Jakarta (ANTARA News) - Rombongan pegawai Kedutaan Besar RI Tripoli tiba di Tunis, Tunisia pada Selasa setelah menempuh perjalanan darat sejauh 1.000 kilometer untuk keluar dari ibukota negara yang sedang bergejolak, Libya.

Kementerian Luar Negeri Indonesia melalui laman resminya Rabu menyampaikan, rombongan yang berjumlah 23 orang yang dipimpin oleh Duta Besar RI untuk Libya Sanusi, terdiri atas delapan staf KBRI dan 14 tenaga kerja Indonesia.

Kendaraan yang mereka tumpangi berjalan beriringan dengan rombongan Kedutaan Besar Vietnam dan India. Mereka mengevakuasi diri terkait memburuknya situasi keamanan di Libya.

Rombongan tersebut dijemput langsung oleh Dubes RI di Tunis Muhammad Ibnu Said saat melewati pintu perbatasan Ras Jedir di propinsi Ben Guardane, 730 kilometer dari Tunis.

Namun berdasarkan laporan dari Menlu Marty Natalegawa pada Rabu, masih ada 10 mahasiswa Indonesia yang bersikeras menetap di Libya meskipun terjadi eskalasi aktivitas militer.

"Mereka telah disarankan untuk segera meninggalkan negara tersebut. Warga Negara Indonesia sudah sebagian besar dievakuasi," ujar Marty disela acara "Regional Update Forum" yang digelar di Taman Mini Indonesia Indah.

Marty mengatakan sebanyak 861 orang sudah dievakuasi keluar Libya melalui Tunisia, terakhir ada 10 orang yang masih tinggal di Libya.

Saat ini, pemerintah Indonesia telah menyarankan warganya untuk meninggalkan Libya dan menutup sementara kedutaan RI di Tripoli karena alasan keamanan, katanya.

Hingga Sabtu (19/3), KBRI Tunis telah memberangkatkan 517 WNI. Jumlah WNI dari Libya yang berada di penampungan KBRI Tunis saat ini ada 26 orang, termasuk staf KBRI Tripoli.

Sebelumnya, dua tenaga kerja perempuan Indonesia yang bekerja di keluarga paman dari pemimpin Libya, Muamar Gaddafi, sudah berada di Tunis, setelah dijemput oleh pihak KBRI Tunis di perbatasan Ras Jedir pada Sabtu (19/3) malam.

Menurut rencana, 28 WNI dari Libya akan dipulangkan ke Tanah Air pada Sabtu ini, dengan maskapai penerbangan Emirates.

Untuk mengantisipasi WNI lainnya yang kemungkinan tertinggal, Kedubes RI di Libya telah menunjuk empat staf untuk memantau situasi di sana, sedangkan penutupan tersebut sudah dilakukan sejak hari Minggu (20/3) lalu.

KBRI Tunis telah membuka posko evakusi di Jerba sejak Ahad (20/3). Pihak KBRI juga berkoordinasi dengan International Organization for Migrants (IOM), Imigrasi Tunisia dan Komandan Militer Ras Jedir untuk membantu TKI yang melintasi perbatasan Tunisia-Libya.

"Berkat koordinasi yang baik antara KBRI Tunis dengan pihak otoritas imigrasi Tunisia, proses evakuasi WNI dari Libya di perbatasan Ras Jedir berjalan relatif lancar," ujar Sekretaris Satu KBRI Tunis, Boy Dharmawan.

Evakuasi darat melalui perbatasan Tunisia-Libya merupakan pilihan paling memungkinkan saat ini mengingat zona larangan terbang telah diberlakukan, kata laporan itu.

Arus pengungsi yang ingin meninggalkan Libya meningkat drastis di perbatasan darat Libya-Tunisia di Ras Jedir sehingga terjadi penumpukan ribuan orang dari berbagai negara, tambahnya.

Militer Tunisia memperketat arus masuk pengungsi, khususnya yang berasal dari negara yang bergolak karena khawatir implikasi dari banyaknya pengungsi di Tunisia terutama yang berasal dari negara-negara Afrika seperti Chad, Nigeria, Sudan, Somalia, Mesir dan Maroko.

(KR-IFB/M016/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011