Syafruddin Prawiranegara Menteri yang Miskin

Syafruddin Prawiranegara Menteri yang Miskin

Farid Syafruddin, Putera tokoh nasional Syafruddin Prawiranegara. Farid Syafruddin (kanan) putera tokoh nasional Syafruddin Prawiranegara saat berbicara pada acara bedah buku kontroversi "Presiden Prawiranegara", di Pandeglang, Jawa Barat, Sabtu (21/5). (ANTARA/Asep Fathulrahman/ed/ama/11)

Ayahmu sering mengatakan kepada ibu agar kita jangan bergantung pada orang lain, Icah. Kalau tidak penting sekali jangan pernah jangan pernah meminjam uang, jangan pernah berutang
Jakarta (ANTARA News) - "Ayahmu Menteri Keuangan, Icah," Lily menyeka matanya yang basah. "Ayah mengurusi uang negara, tetapi tidak punya uang untuk membeli gurita bagi adikmu, Khalid yang baru lahir. Kalau ibu tidak alami sendiri kejadian itu, ibu pasti bilang itu khayalan pengarang. Tapi ini nyata. Ayahmu sama sekali tak tergoda memakai uang negara, meski hanya untuk membeli sepotong kain gurita,".

Kalimat di atas, merupakan ucapan yang disampaikan Teungku Halimah atau biasa dipanggil Lily, istri Syafruddin Prawiranegara, Menteri Keuangan pada era pemerintahan Soekarno.

Ucapan itu disampaikan Lily pada Aisyah atau Icah, putri pertama Syafruddin Prawiranegara yang dikutif dari lembar pertama buku Presiden Prawiranegara, yang ditulis Akmal Nasery Basral.

Di bagian lain bukunya, Akmal juga menuliskan, jumlah harta Syafruddin Prawiranegara atau biasa dipanggil Puding itu, lebih miskin setelah menjadi Menteri Keuangan dan tinggal di Yogyakarta, dibandingkan saat menjabat Inspektur Pajak di Kediri.

Saat itu, masih dalam tulisan Akmal, menjadi menteri kabinet memang masih berkonotasi terjun langsung ke dalam perjuangan nyata, bukan simbol memasuki lingkaran elit dunia kapitalisme yang didominasi kuasa uang, kendaraan supermewah, serta beragam fasilitas kelas utama lainnya.

Syafruddin Prawiranegara, merupakan salah seorang kepercayaan Soekarno-Hatta, karena itu pernah dipercaya memegang jabatan penting, seperti Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran, Wakil Perdana Menteri dan diberi mandat untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Saat Belanda menyerang Yogyakarta pada 1948, Soekarno mengeluarkan dua mandat untuk mendirikan PDRI, yang pertama pada Syafruddin Prawiranegara yang waktu sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Mandat kedua diberikan pada AA Maramis, yang berada di New Delhi India. Maramis diminta mendirikan PDRI, jika Syafruddin tidak bisa melaksanakan mandat tersebut.

Syafruddin mendirikan PDRI bersama pejuang lainnya, seperti Teuku Hasan yang kemudian menjabat Wakil Ketua PDRI, Lukman Hakim, Sulaiman Effendi, Mananti Sitompul, Indracahya, Kolonel Hidayat dan Muhamad Nasrun.

Prawiranegara bersama para tokoh lainnya, menjalankan PDRI selama 207 hari, demi mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.

Akmal, juga menceritakan bagaimana Lily, istri Syarifuddin harus berjualan sukun goreng untuk menghidupi empat anaknya yang masih kecil yakni Icah, Pipi, Khalid dan Farid.

Perjuangan hidup yang berat itu, dijalani Lily selama suaminya berada di Sumatra menjalankan tugas negara.

Saat berjualan sukun itu, ada protes "kecil" dari Icah. "Kenapa kita tidak minta bantuan saja pada Presiden Om Karno dan Wakil Presiden Om Hatta serta Om Hengky (Sri Sultan Hamangku Buwono IX)," tanya Icah.

"Ayahmu sering mengatakan kepada ibu agar kita jangan bergantung pada orang lain, Icah. Kalau tidak penting sekali jangan pernah jangan pernah meminjam uang, jangan pernah berutang," kata Lily.

"Tapi apa ibu tidak malu? Ayah orang hebat, keluarga ayah dan ibu juga orang-orang hebat,", kata Icah.

"Iya, sayang. Ibu mengerti, tapi dengarkan ya. Yang membuat kita boleh malu adalah kalau kita melakukan hal-hal yang salah seperti mengambil milik orang lain yang bukan hak kita, atau mengambil uang negara. Itu pencuri namanya. Orang-orang mungkin tidak tahu, tapi Allah tahu," kata Lily, memberi penjelasan pada anak sulungnya itu.

Farid Prawiranegara, anak keempat Syaruddin membenarkan perjuangan ibunya, yang sampai menjual sukun goreng untuk mencukupi kebutuhan hidup dan membeli susu bagi anaknya yang masih kecil.

"Ya, saya pernah mendapat cerita dari ibu. Ibu saya tidak malu berjualan suku goreng dan tidak mengeluh ditinggalkan suaminya untuk melaksanakan tugas negara," kata Farid yang sekarang menjadi pengusaha dan dikenal sebagai seorang akuntan itu.

Usai mengungkapkan kata-kata itu, Farid tertunduk. Kemudian tangannya mengambil kacamata dan meletakkan di atas meja. Telunjuk tangan kanannya mengusap setetes air yang keluar dari kedua matanya.

"Maafkan saya. Saya tidak bisa menahan kesedihan kalau mengingat kembali kisah itu," kata Farid.

Sebagai contoh
Sikap Syafruddin, yang begitu memiliki dedikasi tinggi dalam menjalankan tugas dan sangat mementingkan bangsa, negara dan rakyat sehingga mengabaikan dirinya, keluarganya bahkan kehidupannya, dinilai beberapa kalangan patut menjadi contoh bagi para pejabat dan generasi muda di negara ini.

"Pak Syaf (Syafruddin) berani berkorban dan sebagai pemimpin dia mendahulukan yang dipimpinnya. Mempunyai visi dan misi mau dibawa ke mana yang dipimpinnya," kata Muchtar Mandala, tokoh masyarakat Banten, yang juga dikenal salah seorang bankir di Indonesia.

Sikap Syafruddin yang tidak mau mengambil uang negara yang bukan haknya, merupakan contoh bagi seluruh anak bangsa ini.

Saat ini, kata dia, Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan. Sulit menemukan tokoh panutan, yang diikuti kehancuran moral.

Ia berharap, kepemimpinan yang ditunjukkan Syafruddin dan para pejuang lainnya, terus disampaikan pada para pemimpin dan generasi muda, agar mereka bisa mengambil pelajaran.

Sikap Lily, istri Syafruddin, yang lebih memiliki berjualan sukun goreng untuk membeli susu anaknya serta mencukupi kehidupannya, dari pada menyuruh suaminya untuk korupsi, juga patut diketahui keluarga para pejabat.

Sikap Syafruddin dan keluarganya disampaikan saat ngobrol santai di warung kopi pada lima orang warga Kampung Sukasari, Kelurahan Pagadungan, Kecamatan Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang.

Tanggapan yang hampir sama, keluar dari warga tersebut. Mereka menyatakan salut dengan sikap Syafruddin dan keluarga Sang Ketua PDRI itu.

"Harus begitu kalau jadi pemimpin, jangan aji mumpung. Mentang-mentang menjadi pejabat, berusaha mencari peluang untuk menambah kekayaan," kata Tonny, salah seorang warga.

"Itu namanya pemimpin yang top, dan keluarganya juga top," kata Badruzaman, sambil mengacungkan ibu jarinya.

Badruzaman, yang dikenal sebagai santri itu juga mengatakan, "Jadi pemimpin dan keluarga pemimpin itu harus siap susah. Jangan rakyatnya makan singkong, dia dan keluarga malah pesta mewah".

"Jauh amat ya, kelakuan Pak Syaf dan keluarganya dengan para pemimpin sekarang," tambah Opik.

Biasanya, kata Opik, orang sekarang sebelum menjadi pejabat susah atau biasa saja, tapi setelah menjadi pemimpin langsung kaya, punya rumah megah dan besar, mobil bagus dan anak sekolah di luar negeri.

"Pendapatan pejabat sekarang besar ya? Tapi kalau pendapatannya tidak besar, masa mereka bisa kaya, hidup mewah dan anaknya sekolah di luar negeri," kata Opik.

Sulit menjawab pertanyaan itu. Hanya Tuhan dan dan para pejabat lah yang tahu.
(S031)

Oleh
Editor: Bambang
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar