Pengamat: Pembentukan tim persiapan PLTN tepat dan strategis

Pengamat: Pembentukan tim persiapan PLTN tepat dan strategis

Ilustrasi: Peneliti mengoperasikan reaktor pengolah campuran logam tanah jarang di Laboratorium pengolahan logam tanah jarang, Gedung Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Yogyakarta, Babarsari, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (4/1). BATAN Yogyakarta menguji kesiapan Thorium hasil pengolahan limbah penambangan timah sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/pd.

Pembentukan tim persiapan pengembangan PLTN sangat tepat dan strategis untuk mempercepat penerapan PLTN di Indonesia
Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi dan energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai pembentukan tim persiapan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang dilakukan pemerintah sudah tepat dan strategis.

"Pembentukan tim persiapan pengembangan PLTN sangat tepat dan strategis untuk mempercepat penerapan PLTN di Indonesia," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Selain pembentukan tim tersebut, kata Fahmy, pemerintah juga perlu segera merevisi dokumen Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang menempatkan PLTN sebagai alternatif terakhir.

Baca juga: Pemerintah kaji lokasi PLTN di Bangka Belitung dan Kalimantan

Dia meminta pemerintah untuk mengubah peruntukan nuklir menjadi prioritas energi primer pembangkit listrik di Indonesia.

"Negara kepulauan terbesar, seperti Indonesia sangat membutuhkan PLTN, lantaran PLTN menghasilkan listrik energi bersih yang masif," ujarnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa potensi uranium yang dimiliki Indonesia dapat memungkinkan listrik yang dihasilkan dari PLTN bisa lebih murah dibandingkan energi fosil.

Baca juga: Pakar: Nuklir jamin keamanan energi dan dukung energi bersih

Menurutnya, teknologi terbaru dalam bidang pembangkit listrik nuklir saat ini sudah menjamin tingkat keamanan yang tinggi, baik untuk pengolahan limbah maupun keamanan pembangkit. Bahkan teknologi PLTN yang dikembangkan Rusia sudah bisa mencapai kecelakaan nihil.

"Kalau mendasarkan pada RUEN, PLTN tidak sesuai dengan misi Indonesia karena menempatkan PLTN sebagai pilihan terakhir. Agar PLTN sesuai dengan misi Indonesia, RUEN harus direvisi dengan menempatkan PLTN sebagai prioritas utama penggunaan energi bersih di Indonesia," jelas Fahmy.

Baca juga: Kementerian ESDM bentuk tim persiapan pengembangan PLTN

 

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar