Pemerintah fokus kuatkan jaringan middle mile setelah BTS 4G daerah 3T

Pemerintah fokus kuatkan jaringan middle mile setelah BTS 4G daerah 3T

Telkomsel dan BAKTI kembali berkolaborasi membangun 7.772 BTS Universal Service Obligation (USO) 4G/LTE di Wilayah 3T yang akan dirampungkan seluruhnya pada Desember 2022. ANTARA/HO-Bakti/aa.

Jakarta (ANTARA) - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), Kementerian Komunikasi dan Informatika fokus menguatkan jaringan middle mile atau jaringan komunikasi jarak menengah setelah target pembangunan Base Transceiver Station (BTS) 4G di daerah terluar, tertinggal, terdepan (3T) tuntas.

Jaringan middle mile merupakan jaringan yang menghubungkan jaringan inti operator dengan fasilitas jaringan lokal sehingga distribusi dan kecepatan jaringan komunikasi lebih stabil dengan kecepatan yang lebih baik.

“Jadi memang khusus di 2021-2022 kita fokus pada jaringan BTS 4G dan masuk ke dalam klasifikasi last mile. Namun demikian, kita juga sudah menyiapkan jaringan middle mile sebuah kelanjutan dari last mile yang bisa menambah kapasitas jaringan (komunikasi) kita,” kata Direktur Utama BAKTI Anang Latif saat ditemui di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Menkominfo minta BTS masuk di tata ruang daerah, cegah blank spot baru

Contoh nyata dari jaringan middle mile adalah persiapan Satelit Republik Indonesia Raya (SATRIA-1) yang kini tengah dalam proses untuk kemudian diluncurkan di 2023.

SATRIA-1 nantinya akan mengambil orbit di 146 BT (Bujur Timur) dan bisa menciptakan jaringan internet super cepat serta diklaim bisa memberikan internet bahkan pada kawasan yang tidak terjangkau layanan fiber optik.

Terkait dengan penguatan layanan internet di 3T, nantinya Papua diperkirakan akan mendapatkan layanan middle mile paling dominan karena berdasarkan data 65 persen desa yang tak terjangkau internet di kepulauan paling timur Indonesia itu.

Baca juga: BAKTI Kominfo akan bangun BTS di 7.904 desa wilayah 3T

“Papua ini menduduki 65 persen dari seluruh infrastruktur BTS yang kami bangun. Tentunya dengan jumlah paling banyak nantinya Papua akan mengonsumsi bandwith paling banyak. Nantinya dengan satelit yang posisi berdekatan dengan Papua maka jaringan di sana diharapkan akan sangat bagus,” ujar Anang.

SATRIA-1 merupakan proyek satelit multifungsi milik Indonesia yang diharapkan bisa dimanfaatkan untuk menguatkan akses internet berkeadilan secara nasional.

Proyek itu berada di bawah tanggung jawab BAKTI Kominfo dan rencananya secara resmi bisa beroperasi pada November 2023.

SATRIA-1 dikerjakan dalam skema pembiayaan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Perakitan satelit SATRIA-1 dikerjakan oleh Thales Alenia Space dari Perancis.

Sementara untuk peluncurannya akan dilakukan oleh Perusahaan asal Amerika Serikat milik Elon Musk, SpaceX.

Baca juga: Pembangunan BTS di daerah 3T prioritaskan energi berkelanjutan

Baca juga: BAKTI resmikan jaringan internet 4G di Desa Sawyatami Papua


Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kilas NusAntara Siang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar