ASEAN-Uni Eropa Selangkah Lebih Serius

ASEAN-Uni Eropa Selangkah Lebih Serius

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan sambutan saat membuka pertemuan KTT Bisnis ASEAN-Uni Eropa, di Balai Sidang Jakarta, Kamis (5/5). (ANTARA/Prasetyo Utomo)

Jakarta (ANTARA News) - "Saya menanti menerima rekomendasi nyata untuk suatu kebijakan (ekonomi) yang saling menguntungkan... Rekomendasi yang dapat mendorong kerja sama antarkawasan."

Pernyataan itu dikemukakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bisnis pertama ASEAN-Uni Eropa di Balai Sidang Jakarta, Kamis pagi.

Pertemuan puncak pertama antar pelaku bisnis dan pemerintah kedua kawasan tersebut memang diharapkan memunculkan masukan-masukan segar dari pelaku bisnis guna memperbaiki iklim kerjasama ekonomi antara ASEAN dan Uni Eropa.

Di hadapan sedikitnya 300 pengusaha dari Asia Tenggara dan 100 pengusaha dari Eropa, Presiden mengimbau para pelaku bisnis memanfaatkan peluang sebaik-baiknya untuk memberikan  masukan yang dapat mengubah paradigma kebijakan ekonomi kawasan.

Hubungan antara ASEAN dan Uni Eropa resmi dimulai pada 7 Maret 1980 setelah pengesahan Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Masyarakat Ekonomi Eropa dan ASEAN.

Dalam perjalanannya, hubungan antar dua kawasan terbukti cukup teruji menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari krisis ekonomi yang menghempas kawasan Asia Tenggara pada 1997 hingga krisis keuangan global yang membuat Eropa terpuruk pada 2008.

Oleh karena itu, seiring dengan meningkatnya hubungan antarmasyarakat dimana setiap tahun sekitar 7 juta warga Eropa melawat kawasan Asia Tenggara, maka menurut Presiden Yudhoyono sudah saatnya kedua belah pihak membawa hubungan ke tingkat yang lebih tinggi.

"Termasuk melakukan pembahasan guna membentuk suatu perjanjian kerja sama ekonomi yang lebih formal antara ekonomi ASEAN dan UE," katanya.

Menurut Presiden, peningkatan kerja sama ASEAN dan UE ke tahap yang lebih tinggi diperlukan karena ASEAN dan EU menjadi mitra penting satu sama lain.

Eropa memiliki pengalaman yang lebih panjang dalam hal integrasi ekonomi dan membangun komunitas regional. ASEAN, kata Presiden, dapat belajar dari Eropa.

"(Maka itu) ASEAN dan Uni Eropa dapat bekerja sama mengelola ekonomi dunia, terutama terkait isu-isu yang menjadi perhatian bersama di G-20 dan WTO," katanya.

Jaminan ASEAN

Selain menantikan masukan pelaku bisnis untuk kebijakan ekonomi di kedua kawasan, Asia Tenggara pada khususnya juga memberikan jaminan perbaikan iklim perdagangan kepada pelaku bisnis Eropa pada khususnya, dan mitra ASEAN lain pada umumnya.

Jaminan itu disampaikan Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan yang berjanji bahwa ASEAN akan membuat suasana yang lebih kondusif kepada para mitra asing.

"Kami di Sekretariat ASEAN berusaha untuk memperbaiki kondisi agar Anda akan merasa lebih nyaman dan lebih percaya diri, kami juga meningkatkan suasana di kawasan agar lebih kondusif, lebih percaya diri dan lebih ramah bagi mitra asing," ujar Surin.

Dia menambahkan, ASEAN saat ini juga sedang memulai membangun masyarakat yang bergerak ke arah komunitas global.

Uni Eropa dianggap sebagai mitra yang sangat penting karena menjadi mitra dagang terbesar kedua ASEAN, sedangkan ASEAN sendiri adalah mitra dagang kelima terbesar Uni Eropa.

Tercatat perdagangan ASEAN pada 2009 mencapai 11,5 persen, sementara total perdagangan antara Uni Eropa dan ASEAN pada 2010 sebesar 147 triliun euro.

Dalam sektor investasi, nilai investasi asing langsung (FDI) kumulatif pada 2007-2009 tercatat 34,6 miliar dolar AS, yang adalah terbesar di antara mitra dagang ASEAN lainnya atau sebesar 21,1 persen dari total aliran dana FDI masuk ke ASEAN.

"Yang menarik adalah 68 persen dari seluruh FDI di ASEAN saat ini terfokuskan pada sektor jasa yang mengindikasikan daya beli masyarakat di kawasan ini juga meningkat. Artinya masyarakat kelas menengah di ASEAN juga sudah bertambah," ujar Surin merujuk peluang besar investasi.

Hal senada dikemukakan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan yang menyebutkan negara-negara ASEAN saat ini sedang berbenah guna mengantisipasi pulihnya negara di kawasan itu dari krisis ekonomi.

Ia menilai, jumlah investasi Eropa ke organisasi kawasan yang beranggotakan Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Laos, Kamboja, Myanmar, Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam itu hampir dipastikan melonjak signifikan dibandingkan dengan periode 2006-2009 yang mencapai lebih dari 200 miliar dolar AS.

"Modal negara-negara Eropa cenderung meningkat tajam, yang dipicu penerapan disiplin fiskal setelah sempat mengalami krisis," ujarnya.

Pada KTT ini, perusahaan-perusahaan Uni Eropa dan ASEAN yang berpartisipasi akan mendiskusikan peluang di lima area utama, yaitu infrastruktur (termasuk transportasi dan logistik), agri-food, kesehatan (termasuk farmasi), otomotif dan jasa (telekomunikasi dan keuangan).

Delegasi dari Uni Eropa menyampaikan bahwa setidaknya sekitar 5.000 perusahaan di kawasan itu yang bergerak di bidang otomotif dan pendukungnya mampu memproduksi mobil hingga 100.000 unit per tahun.

Stabilitas Kawasan

Berlarutnya konflik terbuka antara dua negara anggota ASEAN --Thailand dan Kamboja -- yang telah merenggut korban jiwa dari kedua belah pihak tidak menyurutkan minat pelaku bisnis Eropa untuk berinvestasi di kawasan Asia Tenggara.

Keyakinan itu dikemukakan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa merujuk pengakuan negara-negara Eropa atas potensi negara-negara ASEAN.

Optimisme sama juga dilontarkan Surin Pitsuwan yang yakin bahwa konflik perbatasan Thailand-Kamboja tidak akan memberi dampak negatif terhadap minat pebisnis Uni Eropa untuk berinvestasi di ASEAN.

"Anda lihat bahwa konflik antara Thailand dan Kamboja adalah masalah dua negara dan mereka berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik. Jadi konflik perbatasan seperti itu tidak akan mempengaruhi keseluruhan kawasan terutama di sektor investasi asing yang masuk," ujarnya.

Konflik perbatasan adalah salah satu tantangan bagi persatuan ASEAN yang hampir seluruh negara anggota memiliki masalah perbatasan yang belum terselesaikan.

Beberapa dari sengketa perbatasan itu bahkan menjadi konflik menahun yang setiap saat dapat muncul dan mengoyak kerja keras untuk mewujudkan Masyarakat ASEAN 2015.

Oleh karena itu untuk membawa kerjasama ASEAN-UE ke tingkat yang baru dibutuhkan keseriusan dari seluruh anggota ASEAN untuk tetap berpegang teguh pada Traktat Kerjasama dan Persahabatan (TAC) dalam menyelesaikan seluruh perselisihan. Termasuk tentunya menjaga momentum kerjasama ASEAN-UE.(*)

G003*R017*A050*A051/J006

Oleh Gusti NC Aryani
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Menko Perekonomian: Google prediksi fintech Indonesia tumbuh tercepat di ASEAN

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar