Saham China berakhir menguat ditopang pelonggaran moneter bank sentral

Saham China berakhir menguat ditopang pelonggaran moneter bank sentral

Ilustrasi - Sejumlah investor menggunakan waktu istirahatnya sambil memantau pergerakan saham di Bursa Saham China. ANTARA/REUTERS/Aly Song/am.

Shanghai (ANTARA) - Saham-saham China berakhir lebih tinggi pada Selasa, setelah bank sentral memangkas jumlah uang tunai yang harus disimpan bank sebagai cadangan, sementara investor dengan hati-hati mengamati apakah Evergrande akan gagal bayar ketika pengembang paling berutang itu beberapa inci lebih dekat ke restrukturisasi utang.

Indikator utama Bursa Efek Shanghai (SSE), Indeks Komposit Shanghai menguat 0,16 persen atau 5,78 poin, menjadi menetap di 3.595,09 poin. Sementara itu, indeks saham-saham unggulan China CSI300 ditutup meningkat 0,60 persen atau 29,48 persen, menjadi ditutup di 4.922,10 poin.

Saham Hong Kong juga rebound dari level terendah 14-bulan menjadi ditutup lebih tinggi. Indikator utama bursa Indeks Hang Seng (HSI) melonjak 2,72 persen atau 634,28 poin menjadi berakhir di 23.983,66 poin, sedangkan China Enterprises Index melambung 3,05 persen atau 252.35 poin menjadi menetap di 8.527,12 poin.

Selera risiko mendapat dorongan setelah bank sentral China, People's Bank of China, memangkas rasio persyaratan cadangan bank (RRR) pada Senin (6/12/2021), langkah serupa kedua seperti tahun ini, membebaskan 1,2 triliun yuan ( 188 miliar dolar AS) dalam likuiditas jangka panjang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Baca juga: Kekhawatiran Omicron reda, saham Asia naik tipis dari terendah 1 tahun

"Pemotongan RRR kemungkinan akan meningkatkan sentimen investasi dan mendukung penilaian di pasar saham," kata Chaoping Zhu, Ahli Strategi Pasar Global di J.P. Morgan Asset Management.

"Namun, investor juga harus mengingat bahwa tujuan reformasi jangka panjang, seperti kemakmuran bersama, pengurangan utang dan dekarbonisasi, tetap di atas meja dan dapat terus membebani lanskap investasi di China," kata Zhu.

Mengenai kebijakan properti, memo pertemuan Politbiro pada Senin (6/12/2021) membatalkan sikap mereka sebelumnya tentang "perumahan adalah untuk hidup, bukan untuk spekulasi," dan mengatakan akan mendukung pasar perumahan swasta untuk lebih memenuhi kebutuhan yang wajar.

Analis Nomura mengatakan investor harus menghindari interpretasi yang berlebihan dari memo itu, tetapi menambahkan bahwa itu bisa menjadi berita positif karena mungkin memperbaiki banyak pembatasan yang mendistorsi pasar ini.

Baca juga: Saham China dibuka naik, setelah jatuh di sesi sebelumnya

Saham China Evergrande Group melonjak sebanyak 8,3 persen di awal sesi dan ditutup naik 1,1 persen, terangkat oleh keterlibatan negara dan prospek restrukturisasi utang yang dikelola.

Namun, beberapa pemegang obligasi luar negeri China Evergrande Group belum menerima pembayaran kupon pada akhir masa tenggang 30 hari, mendorong pengembang properti yang kekurangan uang itu mendekati gagal bayar formal.

Kegagalan untuk melakukan pembayaran bunga 82,5 juta dolar AS yang jatuh tempo bulan lalu akan memicu gagal bayar-silang pada obligasi internasional perusahaan sekitar 19 miliar dolar AS dan menempatkan pengembang pada risiko menjadi perusahaan gagal bayar terbesar di China.

Bank sentral China juga akan memangkas suku bunga fasilitas pinjaman sebesar 25 basis poin untuk mendukung sektor pedesaan dan perusahaan kecil, Securities Times yang dikelola negara melaporkan pada Selasa. Tetapi peluang penurunan suku bunga acuan pinjaman tetap rendah dalam waktu dekat, karena peningkatan inflasi indeks harga produsen dan perluasan inflasi IHK, menurut analis Nomura.

Di pasar daratan, pengembang real estat meningkat 1,5 persen dan perusahaan keuangan naik 0,9 persen, sementara saham pariwisata melonjak 2,5 persen.

Namun, saham perusahaan semikonduktor dan saham energi baru masing-masing turun 2,6 persen dan 1,8 persen, karena analis mengatakan beberapa investor mengunci keuntungan pada valuasi tinggi mereka. Sektor chip naik hampir 30 persen sepanjang tahun ini, sementara sub-indeks energi baru naik lebih dari 50 persen.

Di Hong Kong, raksasa teknologi rebound 4,2 persen, mengikuti kenaikan di Wall Street, setelah sektor tersebut anjlok akibat delisting raksasa ride-hailing Didi dari New York.

Raksasa e-commerce Alibaba Group bangkit dari rekor terendahnya hingga melonjak 12,2 persen, sementara Tencent Holdings dan Meituan masing-masing bertambah 3,6 persen dan 5,8 persen.
 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar