OECD sebut inflasi adalah risiko utama terhadap prospek ekonomi global

OECD sebut inflasi adalah risiko utama terhadap prospek ekonomi global

Foto Dokumen - Tampak luar kantor pusat Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) di Paris 3 September 2009. ANTARA/REUTERS/Charles Platiau/Foto Dokumen

Paris (ANTARA) - Risiko utama terhadap prospek ekonomi global yang optimis adalah bahwa lonjakan inflasi saat ini terbukti lebih lama dan naik lebih jauh dari yang diperkirakan saat ini, OECD mengatakan pada Rabu (1/12/2021).

Pertumbuhan global akan mencapai 5,6 persen tahun ini sebelum berkurang menjadi 4,5 persen pada 2022 dan 3,2 persen pada 2023, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan itu mengatakan dalam prospek ekonomi terbarunya.

Prediksi tersebut sedikit berubah dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,7 persen untuk tahun 2021, sedangkan perkiraan untuk tahun 2022 tidak berubah. OECD tidak membuat perkiraan untuk 2023 sampai sekarang.

Dengan ekonomi global yang rebound dengan kuat, perusahaan-perusahaan berjuang untuk memenuhi permintaan pelanggan pascapandemi, menyebabkan inflasi melonjak di seluruh dunia karena kemacetan telah muncul dalam rantai pasokan global.

Seperti kebanyakan pembuat kebijakan, OECD mengatakan bahwa lonjakan itu diperkirakan bersifat sementara dan memudar karena permintaan dan produksi kembali normal.

"Namun demikian, risiko utama adalah bahwa inflasi terus mengejutkan naik, memaksa bank-bank sentral utama untuk mengetatkan kebijakan moneter lebih awal dan lebih besar dari yang diproyeksikan," kata OECD.

Asalkan risiko itu tidak terwujud, inflasi di OECD secara keseluruhan kemungkinan mendekati puncaknya hampir 5,0 persen dan secara bertahap akan mundur ke sekitar 3,0 persen pada tahun 2023, kata organisasi yang berbasis di Paris itu.

Dengan latar belakang itu, hal terbaik yang dapat dilakukan bank-bank sentral untuk saat ini adalah menunggu ketegangan pasokan mereda dan memberi sinyal bahwa mereka akan bertindak jika perlu, kata OECD.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pada Selasa (30/11/2021) bahwa bank sentral AS akan mempertimbangkan untuk mengurangi pembelian obligasi skala besar lebih cepat di tengah ekonomi yang kuat dan ekspektasi bahwa lonjakan inflasi akan bertahan hingga pertengahan tahun depan.

Di Amerika Serikat, OECD memperkirakan ekonomi terbesar dunia itu akan tumbuh 5,6 persen tahun ini, 3,7 persen pada 2022, dan 2,4 persen pada 2023, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 6,0 persen pada 2021 dan 3,9 persen pada 2022.

Prospek untuk China juga kurang optimistis, dengan perkiraan pertumbuhan sebesar 8,1 persen pada tahun 2021 serta 5,1 persen pada tahun 2022 dan 2023 sedangkan sebelumnya OECD memperkirakan 8,5 persen pada tahun 2021 dan 5,8 persen pada tahun 2022.

Namun, prospek zona euro sedikit lebih optimis dari yang diperkirakan sebelumnya dengan pertumbuhan yang diperkirakan sebesar 5,2 persen pada tahun 2021, 4,3 persen pada tahun 2022 dan 2,5% pada tahun 2023 dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 5,3 persen pada tahun 2021 dan 4,6 persen pada tahun 2022.

Baca juga: OECD : Ekonomi global tumbuh lebih tinggi, namun tidak merata
Baca juga: OECD: Peluncuran vaksin, stimulus AS tingkatkan prospek ekonomi global
Baca juga: IMF meningkatkan prospek pertumbuhan global jadi 6 persen pada 2021

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menkeu waspadai risiko kenaikan inflasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar