Peneliti BRIN kembangkan penanda perkembangan penyembuhan luka kronis

Peneliti BRIN kembangkan penanda perkembangan penyembuhan luka kronis

Ilustrasi suplemen insulin yang digunakan penderita diabetes Untuk mengatur kadar gula darah (pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Peneliti dari Pusat Riset Kimia Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fransiska Sri Herwahyu Krismatuti melakukan riset untuk mengembangkan penanda perkembangan penyembuhan luka kronis yang akan bermanfaat, salah satunya bagi penderita diabetes yang mempunyai luka kronis.

"Penelitian ini bisa memberikan manfaat untuk penderita luka kronis, sehingga mereka bisa mengamati kondisi lukanya secara mandiri, yang tentunya sangat bermanfaat dalam menghemat waktu, tenaga dan biaya," kata Fransiska saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Riset yang akan dimulai pada akhir 2021 itu berjudul Zinc oxide Nanostructure from Galvanization Waste as Chronic Wound Prognotics.

Baca juga: Tak ada pantangan makanan bagi pengidap diabetes, asal gizinya imbang

Melalui penelitian tersebut, Fransiska ingin mengembangkan platform deteksi optik berbasis Zinc oxide (ZnO) yang dikompositkan atau dimodifikasi dengan anthocyanin (ANT) yang merupakan pewarna alami dari kol ungu.

ANT memiliki sensitivitas terhadap perubahan derajat keasaman (pH), sehingga bisa digunakan untuk mengamati perubahan pH pada luka kronis secara visual tanpa bantuan alat apapun.

Ia menuturkan pH tersebut penting untuk diamati pada luka kronis karena merupakan salah satu penanda status penyembuhan luka. Dengan demikian, dapat membantu menentukan apakah luka tersebut berkembang ke arah sembuh atau sebaliknya dengan mengamati perubahan warna ANT yang mencerminkan status penyembuhan luka.

Dalam penelitian itu, Fransiska akan memanfaatkan limbah galvanisasi yang mengandung zinc untuk membuat nano ZnO.

Ia berharap dari penelitian itu, bisa diperoleh nanokomposit ZnO/ANT yang memiliki fungsi mencegah perkembangan bakteri karena sifat antibakteri dari ZnO dan memberikan perubahan warna yang mengindikasikan kondisi luka dan dapat diamati secara mandiri oleh penderita luka kronis.

Dari segi lingkungan hidup, riset tersebut juga akan memberikan manfaat karena limbah galvanisasi bisa dimanfaatkan kembali.

Baca juga: Manfaat kembang kol untuk penyandang diabetes

Ada beberapa tahapan penelitian yang dilakukan, mulai dari pembuatan ZnO dari limbah galvanisasi, ekstraksi ANT dari kol ungu, hingga pembuatan nanokomposit dan penggunaannya untuk prognosis luka kronis. "Masing-masing tahapan itu perlu dioptimasi. Saya tidak bisa pastikan durasi waktunya berapa lama," tutur Fransiska.

Ia berharap semua proses dan tahapan riset dapat berjalan dengan baik dan bisa selesai dengan memperoleh hasil yang baik.

Di Indonesia ada 10,7 juta penderita diabetes yang menempatkan Indonesia pada peringkat tujuh dunia.

Jika luka yang dialami penderita diabetes tidak mendapat perawatan yang tepat, akan menyebabkan luka kronis yang memberikan beban keuangan bagi pasien.

Fransiska menuturkan di sisi lain ada potensi limbah galvanisasi yang belum termanfaatkan, padahal limbah itu mengandung zinc yang dapat diolah menjadi nano ZnO.

Baca juga: Pangan fungsional umbi-umbian bagi penderita diabetes

Baca juga: Diet mediterania hijau bantu turunkan berat badan dan risiko diabetes

​​​​​​​
ZnO mempunyai sifat antibakteri dan dapat dikompositkan dengan material lain, misalnya pewarna alami dari kubis ungu.

"Kubis ungu ini mempunyai sifat yang unik, karena mempunyai sensitivitas terhadap perubahan pH, sehingga memiliki peluang untuk digunakan sebagai platform monitoring perubahan pH secara visual," ujarnya.

Keuntungan dari penelitian itu, antara lain bahan baku yang melimpah dan murah karena ZnO disintesis dari hasil samping dari industri dan aman karena pewarna yang digunakan diekstrak dari bahan alami.

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar