG terkait angin dan gelombang laut,” ujarnya.

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Nelayan Kalsel dilarang melaut akibat cuaca buruk

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar