Pupuk Indonesia optimalkan sisa alokasi pupuk akhir tahun

Pupuk Indonesia optimalkan sisa alokasi pupuk akhir tahun

Arsip Foto - Pekerja menata stok pupuk NPK bersubsidi saat monitoring penyaluran stok pupuk bersubsidi di Gudang Penyangga Petrokimia Gresik, Pakisaji, Malang, Jawa Timur, Kamis (6/12/2018). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc/aa.

Pupuk Indonesia sebagai holding BUMN Pupuk bersama anak-anak perusahaannya, mendapat amanah pemerintah untuk menyiapkan dan menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai dengan penugasan pemerintah
Jakarta (ANTARA) - PT Pupuk Indonesia (Persero) berupaya mengoptimalkan sisa alokasi pupuk subsidi di akhir tahun 2021 agar bisa dimanfaatkan dalam momen musim tanam yang sedang berjalan.

Senior Executive Vice President (SEVP) Operasi Pemasaran Pupuk Indonesia Gatoet G. Noegroho dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa salah satu upaya mengoptimalisasi sisa pupuk subsidi adalah dengan cara pemupukan berimbang.

"Sebagaimana kita semua ketahui, Pupuk Indonesia sebagai holding BUMN Pupuk bersama anak-anak perusahaannya, mendapat amanah pemerintah untuk menyiapkan dan menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai dengan penugasan pemerintah," kata Gatoet.

Gatoet dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penerapan Pupuk Berimbang bersama anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (30/11), mengungkapkan bahwa pendistribusian dan penyaluran pupuk subsidi masih memiliki tantangan, seperti alokasi yang ditetapkan masih kurang dari yang dibutuhkan petani.

Di tengah alokasi tersebut, Gatoet mengatakan bahwa masih banyak petani yang menggunakan pupuk secara berlebihan atau tidak sesuai rekomendasi. Padahal penggunaan pupuk sesuai rekomendasi bisa menjadi salah satu upaya dalam momen musim tanam.

Dia mengatakan Pupuk Indonesia membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar penyaluran pupuk bersubsidi dapat berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Apalagi, lanjutnya, dalam pelaksanaan penyaluran pupuk bersubsidi tidak luput dari berbagai tantangan dan kendala di lapangan.

"Ini menjadi tantangan di lapangan, adalah bagaimana kita dapat menyosialisasikan kepada petani mengenai tata cara pemupukan berimbang, agar pupuk yang dipakai lebih efisien, tidak boros, dan dapat mendorong hasil panen menjadi lebih baik," kata Gatoet.

Adapun contoh rekomendasi pupuk berimbang untuk komoditas padi adalah 5:3:2 dengan rincian 500 kg pupuk organik, 300 kg pupuk NPK, dan 200 kg pupuk urea.

Oleh karena itu, Gatoet berharap melalui bimtek ini mendapat dukungan dari pihak parlemen khususnya Komisi IV DPR untuk menyosialisasikan serta mencarikan solusi lain dalam mengoptimalkan penggunaan pupuk subsidi untuk mendukung musim tanam.

Selain itu, lanjut Gatoet, Pupuk Indonesia juga berharap kegiatan pemupukan berimbang dapat didukung oleh teknologi dan infrastruktur pertanian yang baik sehingga dapat meningkatkan produktivitas yang berujung kepada meningkatnya pendapatan petani.

"Perlu kita ketahui bersama juga, bahwa ketersediaan pupuk bersubsidi memang terbatas. Oleh karena itu pemerintah menerapkan sejumlah aturan dan persyaratan sehingga penyalurannya lebih tepat sasaran dan diterima oleh mereka yang berhak. Dan tentunya tidak semua petani pada akhirnya dapat memperoleh pupuk bersubsidi sesuai dengan keinginannya. Sedangkan, pupuk non subsidi harganya lebih tinggi jika dibandingkan pupuk bersubsidi," kata dia.

Baca juga: Pupuk Indonesia salurkan 80 persen pupuk bersubsidi ke Aceh
Baca juga: Kinerja unggul Pupuk Kaltim dijadikan model industri Tanah Air
Baca juga: Pupuk Indonesia tanam 12.300 bibit pohon peringati Hari Menanam Pohon

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Membangun Indonesia dengan energi hijau - bagian 2

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar