SKK Migas: Cadangan migas ditemukan di lepas pantai Natuna Timur

SKK Migas: Cadangan migas ditemukan di lepas pantai Natuna Timur

Ilustrasi - Anjungan migas lepas pantai. ANTARA/HO-SKK Migas.

Selain bertambahnya cadangan migas nasional, temuan tersebut juga semakin menegaskan kedaulatan wilayah Republik Indonesia utamanya di perbatasan antara Indonesia-Vietnam
Jakarta (ANTARA) - SKK Migas bersama kontraktor minyak dan gas bumi Premier Oil Tuna BV berhasil menemukan cadangan minyak dan gas bumi di Wilayah Kerja Tuna, lepas pantai Natuna Timur, yang berada di perbatasan Indonesia dengan Vietnam.
 
"Temuan cadangan ini diperoleh melalui pengeboran dua sumur delineasi Singa Laut (SL)-2 dan Kuda Laut (KL)-2," kata Deputi Perencanaan SKK Migas Benny Lubiantara dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Jumat.
 
Benny menjelaskan Premier Oil melakukan pengeboran sumur eksplorasi dengan dua kaki yang menyasar pada potensi hidrokarbon di struktur SL-1 dan struktur KL-1 pada 2014 lalu.
 
Kedua sumur itu memiliki potensi minyak dan gas dari Formasi Gabus, Arang, dan Lower Terumbu. Potensi hidrokarbon dari struktur SL dan KL ini kemudian dikonfirmasi kembali dengan melakukan pengeboran dua sumur delineasi SL-2 dan KL-2 pada 2021.
 
Sejak awal, SKK Migas telah mengkategorikan kedua sumur tersebut ke dalam sumur kunci pada 2021.
 
"Keberhasilan kedua sumur ini akan membuka peluang penemuan hidrokarbon lainnya di area tersebut yang dapat membantu target pemerintah dalam mencapai produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) di tahun 2030," jelas Benny.
 
Saat ini, SKK Migas dan Premier Oil sedang melakukan koordinasi dan langkah-langkah yang diperlukan untuk dapat menghitung secara terukur besaran cadangan hidrokarbon di struktur SL dan KL.
 
"Evaluasi penentuan status eksplorasi dan studi-studi pendukung usulan plan of development akan mulai didiskusikan selambatnya awal Januari 2022," ujar Benny.
 
Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa temuan cadangan di struktur SL dan KL ini sangat berpotensi menjadi temuan migas ekonomis pertama yang dapat berproduksi di cekungan Natuna Timur.
 
"Selain bertambahnya cadangan migas nasional, temuan tersebut juga semakin menegaskan kedaulatan wilayah Republik Indonesia utamanya di perbatasan antara Indonesia-Vietnam," tegasnya.
 
Tajak Sumur SL-2 dilaksanakan pada 3 Juli 2021 dengan target batu pasir Formasi Gabus. Sumur itu berhasil mengalirkan sejumlah gas dan kondensat yang cukup signifikan dari satu interval DST.
 
Sumur SL-2 selesai beroperasi pada 7 September 2021, kemudian berpindah ke lokasi struktur KL untuk melakukan pengeboran sumur KL-2.
 
Sumur KL-2 sendiri ditajak pada 10 September 2021 dengan target Formasi Lower Terumbu dan dapat diselesaikan pada 18 November 2021.

Sumur itu berhasil mengalirkan sejumlah minyak, gas, dan kondensat yang cukup signifikan dari 2 interval DST.
 
Selain mengelola wilayah kerja Tuna, saat ini Premier Oil juga mengelola tiga wilayah kerja eksplorasi lainnya, yakni Andaman I dan South Andaman sebagai non operator partner, serta Andaman II sebagai operator.
 
Premier Oil juga memiliki satu wilayah kerja yang telah berproduksi, yaitu Natuna Sea Block A.
 
"Kami mengapresiasi langkah Premier Oil yang tetap melakukan investasi untuk kegiatan eksplorasi di Indonesia," kata Benny.
 
Selama periode 2019-2021, Premier Oil telah melakukan akuisisi seismik 3D di wilayah kerja Andaman II dan pengeboran sumur eksplorasi di wilayah kerja Tuna.
 
Tahun depan, perusahaan juga berencana untuk melakukan setidaknya satu pengeboran eksplorasi deepwater frontier di wilayah kerja Andaman II.

Baca juga: IOG 2021 hasilkan 41 kesepakatan migas senilai 3,62 miliar dolar AS
Baca juga: SKK Migas susun peta jalan inisiatif rendah karbon
Baca juga: SKK Migas gelar konvensi migas terbesar di Indonesia IOG 2021

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sektor migas masih topang ekonomi Riau di 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar