BKKBN buat Elsimil sebagai langkah keterbukaan informasi pada publik

BKKBN buat Elsimil sebagai langkah keterbukaan informasi pada publik

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dalam webinar Keterbukaan Informasi Publik dalam rangka Percepatan Penurunan Stunting yang diikuti di akun Youtube BKKBN Official di Jakarta, Senin (15/11/2021). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo telah membuat aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil (Elsimil) sebagai langkah keterbukaan informasi pada publik untuk mempercepat penurunan angka stunting (kekerdilan).

“Melalui aplikasi Elsimil, semua calon pengantin bila sudah mendekati hari H untuk ijab kabul pernikahan, tiga bulan sebelumnya harus melakukan pemeriksaan. Nantinya data tersebut dimasukkan dalam aplikasi itu,” kata Hasto dalam webinar Keterbukaan Informasi Publik dalam Percepatan Penurunan Stunting yang diikuti di akun Youtube BKKBN Official di Jakarta, Senin.

Aplikasi tersebut merupakan bentuk upaya yang dilakukan pemerintah dalam memberikan keterbukaan informasi pada publik khususnya ibu hamil sebagai alat pemantau kesehatan dan memberikan edukasi seputar kesiapan nikah dan hamil, sekaligus bentuk keseriusan pemerintah dalam mencapai target stunting 14 persen yang ditetapkan pada tahun 2024.

Aplikasi Elsimil bekerja dengan mencatat seluruh informasi yang didapatkan dari hasil semua pemeriksaan kesehatan yang dilakukan ibu dan calon ibu sebelum hamil, seperti pemeriksaan anemia maupun kekurangan asupan nutrisi.

Baca juga: BKKBN: Stunting harus turun agar Indonesia raih bonus demografi

Baca juga: Mendes PDTT pastikan "stunting" jadi prioritas pembangunan desa


Nantinya, saat melakukan pendataan tersebut, bagi perempuan yang dinyatakan memiliki anemia, akan dikirimkan sebuah modul pemberitahuan untuk kembali ke fasilitas kesehatan untuk diberikan tablet darah yang akan dikonsumsi calon ibu selama 90 hari dan melakukan pemeriksaan kembali.

Sedangkan bagi perempuan yang terdeteksi mengalami kekurangan gizi, akan diberikan edukasi mengenai cara-cara untuk meningkatkan indeks massa tubuh supaya calon ibu dapat memenuhi syarat untuk hamil dan tidak melahirkan bayi dalam keadaan kekerdilan.

“Ini informasi penting yang harus kita kumpulkan setiap hari. Tentu rahasia data para ibu harus dijaga dan dijamin keamanannya sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Hasto.

Setiap tahunnya terdapat 1,6 juta pasangan menikah di tahun pertama dan dari banyaknya kelahiran tersebut, sebanyak 400.000 anak lahir dalam keadaan kerdil.

Melalui pemantauan dan edukasi yang diberikan pada para ibu, nantinya diharapkan dapat terlahir generasi bangsa yang sehat dan terbebas dari kekerdilan.

Dalam kesempatan itu, Hasto berharap mulai sekarang akan lebih banyak ibu dan calon ibu yang menyadari pentingnya memeriksakan kesehatan diri dibandingkan dengan melakukan acara pre wedding yang banyak menghabiskan banyak dana.

Ia juga berharap melalui Elsimil, semua data akan terkumpul dan membantu pihaknya untuk melacak keluarga yang memiliki risiko kekerdilan dengan lebih cepat dan tepat.

“Harapannya nanti kita akan tahu dari keterbukaan informasi siapa yang melahirkan anak dengan panjang badan 48 sentimeter dan lain sebagainya. Itu karena memiliki potensi kerdil,” kata dia.*

Baca juga: Kasus stunting di Mukomuko tertinggi di Bengkulu capai 10,38 persen

Baca juga: UGM kembangkan alat deteksi dini stunting

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menkes Budi akan tambahkan alat USG di seluruh Puskesmas

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar