Laporan dari China

Terlilit utang, maskapai penerbangan China dialihkan kepada investor

Terlilit utang, maskapai penerbangan China dialihkan kepada investor

Pesawat berbadan lebar milik maskapai Hainan Airlines saat menurunkan penumpang di Bandar Udara Internasional Ibu Kota Beijing (BCIA), China, pada 18 Oktober 2021. ANTARA/M. Irfan Ilmie

Beijing (ANTARA) - Maskapai terbesar keempat di China Hainan Airlines, Rabu (8/12), mengumumkan pemindahan pengelolaan usaha intinya sebagai penyedia jasa penerbangan kepada Liaoning Fangda Group Industrial Co Ltd.

Pemindahtanganan tersebut dilakukan setelah perusahaan induk Hainan Airlines, HNA Group, sedang berada dalam proses kepailitan dan restrukturisasi utang.

Sejak putusan pengadilan dikeluarkan pada 31 Oktober, proses reorganisasi berjalan lancar dan progres substansial untuk mengurangi risiko juga telah dilakukan, demikian dinyatakan manajemen Hainan.

Pejabat yang ditunjuk pemerintah lokal untuk mengatasi risiko utang HNA, Gu Gang, tidak akan menjabat sekretaris Partai Komunis China (CPC) di perusahaan tersebut.

Selanjutnya, akan dibentuk kelompok kerja yang akan memberikan panduan, koordinasi, dan supervisi, kata HNA.

Kelompok kerja tersebut juga akan melanjutkan rencana implementasi kepailitan dan restrukturisasi utang serta tugas lain yang berkaitan dengan manajemen risiko.

Baca juga: Bank sentral: China hadapi tantangan "salah urus" perusahaan tertentu

Liaoning Fangda Group merupakan perusahaan besar di China yang bergerak di bidang usaha karbon, baja, dan farmasi.

Liaoning Fangda berhasil memenangi lelang akuisisi Hainan Airlines dengan mengalahkan Shanghai Juneyao Group sebagai induk perusahaan Juneyao Airlines dan Fosun International yang menguasai industri pariwisata China.

Hainan pada Maret mengumumkan kerugian perusahaan sebesar 64 miliar yuan atau sekitar Rp144,7 triliun selama 2020, yang merupakan kerugian terbesar dalam daftar perusahaan di China.

Pengadilan Tinggi pada Januari mengeluarkan surat pemberitahuan bahwa para kreditornya mengajukan gugatan kepailitan, seperti diberitakan China Daily.

Sejak 2010, HNA telah membuat terobosan secara agresif dengan menambah asetnya di luar negeri sehingga total akuisisinya mencapai lebih dari 50 miliar dolar AS (sekitar Rp717,6 triliun).

HNA sempat mengakuisisi saham 40 perusahaan besar, termasuk Deutsche Bank AG dan Hilton Worldwide Holdings Inc.

Belakangan, akuisisi HNA mendapat sorotan dari regulator China. HNA mulai terlilit banyak utang dan mulai mencari  pembeli aset-asetnya. 
 

Baca juga: Maskapai China hentikan penerbangan dari 37 negara

Baca juga: AS perpanjang larangan investasi di perusahaan terkait militer China


 

China Southern Airlines mulai gunakan pesawat ARJ21

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar