LPS: Dampak pandemi COVID-19 ke perbankan masih terkendali

LPS: Dampak pandemi COVID-19 ke perbankan masih terkendali

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa berbincang dengan salah satu nasabah BPR Utomo Widodo yang sedang mencairkan pembayaran klaim penjaminan simpanan dari LPS di Ngawi, Jatim, Kamis (9/12/2021). ANTARA/HO-LPS.

Jumlah rata-rata BPR yang ditutup cenderung sama sejak tahun 2005 hingga 2021 berkisar enam hingga delapan
Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan dampak pandemi COVID-19 terhadap industri perbankan masih terkendali.

Purbaya menegaskan hal tersebut karena tidak adanya peningkatan signifikan jumlah bank perkreditan rakyat (BPR) yang tutup dan dilikuidasi.

"Dari data kami, umumnya BPR yang ditutup disebabkan oleh mismanajemen. Ternyata tekanan pada perbankan selama masa pandemi ini masih dapat dikendalikan, terlihat dari jumlah rata-rata BPR yang ditutup cenderung sama sejak tahun 2005 hingga 2021 berkisar enam hingga delapan," kata Purbaya dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, setelah memantau proses pembayaran klaim penjaminan simpanan nasabah BPR Utomo Widodo, Ngawi, Jawa Timur.

Higga saat ini, LPS dan juga Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) belum menemukan sinyal dampak yang tak terkendali bagi industri perbankan karena pandemi COVID-19.

Menurut Purbaya, ketahanan industri perbankan juga menjadi pertanda baik baik sistem ekonomi Indonesia.

"Pada skala nasional 2005-2021 total simpanan yang telah kami bayarkan sebesar Rp1,69 triliun, total rekening 265.797 rekening. Yang dibayarkan ke bank umum ada Rp202 miliar rupiah dan untuk BPR ada Rp1,49 triliun rupiah. Saya melihat ini pertanda baik, artinya setelah tahun 1998 sektor perbankan kita tidak mengalami tekanan yang sangat masif ini bisa jadi karena manajemen yang baik atau memang ekonomi kita baik," katanya.

Purbaya juga menjelaskan bahwa tujuan dari kunjungannya ke Ngawi, Kamis ini untuk memastikan pelayanan LPS kepada nasabah bank yang dilikuidasi dapat berjalan dengan lancar dan baik.

“Setelah melihat proses pembayaran klaim penjaminan simpanan dan secara langsung berbincang dengan nasabah BPR Utomo Widodo, Saya melihat terdapat beberapa hal terkait pelayanan LPS yang masih dapat ditingkatkan seperti kecepatan verifikasi nasabah dalam menentukan status simpanan dan kualitas layanan komunikasi kepada nasabah bank," ujarnya.

Per November 2021, LPS telah membayarkan simpanan nasabah BPR Utomo Widodo sebesar Rp23,86 miliar, yang ditujukan bagi 9.523 nasabah. Proses verifikasi untuk menentukan simpanan yang layak dibayar masih berjalan hingga 17 Desember 2021.

LPS mengimbau bagi nasabah BPR Utomo Widodo yang belum tercantum sebagai nasabah yang layak menerima pembayaran klaim agar terus memantau informasi mengenai pembayaran klaim di media massa dan situs LPS.

Adapun syarat agar simpanan nasabah bisa dibayarkan LPS adalah pertama, tercatat dalam pembukuan bank, kedua tingkat bunga simpanan yang diterima nasabah tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS, ketiga tidak melakukan tindakan yang merugikan bank, misalnya memiliki kredit macet.

Baca juga: Cegah kerugian, LPS siapkan program edukasi bagi investor pemula
Baca juga: LPS-UI kolaborasi tingkatkan pemahaman publik soal penjaminan simpanan
Baca juga: LPS: Tapering bank sentral AS beri ruang RI tumbuh lebih cepat

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kemenhub periksa layanan pengatur lalu lintas Pelabuhan Merak

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar