Mata uang antipodian berjuang menahan kemerosotan akibat Omicron

Mata uang antipodian berjuang menahan kemerosotan akibat Omicron

Uang dolar AS. ANTARA/Reuters/Gary Cameron

Aussie terangkat 0,3 persen menjadi diperdagangkan di 0,7016 dolar AS, naik dari level terendah 13 bulan
Sydney (ANTARA) - Mata uang antipodian (dolar Australia dan Selandia Baru) berjuang untuk mendapatkan pijakan terhadap dolar pada Senin pagi, di tengah ketidakpastian seputar varian Omicron dan ekspektasi data inflasi AS yang lebih panas akan mendorong kenaikan suku bunga lebih awal dari yang diperkirakan.

Mata uang kripto menanggung kerugian besar dari akhir pekan yang liar yang sempat menghancurkan bitcoin lebih dari 20 persen. Bitcoin menemukan dukungan di sekitar 49.000 dolar AS pada Senin.

Dikutip dari Reuters, mata uang antipodian memimpin upaya penguatan di awal perdagangan Asia karena suasana terbantu oleh pengamatan awal dari Afrika Selatan yang menunjukkan bahwa pasien Omicron memiliki gejala yang relatif ringan.

Aussie terangkat 0,3 persen menjadi diperdagangkan di 0,7016 dolar AS, naik dari level terendah 13 bulan. Kiwi terdongkrak 0,1 persen menjadi diperdagangkan di 0,6750 dolar AS.

Mata uang safe haven yen turun 0,1 persen pada Senin pagi menjadi 113,00 per dolar dengan suasana hati-hati yang lebih cerah, meskipun analis memperkirakan kenaikan bergelombang ke depan dengan perdagangan yang kemungkinan besar sensitif terhadap berita Omicron dan data inflasi AS pada Jumat (10/12/2021).

Euro terakhir stabil di 1,1303 dolar AS dan sterling stabil di 1,3232 dolar AS.

"Mungkin kita harus mencari volatilitas daripada tren," kata analis di ANZ Bank. Pengukur volatilitas untuk Aussie dan kiwi yang babak belur pada Jumat (3/12/2021) mencapai tertinggi dalam sekitar delapan bulan sehingga dua mata uang tersebut merosot.

Sedikit yang diketahui tentang Omicron, sekarang ditemukan di sekitar sepertiga negara bagian AS, dengan kasus juga terdeteksi di Eropa, Asia, dan Afrika Selatan.

Sebuah artikel oleh Dewan Penelitian Medis Afrika Selatan berdasarkan pengamatan awal di Pretoria mengatakan mayoritas pasien COVID-19 mengakui mereka tidak bergantung pada oksigen - gambaran yang lebih baik daripada gelombang virus sebelumnya.

Perputaran di pasar obligasi pemerintah juga telah membuat bingung para pedagang dalam beberapa sesi terakhir karena kurva imbal hasil AS telah mendatar tajam di tengah ekspektasi bahwa Federal Reserve segera bergerak untuk memadamkan inflasi dan pada akhirnya membatasi kenaikan jangka panjang.

Laporan pekerjaan AS yang beragam minggu lalu tidak banyak menggoyahkan ekspektasi pasar tentang pengetatan yang lebih agresif dan laporan harga konsumen yang akan dirilis pada Jumat (10/12/2021) tampak akan menjadi alasan lain untuk tapering lebih awal dan memberikan dukungan terhadap dolar.

Indeks dolar AS memulai minggu ini dengan stabil di 96,211, dalam kisaran puncak 16 bulan November di 96,938.

Pasar berjangka suku bunga, telah menaikkan perkiraan suku bunga AS sekitar pertengahan tahun depan, tetapi hanya mencapai setinggi sekitar 1,5 persen bahkan hingga akhir 2026 dan para pedagang waspada terhadap perubahan dengan cepat itu.

"Ini sulit untuk didamaikan," kata Chris Weston, kepala penelitian di broker Pepperstone. "Ini menunjukkan pasar memperkirakan Fed menghentikan kenaikan (suku bunga) setelah lima kenaikan, jauh dari perkiraan median Fed."

Weston mengatakan bahwa jika angka inflasi tahun-ke-tahun di atas 7,0 persen - terhadap ekspektasi ekonom sebesar 6,7 persen - dapat mengguncang segalanya.

"Inflasi dengan angka 7,0 persen sebagai angka besar yang akan membuat dolar AS lebih tinggi," katanya.

Baca juga: Rupiah Senin pagi melemah 11 poin
Baca juga: Dolar naik tipis di Asia, ditopang redanya kekhawatiran dampak Omicron
Baca juga: Yuan kembali jatuh, turun 19 basis poin terhadap dolar AS

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Akhir pelarian Maria Pauline Lumowa yang membobol Bank BNI

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar