Surabaya jadi percontohan nasional menuju PTM 100 persen

Surabaya jadi percontohan nasional menuju PTM 100 persen

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat meninjau PTM di salah satu SMP di Kota Surabaya, beberapa waktu lalu. (ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya)

semua yang ada di Surabaya selalu introspeksi diri, menjaga prokes, tidak saling menyalahkan
Surabaya (ANTARA) - Kota Surabaya, Jawa Timur, menjadi percontohan nasional dalam menuju Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen lantaran dinilai berhasil dengan cepat menangani pandemi COVID-19 serta penyelenggaraan PTM.

"Kota Surabaya dijadikan acuan. Selama ini, asesmennya, cek lapangan, setelah itu melakukan (surveilans, red.) 10 persen di sekolah tadi itu ternyata Surabaya yang paling siap," ujar Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di Surabaya, Rabu.

Dia mengatakan bahwa hal itu telah disampaikan tenaga ahli Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Andani Eka Putra saat berkunjung ke Balai Kota Surabaya pada Senin (15/11).

Ia menyatakan pada intinya pemerintah pusat ingin menjadikan Kota Surabaya sebagai acuan nasional dalam menuju penyelenggaraan PTM 100 persen, sebab daerah itu dinilai  paling siap untuk melaksanakan kebijakan itu.

Terkait dengan penanganan COVID-19 dan penyelenggaraan PTM, katanya, Kota Surabaya dipandang paling berhasil oleh pemerintah pusat.

Baca juga: Satuan pendidikan wajib PTM bila pendidik sudah 100 persen divaksin

Makanya, katanya, kemudian Surabaya bisa menjadi contoh bagi kabupaten/kota atau kepala daerah lain di Indonesia.

"Ternyata dipandang pemerintah pusat ini (Surabaya, red.) yang terbaik sehingga Kota Surabaya bisa dicontohkan ke tempat-tempat lainnya," ujarnya.

Bagi Eri, hal terpenting adalah PTM di Surabaya dapat berjalan sebab ketika para pelajar hanya mengikuti pendidikan melalui daring, akan sulit mereka lebih intens memahami pembelajaran yang diberikan.

"Yang penting pendidikan ini berjalan. Karena bagaimanapun kalau tidak bertemu (PTM, red.), ini agak susah. Yang kedua selalu saya katakan minta izin orang tua," katanya.

Meski demikian, Eri kembali menegaskan bahwa sekolah bukanlah satu-satunya tempat penularan COVID-19.

Sebab, katanya, bisa saja anak itu tertular COVID-19 ketika bermain atau beraktivitas di luar sekolah.

"Jadi sekolah bukan satu-satunya tempat penularan. Kalau sekolah dilarang tapi anaknya di rumah dibiarkan, tidak pakai masker dan nanti waktunya sekolah kena, terus sekolah yang disalahkan," katanya.

Makanya, Wali Kota Eri berpesan kepada seluruh masyarakat agar saling introspeksi diri, saling menjaga dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) di manapun berada.

Dengan gotong-royong dan kerja sama, ia optimistis pandemi COVID-19 bisa terlewati.

"Saya berharap semua yang ada di Surabaya selalu introspeksi diri, menjaga prokes, tidak saling menyalahkan. Inilah Surabaya, yang penuh gotong royong, insyaallah COVID-19 bisa dilewati," katanya.

Baca juga: Disdikpora Bali: Pelaksanaan PTM berjalan sesuai juknis prokes
Baca juga: Kemendikbudristek dukung vaksinasi anak 6-11 tahun di sekolah
Baca juga: Kemendikbud: Guru ujung tombak yang bisa jaga psikologis siswa


 

Pewarta: Abdul Hakim
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Vaksinasi sambil melihat alutsista TNI di atas kapal perang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar