Jakarta (ANTARA) - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G.Plate menyebutkan bahwa pengembangan sistem smart city menjadi jawaban untuk tantangan kependudukan di era digital yang terus berkembang dan mencapai puncaknya di 2045.

Diperkirakan pada 2045 akan ada 82,27 persen populasi di Indonesia akan hidup di pusat perkotaan dan di 2021 pengembangan kota cerdas mulai dilakukan di Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).

“Ini terjadi urbanisasi, untuk itulah diperlukan strategi pengembangan kota yang akomodatif terhadap perkembangan zaman, dan pengembangan kota cerdas atau smart city melalui Gerakan Menuju Smart City menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh kita bersama, yang diinisiasi oleh Kementerian Kominfo,” ujarnya dalam Indonesia Smart City Conference, Forum Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan Pameran Smart City, di ICE BSD Tangerang, Selasa.

Johnny menyatakan pengembangan smart city menjadi bagian dari utilisasi teknologi digital dalam pengelolaan kota modern serta menjadi salah satu cara aktualisasi dari transformasi digital yang inovatif dan solutif.

Berkaitan dengan pemulihan ekonomi di sektor pariwisata, maka dari itu sistem smart city diperluas untuk menjangkau Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).

Sistem itu diharapkan mampu mendorong industri pariwisata berjalan selaras dengan transformasi digital sehingga bisa optimal mempromosikan wisata Indonesia bahkan hingga di ruang virtual.

“Melalui konsep smart city, branding yang memanfaatkan teknologi dan inovasi dalam mengoptimalisasi, mempromosikan kota termasuk lokasi-lokasi wisata dapat terealisasi,”ujar Johnny.

Ada pun pengembangan rencana induk smart city untuk daerah sekitar ibu kota negara baru dan kawasan pariwisata prioritas nasional yang difasilitasi Kementerian Kominfo yakni Danau Toba, Tanjung Kelayang, Borobudur, Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Morotai, Likupang, Wakatobi, Raja Ampat dan Labuan Bajo.

Johnny pun mendorong Pemerintah Daerah yang ada di Indonesia bisa memanfaatkan teknologi digital salah satunya seperti Internet of Things (IoT) untuk membuat solusi cerdas sejalan dengan digitalisasi yang digaungkan oleh Pemerintah Pusat.

“Teknologi Internet of Things akan mengalami perkembangan pesat di tahun 2025, di mana akan terdapat 41,6 M perangkat IoT yang terpasang secara global. Di Indonesia, jumlah perangkat IoT diperkirakan mencapai 400 juta perangkat di tahun 2022, dan akan meningkat menjadi 678 juta perangkat tahun 2025 dengan hadirnya 5G,” ujarnya.

Nilai pangsa pasar IoT di Indonesia juga akan mengalami peningkatan sebesar dari Rp355 triliun pada 2022 dan mencapai Rp557 triliun di 2025. Selain itu, kedepannya akan terjadi peningkatan volume data yang sangat signifikan.

Kementerian Kominfo menjelaskan Pemerintah maka dari itu bersiap menghadirkan teknologi 5G di Indonesia sebagai dukungan pengembangan ekosistem IoT di Indonesia.

“Setelah lebih dari 11 kali testing, 5G sudah rollout di Indonesia, lisensi operasi komersial telah diberikan kepada tiga operator nasional dan saat ini sedang membangun di 9 kota aglomerasi yang tentu akan mendorong dan meningkatkan pemanfaatan IoT,” jelasnya.

Baca juga: Isi Adendum SE 24/202, aturan pengetatan mobilitas libur akhir tahun

Baca juga: Menkominfo: Peran penting pers di era demokrasi

Baca juga: Kominfo apresiasi upaya menjaga ruang digital


Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2021