Memotret Pilkada Melalui Kentut

Memotret Pilkada Melalui Kentut

Jakarta (ANTARA News) - Kentut yang keluar dari dubur seseorang bisa menimbulkan tawa namun sebaliknya dapat menjadi musibah.

Untuk itu, waspadalah karena udara busuk yang satu ini bisa menjadi pedang bermata dua jika tak tahu bagaimana cara kentut yang baik di hadapan orang.

Jika anda punya rekan atau sahabat - terlebih dia pejabat - tiba-tiba kentut di suatu tempat di kerumunan orang tengah ngobrol, bisa jadi mendengar suara kentut nyaring tak menimbulkan marah. Malah bisa tertawa bersama.

Berbeda jika kentut itu yang keluar dari orang tak dikenal, yang tiba-tiba melintas di depan anda yang sedang berdiri, bisa jadi menimbulkan pertengkaran karena kentut di sembarang tempat dianggap tak sopan. Padahal, di negeri ini, tak pernah terlihat papan pengumuman larangan kentut di sembarang tempat. Yang ada dilarang merokok, buang sampah harus pada tempatnya, buang air kecil bayar di toilet umum.

Jika ada kentut saat makan bersama keluarga, jika itu keluar dari bapak, pasti anak-anak tak berani protes. Tapi, jika datangnya dari orang yang tak disukai, maka kentut tadi menjadi pemicu kemungkinan besar akan mendatangkan pertengkaran.

Sebenarnya, dari perspektif ilmu kesehatan, kentut pertanda bahwa orang yang bersangkutan adalah sehat. Jadi, tak salah jika ada orang berargumentasi bahwa kentut adalah mementingkan kesehatan daripada kesopanan.

Persoalan kentut ini menjadi menarik ketika diangkat oleh sutradara Arie Kusumadewa dalam layar lebar dan film "Kentut" tayang mulai 1 Juni 2011, serentak di beberapa bioskop Jakarta. Animo warga ibukota tinggi untuk menyaksikan film komedi bernuansa krotik sosial, utamanya terhadap penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah, patut diacungi jempol lantaran punya nilai edukasi politik.

Nasib buruk menimpa Patiwa, diperankan Keke Suryo, seorang calon bupati Kuncup Mekar, mengalami kesulitan mengeluarkan kentut pasca operasi. Patiwa, perempuan kelahiran daerah tersebut, dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) Kuncup Mekar mengalami musibah karena ditembak dadanya oleh orang tak dikenal.

Padahal, saat musibah itu terjadi, hari pemungutan suara makin dekat. Momentum itu dimanfaatkan Jasmera, yang diperankan Deddy Mizwar, pengusung paham antikemunafikan. Jasmera kerap tampil bersama Delarosa, Iis Dahlia. Jasmera berapi-api di setiap kampanye. Bersama Delarosa yang genit, Jasmera -- kerap menggenakan jas panjang, kaca mata hitam dan topi koboy, -- selalu mengusung tema hedonisme.

Bahkan dalam suatu perdebatan di salah satu stasiun televisi, Jasmera menyerang Patiwa yang sedang memaparkan programnya jika terpilih jadi bupati. Jasmera tak memaparkan program kerja, tapi lebih suka mengedepankan program membuat rakyat senang dengan pendekatan keduniaan.

Jasmera tak menolak adanya poligami lantaran jumlah perempuan di dunia lebih banyak. Lagi pula, poligami legal daripada munafik sembunyi punya banyak isteri.

Perseteruan dua kandidat di pilkada Kuncup Mekar menajam. Tapi, sialnya, Patiwa masih harus menjalani perawatan. Pasca operasi, ia tak bisa meninggalkan rumah sakit lantaran kentut tak kunjung keluar. Dan, momentum ini dimanfaatkan Jasmera dengan berbagai intrik, bermain uang menyogok warga dan satpam melalui kaki tangannya. Juga mendatangkan paranormal dan orang pintar untuk menghambat keluarnya si angin busuk dari perut Patiwa.

Disisi lain, satpam rumah sakit setempat, Rahman semakin kewalahan membendung datangnya para tokoh agama dan rombongan ke rumah sakit untuk mendoakan Patiwa agar cepat sembuh.

Rumah sakit di kabupaten Kuncup Mekar berubah bagai pasar. Selain sering kedatangan pembesuk tim kampanye Patiwa, yang kerap merepotkan dokter pimpinan rumah sakit, Cok Simbara, juga diwarnai adu argumentasi antara Cok dan Irma yang diperankan Ira Wibowo - sehingga suasana rumah sakit makin kacau.

Kunjungan bupati Kuncip Mekar, Anwar Fuadi, ikut meramaikan keadaan dengan celotehnya tentang peran wartawan yang meliput di rumah sakit. Satpam Rahman tak berdaya mengatur tokoh agama- agama berdoa baik secara bersama maupun kelompok agama masing-masing.

Suasana rumah sakit lebih banyak diwarnai perbincangan soal kentut. Sementara ada petugas teknis rumah sakit, dengan perawakan gemuk dan gendut juga menghadapi persoalan serupa dengan kentutnya. Namun orang ini beruntung lebih banyak kentut karena sering mengkonsumsi ramuan khusus dari warung terdekat. Banyak orang tertolong dengan ramuan itu.

Beruntung orang ini mengeluarkan kentut tatkala dokter rumah sakit melintas dekat dengannya. Dokter Cok Sembara berbalik arah ketika berjalan di lorong rumah sakit dan meminta bantuan obat kentut.

Patiwa berhasil kentut dan dokter rumah sakit berteriak-teriak, Patiwa kentut.

Film berdurasi 90 menit dengan sederet bintang layar lebar yang sudah dikenal luas ini sarat kritik dalam penyelenggaraan pilkada. Tokoh agama mudah dimobilisasi untuk memberikan dukungan kepada seorang kandidat.

Pergi ke "orang pintar" dan mendatangkan paranormal ketika berlangsung pilkada merupakan fenomena yang sering terjadi. Belum lagi memanfaatkan pers atau wartawan untuk membentuk citra terbaik di hadapan publik.

Kerukunan beragama dimaknai untuk kepentingan seorang kandidat lantaran adanya dukungan logistik, berupa kekuatan finansial sehingga mengaburkan makna pentingnya keberagaman dalam.

Belum lagi cara berdoa yang diplesetkan, sehingga mengundang tawa penonton hingga terpingkal-pingkal.

Film ini jika dicermati mengandung kritik bagi perbaikan pilkada. Sebab, arogansi kandidat seperti yang dibawakan Deddy Mizwar sungguh merupakan kontradiktif dengan harapan masyarakat. Pihak berwajib sepertinya tak berdaya.

Karena unsur komedi lebih dikedepankan, sejatinya jika publik cerdas, maka akan mampu menilai bahwa film Kentut sesungguhnya jika direnungi punya unsur edukasi pula bagi penyelenggara pilkada.
(E001/A011)

Pewarta: Edy Supriatna Sjafei
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar