Radio SS Bawa Perubahan Bagi Surabaya

Radio SS Bawa Perubahan Bagi Surabaya

Dari kanan ke kiri: Akhmad Mukhlis Yusuf, Rohmad Hadiwijoyo, Arifin BH, Priyambodo RH, dan Errol Jonathans dalam bedah buku "Suara Surabaya Bukan Radio" di Wisma ANTARA, Jumat (29/4). (ANTARA/Edi Suhaedi)

"Suara Surabaya peduli pada kotanya, contohnya sebelum pemerintah menganugerahi gelar pahlawan pada Bung Tomo, Suara Surabaya telah jauh hari menyebut Bung Tomo Pahlawan."
Jakarta (ANTARA News) - Radio Suara Surabaya (SS) dinilai telah membawa perubahan positif bagi kota Surabaya dalam sepuluh tahun terakhir, kata DR Henry Subiakto, Staf Ahli Bidang Media Menteri Komunikasi dan Informatika.

"Surabaya telah berubah dalam sepuluh tahun terakhir berkat kehadiran Suara Surabaya," kata Henry dalam bedah buku "Suara Surabaya Bukan Radio" di Wisma ANTARA Lantai 19, Jakarta, Jumat.

Menurut Ketyua Dewan Pengawas LKBN ANTARA itu, SS yang didirikan pada 1983 telah berperan besar dalam mengubah Surabay menjadi kota yang lebih baik dengan menyebarkan informasi kepada masyarakatnya, terutama dengan program siaran interaktif  "Kelana Kota".

SS memang salah satu pelopor pola siaran interaktif dalam dunia penyiaran radio di tanah air. Pola siaran yang melibatkan pendengar untuk mengudara secara langsung itu telah dimulai SS sejak 1994.

Kesan senada juga ditangkap oleh Arifin BH, penulis buku "Suara Surabaya Bukan Radio". Menurut dia, salah satu alasan Suara Surabaya bisa bertahan selama tahun ke-27 karena radio itu cinta pada warga dan kotanya.

"Suara Surabaya peduli pada kotanya, contohnya sebelum pemerintah menganugerahi gelar pahlawan pada Bung Tomo, Suara Surabaya telah jauh hari menyebut Bung Tomo Pahlawan," papar Arifin.

Sementara itu, menurut Errol Jonathans, Direktur Operasional Suara Surabaya Media, radio yang ia pimpin itu memang dibangun dengan prinsip untuk memberikan solusi bagi permasalahan masyarakat Surabaya.

"Sesuai dengan tagline kami, news, interaktif, solutif. Suara Surabaya selalu berusaha memberikan solusi dalam setiap pemberitaanya," kata Errol.

Menurut dia prinsip itu sesuai dengan semangat pendiri Suara Surabaya, Soetojo Soekomihardjo (almarhum), bahwa radio tidak boleh dijadikan alat untuk menghancurkan hidup orang lain.

Bedah buku yang dipandu wartawan ANTARA dan Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), Priyambodo RH, itu mengetengahkan nara sumber Arifin BH, Errol Jonathans, dan Rohmad Hadiwijoyo (Ketua Umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia/PRSSNI).

Acara tersebut, antara lain dihadiri pula oleh Direktur Utama LKBN ANTARA, Akhmad Mukhlis Yusuf, Ketua Dewan Penasehat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, H. Sofyan Lubis, Bambang Sulistomo (putera Pahlawan Nasional, Bung Tomo), dan Ajie Setyaatmaji (Coorporate Secretary Metro TV).
(T.Ber)

Oleh ber
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Makan gratis usai coblos ulang di Surabaya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar