PHM targetkan Petani Maju 4.0 jadi contoh agrowisata ramah lingkungan

PHM targetkan Petani Maju 4.0 jadi contoh agrowisata ramah lingkungan

Demplot Pertakultur Pendopo Tani Baanjung yang merupakan program pemberdayaan masyarakat PT Pertamina Hulu Mahakam di Samboja, Kutai Kartanegara, Kaltim. ANTARA/HO-Faisal Yunianto.

Harapannya, pada tahun 2022, program Petani Maju 4.0 dapat menjadi rujukan dan wilayah percontohan agrowisata ramah lingkungan di wilayah Kutai Kartanegara
Kutai Kartanegara, Kaltim (ANTARA) - PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menargetkan Program Petani Maju 4.0 di Handil Baru Barat, Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dapat menjadi rujukan dan wilayah percontohan agrowisata ramah lingkungan.

PHM menginisiasi Program Petani Maju 4.0 sejak tahun 2018 karena perusahaan telah mengidentifikasi berbagai persoalan terkait pengelolaan lahan tersebut. Program ini dimulai dengan membuat pemetaan sosial dan identifikasi wilayah, dilanjutkan dengan mendorong pembentukan kelompok tani, dan saat ini program tersebut sudah bergulir, kata Frans Alexander A Hukom, Head of Communication, Relations & CID PHM kepada pers di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Jumat.

Frans Hukom mengatakan program saat ini ada pada tahapan penguatan dan pengembangan dimana PHM aktif memberikan pelatihan dan pendampingan kader pemuda dan wanita tani.

"Harapannya, pada tahun 2022, program Petani Maju 4.0 dapat menjadi rujukan dan wilayah percontohan agrowisata ramah lingkungan di wilayah Kutai Kartanegara," katanya.

Teknik yang diperkenalkan pada program ini adalah pertanian pertakultur yang ramah lingkungan dan memperhatikan aspek keberlanjutan. Teknik pertanian ini salah satunya menerapkan pemanfaatan bahan dan alat pertanian yang diproduksi sendiri oleh kelompok tani.

Saat ini PHM membina 2 kelompok tani yang menguasai pengetahuan bertani dengan teknik pertakultur. Contohnya, limbah pertanian dan peternakan diolah menjadi pupuk organik dan secara mandiri telah mampu memproduksi pupuk organik cair (PCO) hingga 500 liter per bulan.

PCO ini juga digunakan untuk pemupukan dalam proses penyemaian tumbuhan langka di greenhouse BSP untuk mendukung program keanekaragaman hayati. Kelompok petani binaan ini juga dilatih memproduksi media tanam secara mandiri, yang kini mencapai 300 kg per bulan.

"Dari kedua material pendukung tersebut, kelompok tani saat ini bisa mendapatkan tambahan penghasilan hingga Rp9,6 juta per tahun," ungkap Frans.

Kelompok petani di Samboja kini juga memasok kebutuhan sayur mayur dan buah buahan yang mereka hasilkan untuk katering PHM melalui kontraktor perusahaan jasa katering yang melayani PHM di fasilitas BSP. Pengiriman perdana produk pertanian itu berlangsung pada 5 Agustus 2020 lalu.

Dengan demikian kelompok tani ini juga ikut mendukung kegiatan operasi perusahaan melalui pasokan buah-buahan dan sayuran seperti, pepaya, nenas, tomat, timun, terong dan lain lain. Terlebih lagi dimasa pandemi ini pasokan sayur dan buah-buahan akan turut meningkatkan imunitas para pekerja dan mitra PHM untuk kelancaran produksi minyak dan gas di BSP khususnya.

Menurut salah seorang petani pemuda binaan PHM, Shaqil Effendi (23 tahun), pandangan bahwa menjadi petani bukan profesi yang menarik bagi banyak pemuda sudah merupakan pandangan masa lalu.

Pemuda kelahiran Senipah, Kalimantan Timur, kini terpanggil menjadi petani, karena dia melihat tidak ada regenerasi petani di desanya. Faktor lain yang mendorongnya untuk bertani adalah pengenalan konsep pemanfaatan teknologi untuk pengembangan pertanian yang ditawarkan oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yakni program Petani Maju 4.0. Hal itulah yang membuat Shaqil bersama 26 pemuda dari desanya, kini bergiat di bidang pertanian.

Desa tempat tinggal Shaqil berjarak 2 kilometer dari salah satu fasilitas produksi di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, yakni Bekapi-Senipah-Peciko-South Mahakam (BSP), yang dioperasikan PHM. Kampung itu sejatinya potensial untuk dijadikan area pertanian, karena di sana terhampar 41 hektar lahan tidur.

Shaqil mengatakan teknologi lain yang diperkenalkan adalah pemanfaatan aplikasi Tanam Digital yang menjadi sarana pemasaran daring serta akses informasi produk pertanian dan peternakan. Saat ini para pemuda tersebut menjadi operator aplikasi tersebut, guna menghadirkan investor dari luar Kampung Kamal.

Hal menarik lainnya, kepada mereka diperkenalkan penggunaan drone untuk kegiatan patroli hijau. Melalui penggunaan drone mereka mampu mengolah data untuk memantau kesuburan dan sekaligus mengidentifikasi titik-titik lahan yang rawan kebakaran.

"Dengan menjadi petani Saya bisa kuliah dengan biaya sendiri," ujar Shaqil.

Baca juga: Pertamina Hulu Mahakam mulai pengeboran sumur di Kalimantan
Baca juga: PHM Mengebor Sumur Eksplorasi Baru di Lapangan Tunu WK Mahakam
Baca juga: Pertamina Hulu Mahakam mulai pembangunan anjungan lepas pantai Kaltim

Pewarta: Faisal Yunianto
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pengeboran di Blok Mahakam gunakan SF-05 dari Pertamina

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar