Buku Lejong Ke Labuan Bajo kisahkan kesederhanaan masyarakat

Buku Lejong Ke Labuan Bajo kisahkan kesederhanaan masyarakat

Penulis buku Lejog Ke Labuan Bajo, Ketut Efrata (kedua kanan), menceritakan awal mula penulisan bukunya. ANTARA/Ho-Dokumen Ketut Efrata

Kupang (ANTARA) - Penulis buku "Lejong Ke Labuan Bajo" Ketut Efrata mengatakan buku yang ditulisnya lebih banyak mengisahkan tentang kehidupan masyarakat di Labuan Bajo, Manggarai Barat, yang sederhana di saat daerah itu menjadi lokasi wisata super prioritas.

"Dalam memulai penggarapan buku ini, saya banyak berkonsultasi dengan editor yang bernama Komar N Kilalawang. Satu pesan beliau yang saya pegang, jika kamu ragu, ingatlah patokannya adalah bahwa tulisanmu harus memihak kepada kehidupan," katanya saat dihubungi dari Kupang, Senin.

Hal ini disampaikan setelah, pada Ahad (5/12), buku berjudul "Lejong Ke Labuan Bajo" ” versi digital (eBook) resmi diluncurkan.

Peluncuran buku itu dirangkaikan dengan acara Bedah Buku yang dipandu oleh moderator Muhammad Ridwan, Redaktur Pelaksana di Harian Radar Bali.

Baca juga: Buku Lejong ke Labuan Bajo ungkap kekayaan Labuan Bajo yang terpendam

Baca juga: Wakatobi operasikan kapal perpustakaan keliling


Ketut kepada ANTARA menceritakan bahwa Komar N Kilalawang adalah orang dibalik keberhasilannya dalam menulis buku itu. Ia bertemu dengan Komar saat mendapatkan pelatihan dari LSPP di Makassar tahun 2010 silam.

"Jika tidak ada beliau, mungkin buku ini tidak akan ada. Beliau ini yang mendorong dan selalu mendengarkan keluh kesah saat saya merasa ragu,” ceritanya sambil mengingat kenangan bersama sang editor yang telah menghadap Sang Pencipta beberapa bulan lalu, tepat saat buku ini hendak naik cetak.

Ia menceritakan dalam bukunya salah satu kisah kesederhanaan keluarga Suciati yang menempati rumah panggung. Juga anak-anak SD dengan cita-cita yang setinggi langit, meski fasilitas belajar minim dan berdampingan dengan sapi-sapi peliharaan. Mirip uniknya warga di Pulau Rinca yang berdampingan dengan Komodo.

Dari Labuan Bajo ini, penulis juga ingin agar para pembacanya bisa belajar untuk hidup dalam damai meski meyakini dan menyembah Tuhan dengan cara yang berbeda.

“Kisah tentang keindahan alam Labuan Bajo juga ada, tapi sangat sedikit porsinya,” kata Efrata. Hal tersebut karena sudah banyak media-media yang membahas tentang hal itu.

Sementara, belum banyak yang mendokumentasikan kearifan lokal yang ada pada masyarakat. Padahal, bagi Efrata, hal tersebut sama penting dan seharusnya mendapat porsi yang sama untuk sama-sama diperhatikan.

Penulis, Ketut Efrata pun mengatakan bahwa ia ingin bukunya ini bermanfaat bagi banyak orang, terutama bagi masyarakat setempat.*

Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BMKG Ternate: Gempa M7,4 tidak terasa di Malut

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar