Ritual "Siraman Jiwa Loro Blonyo" di Borobudur

Siraman ini simbol pembersihan jiwa, tanda telah rampung pembuatannya dan siap dikirab
Borobudur (ANTARA News) - Kalangan seniman kawasan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, melakukan ritual kontemporer "Siraman Jiwa Loro Blonyo", sebagai salah satu rangkaian kegiatan pengembangan kepariwisataan kawasan bertajuk "Borobudur Bangkit Bersama", 15-17 April 2011.

Mereka yang tergabung dalam Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) pimpinan Umar Chusaeni bersama pengurus Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Kabupaten Magelang itu, ritual di depan Pondok Tingal, sekitar 500 meter timur Candi Borobudur, di Magelang, Jumat.

Sepasang patung raksasa "Loro Bloyo" yang dibuat Sujono, seniman Sanggar Saujana Merbabu, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, terpajang di depan Pondok Tingal. Patung itu simbol perkawinan antara lelaki dengan perempuan, bagian dari properti tradisi pesta pernikahan masyarakat Jawa.

Sujono mengenakan selempang kain batik diiringi seniman KSBI berpakaian motif lurik dan penutup kepala "iket" berjalan dari halaman pondok itu menuju pintu masuk tempat tersebut. Seorang di antara mereka memayungi Sujono dan seorang lain menaburkan bunga.

Tabuhan beberapa perangkat gamelan seperti gender, demung, dan saron mengiring prosesi itu. Para pengurus Iwapi setempat yang mengenakan pakaian adat Jawa, kebaya, berdiri di depan sepasang patung itu.

Tumpeng lengkap antara lain sayuran, nasi berbentuk gunungan, lauk pauk, sayuran, dan "pincuk" terpajang di atas papan dari rangkaian bambu "lincak", melengkapi properti ritual tersebut.

Sujono membuka dua lembar kain yang menutup patung raksasa karyanya itu, kemudian duduk bersila di depannya. Sejumlah pengurus Iwapi setempat secara bergantian menyiramkan air dari bokor berwarna kuning keemasan ke tubuh pematung dan karyanya loro blonyo raksasa yang dibuat sejak Januari 2011, pascaletusan Gunung Merapi.

Patung yang dalam tradisi Jawa sebagai lambang kemakmuran dan keharmonisan hidup berkeluarga itu, rencananya dikirab sekitar seribu seniman berasal dari berbagai grup kesenian tradisional di Kabupaten Magelang pada Minggu (17/4) menuju kompleks Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB).

"Siraman ini simbol pembersihan jiwa, tanda telah rampung pembuatannya dan siap dikirab. Semua yang terlibat dalam kegiatan selama tiga hari ini memiliki niat baik untuk pengembangan kepariwisataan Candi Borobudur pascaletusan Merapi," kata Sujono.

Patung yang berupa sepasang pengantin, laki-laki dengan perempuan, dalam posisi duduk menggunakan pakaian adat Jawa itu dibuat dari berbagai jenis pohon yang mati akibat letusan Gunung Merapi akhir Oktober hingga pertengahan November 2010.

Tinggi patung pengantin laki-laki tiga meter dan lebar 125 centimeter, sedangkan tinggi patung perempuan 2,6 meter dan lebar 110 centimeter.

"Dalam tradisi perkawinan Jawa juga ada prosesi siraman sebelum ijab kabul," katanya.

Ketua Iwapi Kabupaten Magelang, Dewi Setya Sri Kuncoro, mengatakan, pihaknya bekerja sama antara lain dengan KSBI, Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Pemkab Magelang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan PT TWCB menggelar rangkaian "Borobudur Bangkit Bersama".

Kegiatan di Candi Borobudur dan kawasannya itu antara lain bazar produk UMKM, kirab budaya, lomba mewarnai gambar, jalan santai wisata, dialog budaya, pentas berbagai kesenian tradisional dan modern, performa seni, dan penyerahan bantuan untuk korban banjir lahar Gunung Merapi.

"Ini bagian upaya kami untuk terlibat membangkitkan kepariwisataan Candi Borobudur," katanya.
(M029*H018/M008)

Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Ritual Pao Oen awali perayaan Imlek di Solo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar