APHI terapkan bisnis kehutanan berbasis manajemen bentang alam

APHI terapkan bisnis kehutanan berbasis manajemen bentang alam

Indroyono Susilo (tiga dari kanan) kembali terpilih sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dalam Munas APHI di Bogor, Rabu (8/12/2021) ANTARA/HO-APHI.

Harus ada reorientasi menuju rekonfigurasi bisnis baru kehutanan, dengan lebih mengoptimalkan pemanfaatan ruang (lanskap) hutan produksi tidak hanya kayu, tetapi juga hasil hutan bukan kayu
Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) siap bergerak menuju ekosistem baru bisnis kehutanan berbasis manajemen bentang alam (landscape) yang menempatkan pengelolaan hutan produksi dalam bentuk model multiusaha kehutanan.

Ketua Umum APHI Indroyono Soesilo mengatakan, pengembangan ekosistem baru bisnis kehutanan diyakini bisa meningkatkan nilai riil hutan sehingga bisa mencegah tendensi konversi ke peruntukan lain yang bisa memicu deforestasi.

"Harus ada reorientasi menuju rekonfigurasi bisnis baru kehutanan, dengan lebih mengoptimalkan pemanfaatan ruang (lanskap) hutan produksi tidak hanya kayu, tetapi juga hasil hutan bukan kayu, pemanfaatan kawasan dan jasa lingkungan," katanya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Berbasis landscape atau kawasan, lanjutnya, maka hutan produksi akan dikelola tidak hanya untuk tujuan kayu namun dengan model multiusaha kehutanan sehingga akan ada optimalisasi pemanfaatan lahan hutan dan menjadi jauh lebih produktif. Misalnya dengan menerapkan pola agroforestry untuk memproduksi komoditas pangan, jasa lingkungan dan hasil hutan nonkayu lainnya.

Dia juga mengajak pelaku usaha kehutanan untuk melirik bisnis ekowisata dan jasa lingkungan, termasuk di pasar karbon.

Apalagi kini telah terbit Peraturan Presiden No 98 tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon yang bertujuan mendukung pencapaian target pengurangan emisi gas rumah kaca dalam dokumen NDC sekaligus membuka pasar karbon.

Indroyono menyatakan pengembangan multiusaha kehutanan berarti juga pemanfaatan hasil hutan kayu akan dioptimalkan pada produk-produk yang memiliki nilai tambah, oleh karena itu pemanfaatan teknologi harus dimaksimalkan.

Perubahan paradigma pemanfaatan hutan mulai tercermin dari kinerja ekspor kehutanan. Secara akumulatif nilai ekspor produk kehutanan tahun 2021 meningkat mencapai 21,43 persen dibanding tahun lalu. Sampai kuartal ke-4 2021 nilai ekspor produk kayu mencapai 13,42 miliar dolar AS berbanding 11,05 miliar dolar di tahun 2020.

Sementara, untuk produksi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) pada kuartal keempat tahun 2021 mencapai 192 ribu ton naik sebesar 47,6 persen dibandingkan tahun 2020 yang sebesar 130 ribu ton pada periode yang sama.

Indroyono yakin dengan penerapan model multiusaha kehutanan maka nilai riil hutan bisa meningkat sehingga mengurangi tendensi perubahan ke penggunaan lain yang berarti mencegah deforestasi.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya saat pembukaan Munas APHI di Jakarta, Rabu (8/12) mengapresiasi peran APHI untuk mendukung percepatan reorientasi bisnis baru sektor kehutanan.

Menurut Menteri LHK, bisnis kehutanan kini tidak lagi hanya fokus pada produk kayu tapi pada pengelolaan bentang alam untuk menuju hutan lestari. Menteri Siti menyatakan masih banyak tantangan untuk optimalisasi pemanfaatan kawasan hutan sesuai apa yang diamanatkan dalam peraturan perundangan.

"Untuk itu saya sangat berharap dunia usaha kehutanan dapat bekerja bersama-sama untuk berkontribusi bagi pemulihan ekonomi nasional di bawah kepemimpinan langsung Bapak Presiden Jokowi," katanya.

Baca juga: APHI - MAPIN kerja sama penerapan aplikasi teknologi citra satelit
Baca juga: Presiden Jokowi berpesan, pengusaha mebel agar jaga kelestarian hutan
Baca juga: APHI harapkan pajak karbon untuk pengendalian perubahan iklim

Pewarta: Subagyo
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar