Vaksin Merah Putih Unair jalani uji klinis tahap 1 pada awal Desember

Vaksin Merah Putih Unair jalani uji klinis tahap 1 pada awal Desember

Rektor Unair Prof. M Masih menyerahkan seed Vaskin Merah Putih kepada Direktur Utama (Dirut) PT. Biotis Pharmaceuticals Indonesia FX Sudirman didampingi Menkes Budi Gunadi Sadikin dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam Sidang Terbuka Dies Natalis Unair ke-67, Selasa (9/11/2021). ANTARA/HO-Humas Unair/aa.

menggunakan platform inactivated virus atau berbasis virus yang dilemahkan atau dimatikan.
Jakarta (ANTARA) - Kandidat vaksin Merah Putih yang dikembangkan Universitas Airlangga (Unair) ditargetkan menjalani uji klinis tahap 1 terhadap manusia pada awal Desember 2021.

"Harapan kami awal Desember 2021 mulai uji klinik fase 1 dan juga bersamaan dengan fase 2 kemungkinan sampai Maret 2022," kata Ketua tim peneliti vaksin Merah Putih Unair Fedik Abdul Rantam saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Setelah uji klinik fase 1 dan 2, dilanjutkan ke fase 3, dan pada Juli 2022 diharapkan vaksin Merah Putih tersebut sudah mendapatkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization) atau EUA dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Unair mengembangkan vaksin Merah Putih untuk COVID-19 dengan menggunakan platform inactivated virus atau berbasis virus yang dilemahkan atau dimatikan.

Fedik menuturkan bibit vaksin Merah Putih tersebut sudah melewati uji praklinik fase 1 dan 2, dan tidak melalui uji praklinik fase 3.

"Uji praklinik fase 2 sudah selesai, selanjutnya kami menyiapkan bibit vaksin untuk pilot scale," ujarnya.

Uji praklinik fase pertama menggunakan hewan mencit dan fase kedua menggunakan hewan makaka atau monyet.

Saat ini sedang dilakukan penyiapan bibit vaksin untuk siap disuntikkan ke manusia untuk memulai uji klinik fase 1.

Unair telah menyerahkan bibit vaksin kepada PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia untuk disiapkan bagi pelaksanaan uji klinik vaksin tersebut.

Untuk sementara, uji klinik dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo, Surabaya, Jawa Timur.

Setelah berhasil melalui uji klinik fase 1, 2, dan 3, BPOM akan mengevaluasi hasilnya dan menentukan apakah vaksin tersebut mendapatkan izin penggunaan darurat atau tidak.

Jika sudah mendapatkan EUA dari BPOM, maka vaksin tersebut dapat diproduksi massal dan diberikan kepada masyarakat.

Produksi massal vaksin itu akan dilakukan oleh PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan hasil uji praklinik bibit vaksin tersebut menunjukkan efisiensi tinggi, dan PT Biotis selanjutnya akan melakukan uji klinik untuk memeriksa keamanan dan manfaat vaksin.

Ia menuturkan uji klinik tahap 1 bertujuan untuk menguji keamanan vaksin dan akan dilakukan terhadap 100 orang.

Uji klinik tahap 2 untuk melihat imunogenitas vaksin akan dilakukan kepada 400 orang.

Sedangkan uji klinik tahap 3 untuk menguji efikasi vaksin akan melibatkan sekitar 3.000 orang.

Baca juga: Gubernur Jatim dukung percepatan uji klinis Vaksin Merah Putih
Baca juga: Menkes berharap vaksin Merah Putih bisa diproduksi semester kedua 2022
Baca juga: Unair serahkan "seed" Vaksin Merah Putih untuk dilakukan uji klinis

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menkes sebut transisi peneliti sebabkan anggaran kurang terserap

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar