Industri fesyen dituntut jawab isu lingkungan dan teknologi

Industri fesyen dituntut jawab isu lingkungan dan teknologi

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo saat menghadiri acara diskusi di Balairung Soesilo Soedarman, Kemenparekraf, Jakarta, Selasa (30/11/2021). ANTARA/Rizka Khaerunnisa.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo mengatakan industri fesyen, termasuk modest fashion, harus bisa menjawab tantangan terkait isu lingkungan dan teknologi di Indonesia.

Angela mengatakan industri fesyen merupakan sektor penting dalam strategi pemulihan ekonomi kreatif di Indonesia. Ia juga menggarisbawahi dua hal yang dapat dijadikan peluang bagi pemulihan ekonomi kreatif, khususnya sektor busana muslim.

Pertama, Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar yang dapat dijadikan sebagai basis besar untuk konsumen modest fashion. Kedua, industri fesyen merupakan kontributor GDP terbesar kedua di sektor ekonomi kreatif.

“Oleh karena itu, kita harus melihat tantangan besar ini bukan sebagai suatu permasalahan akan tetapi merupakan kesempatan,” kata Angela di Balairung Soesilo Soedarman, Kemenparekraf, Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan industri fesyen perlu menjawab tantangan terkait isu lingkungan dan keberlanjutan dengan melakukan berbagai inovasi.

“Isu tentang keberlanjutan juga menjadi bagian tantangan besar dalam tren konsumen,” tuturnya.

Sebagai contoh, lanjut Angela, industri fesyen dapat menggunakan bahan ramah lingkungan yang dipadukan dengan budaya lokal ke dalam desain dan mengimplementasikan inklusivitas kaum muda, perempuan, dan disabilitas dalam praktik bisnis.

Menurut data Nielsen, sebut Angela, sebesar 73 persen usia milenial bersedia membayar lebih untuk produk yang berkelanjutan. Pertumbuhan tersebut seiring dengan banyaknya kaum muda yang menyadari isu sosial, lingkungan, budaya, serta kelestarian.

Selain itu, pihaknya juga mendorong industri fesyen untuk melakukan adaptasi serta transformasi ke teknologi digital hingga ke inti bisnis.

“Mulai dari model bisnis dan organisasi hingga sumber daya manusia, kita harus mampu beradaptasi untuk digitalisasi hingga ke intinya. Tidak hanya perihal menjual barang secara daring, tapi juga menganalisis big data untuk memprediksi tren dan membuat produksi lebih efisien,” kata Angela.

Menurut Angela, industri fesyen juga membutuhkan untuk melengkapi kapabilitas baru pada sumber daya manusianya untuk memaksimalkan penggunaan teknologi.

“Pandemi COVID-19 telah mengubah cara kita hidup dan melakukan bisnis, kondisi ini juga telah mengakselerasi transformasi digital di seluruh dunia,” tuturnya.

Ia mengatakan Kemenparekraf akan melanjutkan upaya transformasi digital serta mendorong isu lingkungan dan keberlanjutan di industri fesyen, termasuk modest fashion.

“Dengan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan serta bersama setiap orang yang hadir di acara ini, saya percaya kita bisa mempercepat perubahan yang kita butuhkan dan memperkuat ekosistem industri modest fashion,” katanya.

Baca juga: Sandiaga yakin industri modest fashion pulih pascapandemi

Baca juga: Kemenparekraf: Wisatawan domestik adalah pahlawan

Baca juga: Kemenparekraf tetapkan Ambon Kota Kreatif 2021

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menparekraf tegaskan Indonesia aktif di forum ASEAN Travel Forum

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar