Harga emas jatuh di bawah 1.800 dolar karena "yield" obligasi menguat

Harga emas jatuh di bawah 1.800 dolar karena "yield" obligasi menguat

Ilustrasi - Batangan emas di Pabrik Pemisahan Emas dan Perak Austria di Wina, Austria. ANTARA/REUTERS/Leonhard Foeger/am.

Chicago (ANTARA) - Emas jatuh ke level terendah hampir tiga minggu pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), menjadi bertengger di bawah level psikologis 1.800 dolar, karena pencalonan kembali Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell memicu spekulasi kenaikan suku bunga yang lebih cepat, memperkuat dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, anjlok 22,5 dolar AS atau 1,25 persen, menjadi ditutup pada 1.783,80 dolar AS per ounce, merupakan penurunan sesi keempat berturut-turut. Sementara emas di pasar spot turun 0,9 persen menjadi 1.788,51 dolar AS per ounce pada pukul 19.13 GMT.

Sehari sebelumnya, Senin (22/11/2021), emas berjangka terperosok 45,3 dolar AS atau 2,45 persen menjadi 1.806,30 dolar AS, setelah terpangkas 9,8 dolar AS atau 0,53 persen menjadi 1.851,60 dolar AS pada Jumat (19/11/2021), dan jatuh 8,8 dolar AS atau 0,47 persen menjadi 1.861,40 dolar AS pada Kamis (19/11/2021).

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang saingannya relatif stabil setelah mencapai level tertinggi dalam 16 bulan membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS menguat.

"Emas telah mengalami aksi jual panik selama 48 jam terakhir dan saya akan menyalahkan sebagian besar dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun. Karena kurva imbal hasil semakin curam, emas berjangka tidak merespons dengan baik," kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.

Investor bertaruh Powell akan meningkatkan kecepatan di mana bank sentral menormalkan kebijakan moneter untuk mengatasi lonjakan harga-harga konsumen dengan lebih baik. Powell dan Menteri Keuangan Janet Yellen akan muncul di hadapan Komite Perbankan Senat minggu depan.

Harga emas telah jatuh hampir 100 dolar AS sejak mencapai puncak lima bulan di 1.876,90 dolar AS per ounce minggu lalu.

Namun, Ross Norman, seorang analis independen, mengatakan "terlalu dini untuk menghapus (write off) emas".

"Inflasi masih terus berjalan, dan ada pembatasan COVID-19 di Eropa sekali lagi. Tetapi beban ada pada bullish untuk membuktikan kasus mereka dan menggalang dukungan, jika gagal, logam dapat melayang lebih rendah lagi," tambah Norman.

Emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah menantang status itu karena mereka diterjemahkan ke dalam peluang kerugian yang lebih tinggi memegang emas.

Emas juga tertekan setelah Indeks Manajer pembelian (PMI) manufaktur IHS Markit yang dirilis pada Selasa (23/11/2021) meningkat menjadi 59,1 pada November dari 58,4 pada Oktober, pada dasarnya sejalan dengan perkiraan ekonom 59,0.

Pasar AS akan ditutup pada Kamis (25/11/2021) untuk merayakan Thanksgiving.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 86,2 sen atau 3,55 persen, menjadi ditutup pada 23,435 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 50,9 dolar AS atau 5,01 persen, menjadi ditutup pada 964,2 dolar AS per ounce.

Baca juga: Saham Inggris untung hari kedua, indeks FTSE 100 terkerek 0,16 persen
Baca juga: Saham Prancis merosot hari ke 4, indeks CAC 40 terpangkas 0,85 persen
Baca juga: IHSG ditutup turun dipimpin sektor transportasi dan keuangan

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Turunnya harga cabai merah dan emas picu deflasi di Sumbar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar