counter

Kerugian Ekonomi Akibat Merapi Rp1,23 Triliun

Kerugian Ekonomi Akibat Merapi Rp1,23 Triliun

ilustrasi (ANTARA/Paramayuda)

Yogyakarta (ANTARA News) - Nilai kerugian di sektor ekonomi akibat erupsi Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta diperkirakan mencapai Rp1,23 triliun, kata pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Mudrajad Kuncoro.

"Sektor ekonomi merupakan sektor kedua terbesar yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi," katanya dalam diskusi pascaerupsi Gunung Merapi, di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, tahapan pemulihan ekonomi pascaerupsi Gunung Merapi diperkirakan selesai pada Desember 2012. Pembiayaan pemulihan ekonomi pascaerupsi Gunung Merapi diambilkan dari APBN, APBD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan APBD Kabupaten Sleman.

"Dana dari APBN 2011 sebesar Rp475,036 miliar, APBD DIY senilai Rp88,865 milyar, dan APBD Kabupaten Sleman dengan nilai Rp50,328 miliar," kata staf ahli gubernur DIY bidang perekonomian ini.

Ia mengatakan pada tahun anggaran 2012 terjadi perubahan komposisi pembiayaan, di mana komposisi terbesar disumbang oleh APBD DIY dengan nilai Rp187,985 miliar, dan APBN 2012 sebesar Rp163,761 miliar.

"Perekonomian DIY pascaerupsi Merapi diperkirakan masih akan tumbuh pada kisaran 5-6 persen. Namun, hal itu sangat tergantung pada seberapa cepat pemulihan ekonomi dan ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dan nasional yang membaik," katanya.

Menurut dia, banyaknya rencana pembangunan proyek investasi baik oleh swasta maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan ekonomi. Permintaan ekspor juga diperkirakan mulai membaik sehingga diharapkan memicu investasi dan produk domestik regional bruto (PDRB).

"Ekonomi DIY pascaerupsi Merapi pada 2011 secara sektoral diperkirakan masih didominasi oleh kinerja sektor hotel, restoran, transportasi, komunikasi, jasa, bangunan, dan penggalian, sedangkan sektor industri manufaktur dan pertanian akan tumbuh lamban," katanya.(*)

(U.B015/M008)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar