Menteri: Optimalisasi sumber energi alternatif untuk kurangi impor BBM

Menteri: Optimalisasi sumber energi alternatif untuk kurangi impor BBM

Tangkapan layar - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif dalam webinar bersama Majalah Sawit Indonesia, Jakarta, Selasa (30/11). ANTARA/M. Baqir Idrus Alatas/aa.

Saat ini, konsumsi energi nasional kita masih didominasi oleh sumber energi fosil. Indonesia berada dalam situasi di mana konsumsi BBM lebih tinggi dari kapasitas produksinya, sehingga mengakibatkan peningkatan tingkatan impor minyak dan defisit nera
Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan optimalisasi sumber-sumber energi alternatif perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

“Saat ini, konsumsi energi nasional kita masih didominasi oleh sumber energi fosil. Indonesia berada dalam situasi di mana konsumsi BBM lebih tinggi dari kapasitas produksinya, sehingga mengakibatkan peningkatan tingkatan impor minyak dan defisit neraca perdagangan,” ujarnya dalam webinar bersama Majalah Sawit Indonesia, di Jakarta, Selasa.

Dia menyatakan bauran energi primer Indonesia kini didominasi energi fosil yang memasok kurang lebih 90 persen dari produksi energi dalam negeri. Sementara itu, pencapaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) tahun 2020 hanya berada di kisaran 11,2 persen.

Di sisi lain, komitmen global untuk menegaskan tujuan jangka panjang menahan kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat celcius disebut demikian kuat.

"Oleh karena itu, Presiden (Joko Widodo) menegaskan komitmen Indonesia untuk mengurangi 29-41 persen emisi nasional pada tahun 2030 berdasarkan kondisi kita,” ungkap dia.

Kementerian ESDM dinyatakan telah merumuskan peta jalan menuju Nett Zero Emission (NZE) di sektor energi yang menguraikan upaya untuk pengembangan EBT, pengurangan bahan bakar fosil, dan penerapan teknologi bersih untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2060 ataupun lebih cepat apabila mendapatkan dukungan internasional.

Adapun beberapa hal yang menjadi paling penting dalam peta jalan menuju NZE di tahun 2060 ialah pengembangan EBT yang diupayakan mencapai 100 persen dalam bauran energi nasional.

Selanjutnya, mengurangi emisi antara lain melalui retirement Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Lalu, pengurangan konsumsi energi fosil baik di sektor residensial, transportasi, maupun sektor pembangkit listrik.

Terakhir, lanjut Arifin, pemanfaatan peralatan efisiensi energi dalam skala-skala besar.

Dalam rangka meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi, Kementerian ESDM dikatakan menyusun grand strategy energy nasional yang sedang pada tahap pematangan dan pendetailan. Yakni, memuat strategi untuk menjawab tantangan saat ini seperti ikhtiar mengurangi impor BBM.

Untuk menurunkan impor BBM, kata dia, direncanakan sejumlah strategi di antaranya penggunaan kendaraan berbasis baterai dan penggunaan biodiesel yang terus dipertahankan serta ditingkatkan dengan mengoptimalkan produksi bahan bakar nabati (BBN) jenis biodiesel dalam negeri.

“Dengan berbagai kebijakan tersebut, diharapkan pada tahun 2027 kita tidak lagi impor BBM, sehingga kita dapat menghemat devisa serta dapat meningkatkan kesejahteraan petani sawit melalui program mandatori BBN,” tutur Menteri ESDM.

Baca juga: Menteri ESDM: EBT topang ketahanan energi nasional dan tekan emisi
Baca juga: Energi fosil diyakini masih jadi urat nadi perekonomian
Baca juga: Menteri ESDM: Kesempatan investasi EBT terbuka luas di Indonesia

 

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kementerian ESDM targetkan 24 ribu SPKLU di tahun 2030

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar