Indonesia-Seychelles bahas peluang investasi berbasis ekonomi biru

Indonesia-Seychelles bahas peluang investasi berbasis ekonomi biru

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. ANTARA/HO-KKP/am.

Saya sangat mengapresiasi dukungan serta kerja sama Pemerintah Seychelles yang mendorong minat dan partisipasi publik dalam upaya percepatan transformasi ekonomi yang lebih inklusif, berkelanjutan dan kemitraan strategis dalam eksplorasi kemungkinan
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), berkolaborasi dengan Republik Seychelles antara lain mengenai peluang kerja sama strategis dan investasi berbasis ekonomi biru.

"Saya sangat mengapresiasi dukungan serta kerja sama Pemerintah Seychelles yang mendorong minat dan partisipasi publik dalam upaya percepatan transformasi ekonomi yang lebih inklusif, berkelanjutan dan kemitraan strategis dalam eksplorasi kemungkinan kegiatan percontohan atau investasi lain, berbasis ekonomi biru," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam siaran pers di Jakarta, Rabu.

Menteri Trenggono mengemukakan, Seychelles sebagai negara pionir ekonomi biru melalui program blue bond sovereign, menyadari bahwa potensi perikanan suatu daerah dapat menjadi jaminan bagi investor khususnya dalam pembangunan wisata bahari.

Ia menuturkan, Pemerintah RI khususnya KKP sebagai pengelola wilayah laut, terus berupaya mewujudkan keseimbangan ekologi dan ekonomi serta inovasi teknologi dengan menerapkan konsep ekonomi biru.

"Beragam program terobosan dilakukan oleh KKP dengan menerapkan prinsip ekonomi biru, yakni penerapan penangkapan ikan yang terukur di setiap wilayah penangkapan perikanan untuk keberlanjutan ekologi, peningkatan kesejahteraan nelayan dan juga peningkatan PNBP; pengembangan budidaya berbasis pada ekspor dengan empat komoditas unggulan di pasar global, yaitu udang, lobster, kepiting, dan rumput laut; serta pembangunan kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal di perairan tawar, perairan payau, dan laut," paparnya.

Menurut dia, berbagai program terobosan tersebut akan memiliki multiplier effect (efek berganda) bagi pembangunan nasional, selain sebagai penopang ketahanan pangan nasional.

Kebijakan tersebut, lanjutnya, juga diharapkan mendorong peluang investasi pada aktivitas primer dan sekunder, salah satunya dengan mengelola wisata bahari dengan tidak melupakan pentingnya menjaga ekologi.

Salah satu bentuk kerja sama RI-Seychelles itu antara lain melalui perhelatan "Indonesia-Seychelles Blue Economy Workshop: Opportunities for Collaboration and Invesment", di Kantor Pusat KKP, Jakarta, 30 November 2021.

Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito, menuturkan bahwa sebagai negara kepulauan, Seychelles memberi perhatian yang amat serius terkait isu penyelamatan lingkungan, khususnya kelautan.

Untuk itu, ujar Nico Barito pihaknya mengusulkan kolaborasi bidang kelautan, khususnya di pulau-pulau kecil dan pariwisata bahari berkelanjutan, perikanan yang bertanggung jawab, pelestarian dan monitoring keanekaragaman hayati serta kepulauan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sekaligus pelestarian lingkungan.

“Dalam membangun blue economy, kami berfokus pada kualitas ketimbang kuantitas. Seperti pada pengembangan pariwisata, perlu diterapkan konsep pembangunan yang dapat meminimalkan dampak negatifnya, yaitu melalui konsep pariwisata berkelanjutan. Konsep berkelanjutan tersebut harus dipraktikkan, baik oleh masyarakat, yang dalam hal ini tidak hanya penyedia layanan wisata saja, tetapi juga wisatawan serta komunitas tuan rumah maupun pemerintah setempat. Begitu juga pada zonasi penangkapan, perlu diatur pula kuota ikan yang boleh ditangkap untuk industri, nelayan tradisional dan kuota untuk hobi atau wisata untuk menghindari over fishing," ujar Nico.

Pihaknya juga menginginkan kolaborasi perihal investasi terkait praktik terbaik Seychelles dalam ekonomi biru dan penyusunan rekomendasi kebijakan untuk mencapai koherensi ekonomi biru, serta eksplorasi sarana dan prasarana dalam penetapan prioritas pengelolaan pesisir termasuk pemantauan, penelitian, perlindungan pesisir, dan tata ruang berbasis risiko serta peningkatan kapasitas SDM kelautan dan perikanan.

Pihak Indonesia mengusulkan adanya kerja sama dalam pengembangan destinasi wisata seperti Maratua di Pulau Kalimantan dan lokasi potensial Indonesia lainnya melalui perluasan jejaring hotel internasional kelas dunia; sinergi aktif dalam menarik investasi asing dengan jaminan kekayaan laut Indonesia (Blue Bonds) sebagai upaya membangun sektor kelautan dan perikanan Indonesia yang berkelanjutan; hingga pengembangan SDM kelautan dan perikanan serta benchmarking pengembangan wisata bahari sebagai pengembangan modul pelatihan wisata bahari di lokasi wisata Indonesia.

Sebagaimana diketahui, Seychelles menjadi negara pertama yang meluncurkan obligasi biru berdaulat di dunia (sovereign blue bond) di sela-sela Our Ocean Conference pada tanggal 28 Oktober 2018 di Bali.

Saat ini, nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke Seychelles pada tahun 2020 tercatat sebesar 546.428 dolar AS atau mengalami kenaikan sekitar 733 persen dari tahun sebelumnya sebesar 74.449 dolar.

Baca juga: Bappenas luncurkan kerangka pembangunan ekonomi biru
Baca juga: Menteri Kelautan ingin ekonomi biru dilengkapi pengawasan terintegrasi
Baca juga: KKP pamerkan hasil ekonomi biru di Dubai Expo 2020

 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Hingga 22 Desember, PNBP kelautan dan perikanan capai Rp920 miliar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar